Kesesuaian Konfusianisme dan Hukum
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Awalnya aneh untuk bertanya apakah Konfusianisme kompatibel dengan sistem hukum. Pemikiran Konfusianisme telah hidup berdampingan dengan sistem hukum Tiongkok di berbagai dinasti dalam sejarah panjang Tiongkok. Namun demikian, terlepas dari hukum ekstensif yang dibanggakan Tiongkok, pemikiran hukum tradisional Tiongkok biasanya tidak diakui sebagai sistem aturan hukum yang asli, mengingat fokusnya pada pengembangan moral dan "aturan manusia." Dalam esai ini, kami berpendapat bahwa Konfusianisme, khususnya Konfusianisme Pra-Qin, kompatibel dengan aturan hukum. Kami memeriksa berbagai model kompatibilitas, termasuk "kompatibilisme lunak" di mana kami memeriksa apakah konsep abstrak antara Konfusianisme dan sistem hukum kompatibel, serta koeksistensi dan mengintegrasikan kompatibilisme. Kompatibilisme yang hidup berdampingan melihat Konfusianisme dan hukum menempati bidang yang berbeda dalam sistem hukum yang sama sementara mengintegrasikan kompatibilisme melihat Konfusianisme dan hukum bersatu menjadi sistem baru. Dengan cara ini, Konfusianisme menawarkan Cina suatu alternatif terhadap teori hukum demokrasi liberal dan Marxis. Bagi pengacara dan filsuf hukum Tiongkok abad ke-20, John CH Wu, pemikiran hukum Tiongkok didominasi oleh konsepsi hukum yang “terbelakang dan stagnan” yang disebabkan oleh pengabdian kepada filsafat moral Konfusianisme yang terbatas. Hukum, bagi Dr. Wu, setidaknya pada saat itu, tidak dapat tumbuh dari moralitas.
Otoritas politik dan perlawanan terhadap ketidakadilan: Perspektif Konfusianisme
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Mereka yang menanggung beban ketidakadilan dan penindasan berhak untuk bertindak dengan cara yang bertentangan dengan hukum dan lembaga yang ada untuk mengamankan hak mereka sendiri dan orang lain. Artikel ini bertujuan untuk mengartikulasikan perspektif Konfusianisme tentang perlawanan terhadap ketidakadilan. Ada alasan untuk berpikir bahwa gagasan perlawanan pada dasarnya bertentangan dengan pemikiran politik Konfusianisme. Dalam artikel ini, saya bergerak melampaui model konflik/kesesuaian sederhana ini dan mengeksplorasi hubungan yang kompleks antara perlawanan dan Konfusianisme. Di satu sisi, beberapa komitmen inti Konfusianisme dapat dicapai dengan lebih baik dalam masyarakat kontemporer dengan mengizinkan perlawanan; di sisi lain, perspektif Konfusianisme dapat menawarkan wawasan ke dalam diskusi terkini tentang etika perlawanan. Analects 14.31 Dalam bagian ini, Konfusius menyarankan bahwa apa yang harus dilakukan oleh orang yang bermoral baik bergantung pada keadaan, seperti apakah Jalan berlaku dalam keadaannya. Dalam terminologi Rawlsian, ini adalah pertanyaan untuk teori keadilan yang tidak ideal, pertanyaan tentang apa yang boleh dilakukan individu dalam keadaan yang tidak adil. Jelas sekali,bahkan dalam keadaan yang tidak menguntungkan, seorang pria terhormat (jun zi) harus menahan diri dari secara aktif berkontribusi terhadap ketidakadilan, dan karenanya memalukan untuk melayani rezim yang tidak adil hanya untuk alasan yang mementingkan diri sendiri (Analects 14.1). Meskipun demikian, Analects tidak memberikan jawaban yang seragam mengenai bagaimana seorang pria terhormat harus bertindak dalam keadaan yang tidak adil.
Junzi Memiliki Kecakapan
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Nabi bersabda,” Seorang Junzi susah kalau tidak mempunyai kecakapan, tetapi, tidak susah bila orang la8n tidak mau mengenalnya.” (Lun Yu XV : 19). 1. Fokus Seorang Junzi: Membina Diri, Bukan Mengejar Pengakuan. Konfusius menekankan bahwa seorang Junzi (君子) yakni manusia luhur dan bermoral tinggi, tidak menjadikan pengakuan orang lain sebagai ukuran nilai dirinya. Ia tidak risau jika namanya tidak dikenal, jasanya tidak dipuji, atau keberadaannya tidak populer. Yang membuat Junzi merasa “susah” hanyalah jika dirinya belum cukup berbudi, belum terampil, belum memiliki kapasitas dan kemampuan, belum mampu menjalankan Dao (道 – Jalan Suci). Karena bagi Junzi, nilai sejati bukanlah ketenaran, tetapi kecakapan, kompetensi dan kualitas batin (Ongky,Mengukur Kualitas Diri,10 August 2021, www.spocjournal.com). Ini berbeda dari Xiao Ren (小人) yakni orang rendah budi yang sibuk mengejar pengakuan, pujian, dan status, tetapi sering melalaikan pengembangan diri, lupa belajar dan dilatih. 2. Kecakapan yang Dimaksud: Bukan Sekadar Keterampilan Teknis Kata “kecakapan” (cai 才 atau neng 能) dalam konteks ini tidak hanya berarti keahlian teknis atau kepandaian praktis. Dalam ajaran Ru (Rujiao), kecakapan seorang Junzi mencakup: a. 德 (Dé) Kebajikan moral: mampu membedakan benar dan salah, bertindak adil, penuh kasih (Ren), dan berani (Yong) sesuai Zhi (kebijaksanaan). Istilah 德 (Dé) adalah salah satu pilar paling penting dalam ajaran Khonghucu. Ia bukan sekadar “kebajikan” secara umum, tetapi merupakan inti kekuatan moral batiniah yang memancar dari watak sejati (性 – Xìng) dan memandu seluruh perilaku manusia.
Mengenal Xing Akan Mengenal Tian Yang Maha Esa
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Yang benar- benar dapat menyelami hati, akan mengenal Xing (Watak Sejati), yang mengenal Watak Sejatinya akan mengenal Tian YME.” (Mengzi VII A; 1). Ayat Mengzi VII A:1 ini merupakan salah satu pernyataan paling mendalam tentang hubungan manusia, Watak Sejati (性 Xìng), dan Tian (天 – Tuhan Yang Maha Esa). Mari kita uraikan secara menyeluruh: 1. “Yang benar-benar dapat menyelami hati…” Frasa ini menunjukkan tahap pertama perjalanan spiritual dan moral manusia, yaitu menyelami hati (心 xīn). Dalam ajaran Rujiao (儒教), hati bukan hanya pusat perasaan, tetapi juga pusat kesadaran moral, akal budi, dan nurani yang dianugerahkan Tian. Menyelami hati berarti: Mengenal dorongan terdalam dari perasaan cinta, empati, dan rasa benar–salah yang alami. Melampaui permukaan emosi sesaat untuk melihat hakikat batin terdalam yang murni dan suci. Melatih diri untuk jujur terhadap suara hati yang paling sejati (liangzhi 良知). Dengan kata lain, langkah pertama menuju kebijaksanaan adalah mengintrospeksi hati secara mendalam hingga tidak tertipu oleh nafsu dan ego. 2. “…akan mengenal Xing (性 – Watak Sejati)” Xing adalah fitrah atau kodrat bawaan dari Tian yang ada dalam diri setiap manusia. Ia bukan hasil belajar, melainkan benih moral yang sudah tertanam sejak lahir: cinta kasih (Ren 仁), kebenaran (Yi 義), kesusilaan (Li 禮), dan kebijaksanaan (Zhi 智). Mengzi berkata di tempat lain:「人之性善也。」– “Watak sejati manusia itu baik.” (孟子 Mengzi VI A:2). Maka, ketika seseorang berhasil menyelami hatinya, ia akan menemukan bahwa pada dasarnya dirinya adalah baik, penuh kebajikan, dan diarahkan menuju kebaikan. Inilah inti xing. Mengenal xing berarti menyadari: Bahwa sifat cinta kasih bukan berasal dari luar, tapi tumbuh dari dalam diri.
Iman dan Sadar
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Ayat ini adalah salah satu pernyataan paling filosofis dalam seluruh Zhong Yong (中庸) karena menguraikan hubungan yang sangat halus antara Cheng 誠 (ketulusan sejati), Xing 性 (Watak Sejati manusia), dan Jiao 教 (agama/pengajaran jalan suci). Mari kita bedah lapis demi lapis: 1 Penjelasan Teks Asli: Dua Jalan yang Berujung pada Kesempurnaan Ayatnya berbunyi:「由誠明者,性之端也;由明誠者,道之成也。誠則明矣,明則誠矣。“Orang yang oleh Cheng lalu sadar, dinamai hasil perbuatan Watak Sejati (Xing). Dan orang yang karena sadar lalu beroleh Cheng, dinamai hasil mengikuti agama (Jiao). Maka Cheng itu menjadikan orang sadar, dan kesadaran itu menjadikan orang beroleh Iman.” Artinya ada dua jalan spiritual yang sama-sama menuju kesempurnaan: Dari Cheng menuju kesadaran → Xing (性): 1. Seseorang yang hatinya murni, tulus, sejati, maka dari ketulusannya itu ia akan “tercerahkan” dan sadar akan kebenaran. Ini adalah jalannya para Shen 圣 (orang suci), ia hidup selaras dengan Tian sejak awal, seperti matahari yang bersinar karena hakikatnya memang cahaya. Tafsir menurut Dr.Ongky SK bahwa melalui Cheng orang sadar adalah perbuatan Xing (Watak Sejati) adalah pencerahan didapatkan dari Iman suatu keyakinan terdalam seseorang. Dengan keyakinan orang mendapatkan pencerahan Iman. 2. Dari kesadaran menuju Cheng → Jiao (教): Seseorang belajar, berpikir, sadar akan kebenaran, lalu dengan kesadaran itu ia menumbuhkan ketulusan sejatinya. Ini adalah hasil dari pendidikan dan agama. Jalan ini adalah jalannya.
Ibadah Seorang Bijak
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Berikut penjelasan mendalam dan menyeluruh tentang pengertian ibadah dalam pandangan Khonghucu (Rújiào 儒教): Dalam ajaran Khonghucu, “ibadah” (祭 jì) bukan sekadar aktivitas lahiriah berupa doa, persembahan, atau ritual. Ia adalah laku batin dan lahir untuk menyatukan manusia dengan Tian (天 – Langit/Tuhan), leluhur, dan seluruh tatanan kosmos. Ibadah adalah perwujudan kesadaran akan asal-usul kehidupan, rasa syukur, penghormatan, dan pembinaan diri. “Ibadah seorang bijak dipenuhi iman dan kepercayaan, dijalankan dengan satya dan hormat.” – Li Ji XXII: Ji Tong 1. Maka, ibadah bukanlah “meminta” sesuatu dari Tian, melainkan “menata diri agar selaras dengan kehendak Tian”. Jika sudah bisa menata didi dan selaras dengan kehendak Tian, maka berkah dan pahala akan datang sendiri meski tidak diminta. Konsep tertinggi dalam Rújiào adalah Tian (天) sebagai prinsip tertinggi, Sumber kehidupan, moralitas, dan keteraturan alam semesta. Ibadah adalah jalan manusia untuk bersekutu kembali dengan Tian melalui keikhlasan, kesungguhan, dan tata yang benar (禮 lǐ). Dengan iman (信 xìn), manusia percaya dan bergantung kepada Tian. Dengan satya (忠 zhōng), manusia mengabdi sepenuh hati. Dengan hormat (敬 jìng), manusia menundukkan diri dan menyadari kebesaran Tian. Dengan tata ibadah (禮 lǐ), semua itu diwujudkan dalam tindakan nyata. Dan hasilnya adalah harmoni (和 hé) yakni keselarasan antara langit, manusia, dan bumi.
Tahapan Moralitas Manusia
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Ayat dari Mengzi VII:25 (孟子・盡心章句) yang Anda kutip merupakan salah satu ajaran terdalam dalam filsafat Ru (儒, Konfusianisme), karena didalamnya tergambar jenjang perkembangan moral manusia dari yang paling dasar hingga mencapai tingkat kenabian dan sifat shen (神) yaitu kebajikan yang melampaui ukuran manusia biasa. Dalam hal ini manusia sebenarnya sifatnya sudah dekat dengan Tian, Tuhan YME. Hal ini tidak boleh dikatakan manusia itu sebagai Tuhan. Manusia yang sifatnya melebihi Nabi adalah dekat dengan Tuhan, artinya manunggal dengan Tuhan. Tuhan ada sendiri, manusia ada sendiri keberadaannya. Mari kita telaah secara mendalam tahap demi tahapnya: "Baik: orang yang keinginannya memang layak dinamakan baik." Ini adalah titik awal pembinaan diri. “Baik” di sini bukan hanya tindakan moral sesaat, tetapi keinginan batin (yu 欲) yang terarah pada kebaikan sejati. Dalam filsafat Mengzi, keinginan yang baik muncul dari Xing 性 – watak sejati manusia yang telah dianugerahkan Tian (天). Jadi menuju baik adalah menuju pada karakter Ren Yi Li Zhi. Dalam hal ini orang yang sampai tahap ini berkehendak melakukan kebaikan, meski belum sepenuhnya konsisten. Sudah melakukan kebaikan tapi belum mencapai pada kesempurnaan. Masih ada sifat aliah manusia yakni suatu kesalahan kesalahan atau khilaf. Namun demikian manusia menyadari bahwa hidup harus tetap diarahkan kepada kebajikan (Ren 仁), kebenaran (Yi 義), kesusilaan (Li 禮), dan kebijaksanaan (Zhi 智). Ia masih belajar mengendalikan nafsu rendah dan menyelaraskan-nya dengan moralitas. Makna terdalam: Awal dari segala kebajikan bukanlah tindakan besar, melainkan kehendak hati yang tulus menuju kebaikan.
Junzi Mengutamakan Jalan Suci
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Ayat Lun Yu XV:32 ini merupakan salah satu sabda penting Nabi Kongzi (Confucius) tentang prioritas hidup seorang Junzi (君子) yakni manusia berbudi luhur yang hidupnya berlandaskan Dao (道, Jalan Suci). Berikut penjelasan yang mendalam dan menyeluruh: “Seorang Junzi mengutamakan Jalan Suci, tidak mengutamakan soal makan. Orang bercocok tanam mungkin masih dapat kelaparan; orang belajar mungkin juga mendapatkan kedudukan. Seorang Junzi susah tidak dapat hidup dalam Jalan Suci, tidak susah karena miskin.” — Lun Yu XV:32. Sabda ini muncul ketika murid-murid bertanya tentang bagaimana menghadapi kemiskinan dan kesulitan hidup. Nabi menjawab bahwa fokus seorang Junzi tidak boleh pada urusan perut dan kekayaan, melainkan pada bagaimana ia hidup sesuai dengan Dao (道) kebenaran dan kebajikan yang menjadi jalan hidup manusia sejati. Nabi menekankan bahwa prioritas tertinggi seorang Junzi adalah menjalankan Jalan Suci, bukan sekadar mencari nafkah. Ini bukan berarti makan dan kebutuhan hidup tidak penting, melainkan: Makan adalah kebutuhan jasmani; tanpa makan, manusia tidak bisa hidup. Tetapi Dao adalah kebutuhan rohani; tanpa Dao, hidup manusia kehilangan arah dan makna.
Konfusianisme dan Seni Manajemen Tiongkok
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Tiongkok telah menjadi kekuatan pendorong dalam ekonomi dunia, namun perbedaan budaya Timur-Barat tetap menjadi area masalah bagi banyak manajer. Makalah ini meneliti pentingnya Konfusianisme dalam membentuk nilai-nilai sosial di Tiongkok dan bagaimana nilai-nilai ini telah mempengaruhi gaya manajemen Tiongkok. Prinsip-prinsip Konfusianisme diekstraksi dari literatur yang ada dan digunakan untuk menjelaskan dasar-dasar budaya pola kepemimpinan Tiongkok, perilaku interpersonal, dan nilai-nilai individu. Pengaruh Konfusianisme yang bertahan lama di seluruh budaya Tiongkok merupakan faktor utama dalam perlawanan Tiongkok terhadap praktik manajemen Barat. Ada juga bukti bahwa prinsip-prinsip Konfusianisme arus utama yang menekankan kerja sama tim, hubungan, dan budaya perusahaan yang kuat semakin populer di Barat. Peneliti Barat di masa depan harus lebih memperhatikan filosofi Asia Timur dan agama-agama berbasis Asia dalam upaya mereka untuk memahami gaya hidup dan metode manajemen non-Kristen. Tiongkok telah muncul sebagai raksasa ekonomi Asia dan ekonomi dunia pada abad ke-21. Tiongkok telah menarik sekitar $450 miliar investasi asing langsung, 90 persen diantaranya terjadi setelah 1990 (Laporan Investasi Dunia 2005). Surplus perdagangannya ke Amerika Serikat pada 2005 mencapai lebih dari $200 miliar. Di tengah ekonomi dunia yang dilanda ketidakpastian perang dan ketidakstabilan politik di Timur Tengah, Tiongkok telah muncul sebagai kekuatan ekonomi di Asia dan dunia.






















































