Teraturnya Negara Damai Dunia Bagian 2
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Di dalam Kitab Kerajaan Chu tertulis, "Negeri Chu tidak memandang suatu benda sebagai mestika, hanya Kebaikan sajalah yang dipandang sebagai mestika. Kutipan dari Kitab Kerajaan Chu: “Negeri Chu tidak memandang suatu benda sebagai mestika, hanya Kebaikan sajalah yang dipandang sebagai mestika.” Mestika (宝 / Bao) biasanya berarti permata, harta, atau benda berharga. Dalam kutipan ini, ditegaskan bahwa Negeri Chu tidak menjadikan benda materi sebagai ukuran kemuliaan, melainkan Kebaikan (德 / De) yang dianggap sebagai permata sejati. Artinya: nilai tertinggi suatu negeri tidak terletak pada kekayaan lahiriahnya, tetapi pada kualitas moral rakyat dan pemimpinnya. Meskipun sumber daya alamnya berlimpah, tetapi mental dan moralitas bangsanya memiliki jiwa korupsi, tentu negara itu tidak memiliki mental yang baik. Akibatnya negaranya meski kaya rakyatnya tetap miskin, korupsi merajalela dimana- mana. Kebajikan (De) adalah sumber kemakmuran yang sejati: Kekayaan bisa hilang, permata bisa dicuri, tetapi kebajikan akan melekat pada diri seseorang dan memberi pengaruh abadi. Maka bila seseorang menanamkan Kebajikan kepada anak anaknya, ilmunya tidak akan habis. Warisan kebajikan adalah warisan ilmu yang bermanfaat untuk masa depan anak. Ketimbang anak diwarisi kekayaan yang bisa habis tidak karuan. Dalam tradisi Konfusianisme, De adalah dasar legitimasi dan keberlangsungan sebuah negara. Tanpa kebajikan, harta yang melimpah tidak akan membawa kebahagiaan atau ketenteraman.
Teraturnya Negara Damai Dunia Bagian 1
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Adapun yang dikatakan 'damai di dunia itu berpangkal pada teraturnya negara' ialah: Bila para pemimpin dapat hormat kepada yang lanjut usia, niscaya rakyat bangun rasa baktinya; bila para pemimpin dapat berendah hati kepada atasannya, niscaya rakyat bangun rasa rendah hatinya, bila para pemimpin dapat berlaku kasih dan memperhatikan anak yatim piatu, niscaya rakyat tidak mau ketinggalan. Itulah sebabnya seorang Jun Zi mempunyai Jalan Suci yang bersifat siku (Da Xue X : 1). Makna ayat Bab X Da Xue ini: Kalimat ini menegaskan bahwa perdamaian dunia (天下平, tian xia ping) tidak dapat berdiri tanpa tertibnya negara. Dan negara hanya tertib bila pemimpin memberi teladan moral yang nyata. Pemimpin yang baik akan menjadi teladan rakyat untuk bisa membangun kedamaian dan keharmonisan masyarakatnya. Keteladanan itu bisa ditunjukkan oleh pemimpin dalam memperhatikan pada orang tuanya. Orang tua yang diperhatikan pemimpin akan ditiru rakyatnya untuk juga berbakti kepada pemimpinnya. Hormat pada orang tua → menumbuhkan rasa Xiao (孝, bakti) rakyat. Meskipun kata kata ini sangat sederhana, tetapi proses terbentuknya karakter pemimpin yang bisa xiao(berbakti) kepada orang tua membutuhkan pendidikan panjang sejak ketika masih kecil. Masyarakat Khonghucu telah menjadikan xiao sebagai budaya hidup dalam masyarakat dan menjadi kewajiban bagi setiap manusia. Mereka akan malu jika tidak bisa berbuat xiao kepada orang tuanya. Bahkan bisa jadi orang yang tidak xiao akan dikucilkan dalam masyarakat.
Membereskan Rumah Tangga Mengatur Negara
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Adapun yang dikatakan 'untuk mengatur Negara harus lebih dahulu membereskan rumah tangga' itu ialah: tidak dapat mendidik keluarga sendiri tetapi dapat mendidik orang lain itulah hal yang takkan terjadi. Maka seorang Jun Zi biar tidak keluar rumah, dapat menyempurnakan pendidikan di negaranya. Dengan berbakti kepada ayah bunda, ia turut mengabdi kepada raja; dengan bersikap rendah hati, ia turut mengabdi kepada atasannya; dan dengan bersikap kasih sayang, ia turut mengatur masyarakatnya (Da Xue IX : 1 , hal 14). Di dalam Kang Gao tertulis, "Berlakulah seumpama merawat bayi," (Shu Jing V.9.9). bila dengan sebulat hati mengusahakannya, meski tidak tepat benar, niscaya tidak jauh dari yang seharusnya. Sesungguhnya tiada yang harus lebih dahulu belajar merawat bayi baru boleh menikah (Da Xue IX : 2, hal 14). Bila dalam keluarga saling mengasihi niscaya seluruh Negara akan di dalam Cinta Kasih. Bila dalam tiap keluarga saling mengalah, niscaya seluruh Negara akan di dalam suasana saling mengalah. Tetapi bilamana orang tamak dan curang, niscaya seluruh Negara akan terjerumus ke dalam kekalutan; demikianlah semua itu berperan. Maka dikatakan, sepatah kata dapat merusak perkara dan satu orang dapat berperan menentramkan Negara. (Lun Yu ΧΧ:1.5;II.2)(,(Da Xue : 3, hal 14) Yao dan Shun dengan Cinta Kasih memerintah dunia, maka rakyatpun mengikutinya. Jie dan Zhou dengan kebuasan memerintah dunia, maka rakyatpun mengikutinya.Perintah yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat, rakyat takkan menurut, maka seorang Jun Zi lebih dahulu menuntut diri sendiri, baharu kemudian mengharap dari orang lain.
Meluruskan Hati Membina Diri
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Adapun yang dinamai 'untuk membina diri harus lebih dahulu meluruskan hari' itu ialah: diri yang diliputi geram dan marah, tidak dapat berbuat lurus; yang diliputi takut dan khawatir tidak dapat berbuat lurus, yang diliputi suka dan gemar, tidak dapat berbuat lurus, dan yang diliputi sedih dan sesal, tidak dapat berbuat lurus (Da Xue VII : 1, hal 12). Hati yang tidak pada tempatnya, sekalipun melihat takkan tampak, meski mendengar takkan terdengar dan meski makan takkan merasakan(Da Xue VII : 2, hal 13). Inilah sebabnya dikatakan, bahwa untuk membina diri itu berpangkal pada meluruskan hati (Da Xue VII : 3 hal 13). Berikut penjelasan ringkas-menyeluruh tentang “meluruskan hati (正心, zhèng xīn)” pada Da Xue VII:1–3, beserta implikasi praktiknya. 1) Mengapa emosi yang “menguasai” membuat kita “tidak lurus” (VII:1). Dalam kerangka Da Xue, hati (心, xīn) adalah pusat nalar-rasa: tempat keputusan moral dibentuk. Ketika hati “diliputi” emosi, ukuran (度) dan kepatuhannya (义-礼) goyah, sehingga penilaian dan tindakan melenceng. Seorang yang emosi, maka pertimbangannya tidak rasional sehingga tidak bisa dijadikan patokan tepat. Empat contoh dalam teks menjelaskan empat distorsi: Marah/geram (怒) → fokus menyempit, mudah melampaui batas; cenderung membalas, bukan menimbang. Orang dalam kondisi marah/ geram bisa jadi tidak memiliki pertimbangan baik dalam pikirannya. Jauh dari rasional sehingga pandangannya bisa jadi kurang akurat. Penawarnya: 敬 (kejernihan hormat), 恕 (empati), jeda nafas sebelum respon (Ongky, Memahami Emosi, 10 Oktober 2012, www.spocjournal.com).
Rumah Tuhan Ada dalam Hati (Xin / 心)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Banyak orang beranggapan bahwa mereka-mereka yang pekerjaannya hanya sembahyang saja, ritual kepada Tuhan YME, merekalah yang akan menghuni rumah Tuhan? Apakah nilai seseorang diukur dari persembayangannya atau ibadahnya ? Tanpa mengurangi nilai ibadah, bahwa ibadah itu memang diperlukan. Namun hal itu bukan hal utama. Ada hal yang penting dimata Tuhan, Tian YME. Jalan menuju Tuhan adalah kuncinya perbuatan baik atau De (Kebajikan). Hidup di puncak baik (Zhi Shan) (Ongky, 01 Oktober 2025, www.spocjournal.com). Berhenti pada Puncak Kebajikan (止於至善, Zhi Yu Zhi Shan) memiliki makna: tujuan akhir adalah Zhishan “kebaikan yang tertinggi”. Artinya: semua usaha manusia (baik dalam mendidik diri, membimbing keluarga, maupun memerintah negara) harus mengarah kepada kebaikan yang paling murni dan sempurna atau mencapai titik kesempurnaan. Dititik inilah maka terjadi Kedekatan dengan Tuhan: tercapai bila manusia hidup sepenuhnya sesuai dengan Dao, sehingga ia selaras dengan Mandat Langit (Tian Ming). Menjadi manusia yang manunggal dengan Tian YME, hidup Le Tian yakni bahagia bersama Tuhan. Inilah surga kaum Rujiao. Untuk itulah maka Kebajikan itu menjadi kunci utama sekaligus modal untuk manusia bisa menata kehidupan dengan baik dalam rangka mencari signal dengan Tuhan. Artinya bahwa tidak ada jalan lain kecuali manusia harus menyamakan irama Tuhan dengan iramanya. Signal Tuhan atau frekuensi Tuhan harus disamakan dengan frekuensi manusia. Jika frekuensi manusia sesuai dengan Tuhan, tentunya pasti manusia telah mampu mendorong dirinya untuk berbuat dan bertindak cinta, sebaliknya bila frekuensi manusia jauh dari frekuensi Tuhan maka bisa dipastikan manusia tidak menjalankan cinta dengan sebenarnya karena Tuhan, Tian YME menjadikan cinta (Kasih Sayang) sebagai bentuk kesesuaian frekuensi manusia dengan Tuhannya
Mengimankan Tekad
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Adapun yang dinamai mengimankan tekad itu ialah tidak mendustai diri sendiri, yakni sebagai membenci bau busuk dan menyukai keelokan. Inilah yang dinamai bahagia di dalam diri sejati. Maka seorang Jun Zi sangat hati-hati pada waktu seorang diri ( Da Xue VI: 1, hal 11) Seorang rendah budi (Xiao Ren) pada saat terluang dan menyendiri suka berbuat hal-hal yang tidak baik dengan tanpa mengenal batas. Bila saat itu terlihat oleh seorang Jun Zi, ia mencoba menyembunyikan perbuatannya yang tidak baik itu dan berusaha memperlihatkan kebaikannya. Tetapi bila orang mau memperhatikannya baik-baik, niscaya dapat melihat terang isi hati dan perutnya. Maka apakah gunanya perbuatan palsu itu? Inilah yang dinamai Iman yang di dalam itu akan nampak meraga di luar. Maka seorang Jun Zi sangat hati-hati pada waktu seorang diri. (Shu Jing IV.3.3)( Da Xue VI : 2, hal 12) Zeng Zi berkata, "Sepuluh mata melihat sepuluh tangan menunjuk, tidaklah itu menakutkan!" ( Da Xue VI : 3, hal 12) Harta benda dapat menghias rumah, laku bajik menghias diri; hati yang lapang itu akan membawa tubuh kita sehat. Maka seorang Jun Zi senantiasa mengimankan tekadnya. (Meng Zi VII: 21.4)( Da Xue VI: 4, hal 12). Baik, mari kita uraikan keempat ayat Da Xue VI:1–4 secara mendalam, karena semuanya membentuk satu rangkaian ajaran tentang iman (xin 信), ketulusan batin, dan kewaspadaan seorang Junzi. “Adapun yang dinamai mengimankan tekad itu ialah tidak mendustai diri sendiri, yakni sebagai membenci bau busuk dan menyukai keelokan. Inilah yang dinamai bahagia di dalam diri sejati. Maka seorang Junzi sangat hati-hati pada waktu seorang diri.”
Memahami Pasal - Pasal Tentang Kehidupan Beragama dalam KUHP Yang Baru
Oleh : Ws. Sofyan Jimmy Yosadi, SH.

Hukum pidana pada hakikatnya adalah instrumen negara untuk menjaga ketertiban, melindungi kepentingan umum, serta menegaskan kedaulatan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru telah berlaku sejak tanggal 2 Januari 2026. KUHP yang baru ini merupakan Revisi KUHP peninggalan kolonial Belanda Wetboek van Strafrecht (WvS) yang ditandatangani Presiden Republik Indonesia pada tanggal 3 Januari 2023 dengan masa tenggat 3 tahun untuk mulai berlaku KUHP yang baru Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 1. Berbarengan dengan itu berlaku pula Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP, Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2025 Nomor 188. Dalam KUHP yang baru ini terdapat pasal-pasal yang secara khusus membahas tentang kehidupan beragama di masyarakat, yakni pada pasal 300–305 . Oleh karena itu, pemberlakuan KUHP yang baru ini akan membawa perubahan signifikan kepada lanskap hukum yang turut melatari kehidupan beragama (dan antaragama) dan isu kebebasan beragama atau berkeyakinan (KBB) di Indonesia. Jika melihat perubahan penting dalam lintasan sejarahnya, Pandangan tahun 1960-an memprioritaskan perlindungan pada “agama” itu sendiri, yang mengarah pada usulan “delik-delik agama” yang spesifik.
Meneliti Hakikat Tiap Perkara
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Demikianlah yang dinamai mengetahui pangkal dan demikian pulalah yang dinamai memperoleh pengetahuan yang sempurna. (Bab V yang menerangkan hal 'meneliti hakikat tiap perkara' ini sudah hilang, maka disini dipetikkan buah tulisan Cheng Zi yang boleh menggantikan bagian itu). "Adapun yang dinamai meluaskan pengetahuan dengan meneliti hakikat tiap perkara itu ialah: Bila kita hendak meluaskan pengetahuan, kita harus meneliti Hukum (Li) sembarang hal sampai sedalam-dalamnya. Oleh karena manusia itu mempunyai kekuatan batin, sudah selayaknya tidak ada hal yang tidak dapat diketahui; selain itu juga karena setiap hal di dunia ini sudah mempunyai Hukum tertentu. Tetapi kalau kita belum dapat mengetahui Hukum itu sedalam-dalamnya, itulah karena kita belum sekuat tenaga menggunakan kecerdasan. Maka Kitab Da Xue itu mula-mula mengajarkan kita yang hendak belajar, supaya dapat menyelami dalam-dalam segala hal ihwal di dunia ini. Seorang yang mempunyai pengetahuan Hukum itu sedalam-dalamnya, akan menjadikan ia sanggup mencapai puncak kesempurnaan. Bila kita dengan sepenuh tenaga mempelajarinya, niscaya pada suatu pagi walaupun mungkin lama kita akan memperoleh kesadaran bathin yang menjalin dan menembusi segala-galanya. Di situ akan kita lihat semuanya luar dan dalam, halus dan kasar sehingga tiada sesuatupun yang tidak terjangkau. Demikianlah bathin kita telah sepenuhnya digunakan sehingga tiada sesuatu yang tidak terang. Demikianlah yang dinamai mengetahui pangkal, dan demikianlah pula yang dinamai memperoleh pengetahuan yang sempurna."(Da Xue V : 1, hal 11).
Liangzhi (良知) dan Pikiran Bawah Sadar
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Pikiran bawah sadar menyimpan pengalaman, emosi, pola kebiasaan, ingatan implisit, asosiasi cepat, bekerja otomatis, cepat, dan sering tanpa kita sadari. Pikiran bawah sadar itu ibaratnya sumber informasi hasil dari perjalanan hidup yang disimpan dalam otak kanan manusia. Banyak ahli jiwa percaya bahwa kita bisa lebih banyak mengakses pikiran bawah sadar tersebut. Banyak sekali yang merasa beruntung karena mereka dapat berbicara dengan pikiran sadarnya. Dan beberapa orang merasa bisa melakukan tawar-menawar untuk menentukan jam bangun pagi. Dalam hal ini penulis pernah mengalaminya bahwa tanpa ada beker dan jam, setiap jam 05.00 WIB selalu bangun dan waktunya begitu mendekati tepat dimana lebih kurang 1 menit saja.Jadi tubuh itu seolah memiliki jam yang tepat. Dalam kontek diatas, Siregar mengatakan bahwa,” Pikiran bawah sadar secara fisik di otak kanan dan berfungsi mengakses dan menyimpan data-data berupa kebiasaan atau refleks, kepribadian, persepsi, imajinasi, visi, kreatifitas, keyakinan dan nilai-nilai permanen(value), fungsi-fungsi tubuh yang bekerja secara otomatis, long term memory, dan lain-lain” ( 2026 : 5). Secara umum, pikiran bawah sadar disebut juga dengan bank of memory karena disinilah letak seluruh rekaman kejadian yang pernah dialami dalam kehidupan manusia, baik secara berpikir, kata-kata, pengalaman empiris, pengalaman induktif, maupun informasi-informasi yang diterima oleh pancaindra yang tersimpan sebagai memori.






















































