spocjournal.com

Penciptaan Alam Semesta dan Manusia

Oleh: Xs. Darmadi  Slamet B.Sc.

1. Pendahuluan

Sejak kapan ada kehidupan manusia di dunia?
Sejak kapan dikenal ada kehidupan di alam semesta?
Dan bagaimana terjadinya alam semesta?
Siapa yang menciptakan dan apa tujuan kehidupan ini?

Serangkaian pertanyaan yang tentu mengundang berbagai pendapat, semua pendapat didasarkan pada disiplin ilmu  dan sudut pandang atau pun kepentingan serta sudut analisa yang berbeda dan tentu saja membuahkan hasil yang berbeda pula. Bagi umat Khonghucu meyakini bahwa alam semesta,  langit, bumi dan seisinya adalah Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana  dalam  ucapan doa

HUANG TIAN SHANG DI   (Maha Besar Tuhan Semesta Alam)
YUAN HENG LI ZHEN         (Maha Sempurna, Maha Besar, Maha Harmonis, Maha Abadi)
SHI ZUO QIAN KUN           (Diawali dengan penciptaan Langit dan Bumi)
YIN YANG BIAN HUA         (terjadinya perubahan unsur Positif dan Negatif)
PAN GU KAI TIAN               (Pan Gu, Manusia pertama membuka Cakrawala)
FEN TIAN TI REN                 (terbagilah Langit , Bumi dan Manusia)
RI YUE XING CHEN             (Matahari, Bulan dan Rasi Bintang).
DONG  XI  NAN  BEI           (Timur, Barat, Selatan dan Utara empat penjuru mata angin)

Kehidupan di dunia pun diawali dengan hadirnya manusia purba dan peradaban berkembang, hingga saat ini manusia selaku makhluk hidup berakal budi dan memiliki kecerdasan daya pikir dan kreasi yang mampu mengembangkan XING, Watak Sejati dengan benih-benih Kebajikan Karunia Tuhan yang Maha Esa.

2. Penciptaan Alam Semesta Dan Seisinya     

Tuhan Khalik Semesta Alam

Melakukan penciptaan pada saat ZHEN (Petir, Bangun)
Membereskan PekerjaanNya pada saat XUN (Angin, Lembut)
Saling berjumpa dengan Makhluk CiptaanNya pada saat LI (Api, Lekat)
Menerima persembahan pada saat KUN (Bumi, Penanggap),
Gembira menyampaikan kalam - bicaraNya pada saat DUI (Paya-paya, Gembira)
Berperang terhadap segala yang jahat pada saat QIAN (Langit),
Mencipta, Berpayah dan melepaskan lelah pada saat KAN (Air, Jurang, Bahaya) dan
Menyempurnakan kalamNya pada saat GEN (Gunung, Diam).

Berlaksa benda diciptakan pada saat ZHEN, ZHEN  itu posisinya di Timur.
Membereskan pekerjaanNya pada saat XUN, XUN itu posisinya di Tenggara, dibereskan itu bermakna bersih beresnya berlaksa benda. LI itu menyatakan terang, dengan demikian berlaksa benda  dan  makhluk saling berjumpa itulah LI yang ada di posisi Selatan. Maka Nabi menghadap ke Selatan untuk menerima laporan tentang isi bawah  langit ini mengatur semuanya dengan menghadap ke wilayah terang. KUN  itu menunjukkan Bumi, tempat dimana berlaksa benda dan makhluk  memperoleh perawatan, maka dikatakan menerima persembahan besar pada saat KUN yang posisinya terletak di Barat Daya. DUI posisinya di Barat menyatakan tepat musim GUGUR atau musim Rontok, berlaksa benda - makhluk bergembira, maka dikatakan bergembira menyampaikan kalamNya pada saat DUI. Sedangkan Berperang pada segala sesuatu yang jahat  pada saat QIAN yang posisinya di Barat Laut yang menyatakan saling bertemunya dua kekuatan YIN dan YANG. Sedangkan di posisi Utara ialah KAN pada musim Dingin segenap makhluk istirahat, pulang maka dikatakan berpayah dan melepas lelah pada saat KAN, sedangkan GEN, yang berposisi di Timur Laut menyatakan Gunung, Diam yang bermakna berlaksa benda mencapai sempurna akhir dan menjadi sempurna mula, maka dikatakan Menyempurnakan kalamNya pada saat GEN.  (Kitab YI JING - Suo Gua Pembahasan : V).

Berdasarkan hitungan TIAN GAN (Batang Langit) merupakan hitungan yang disesuaikan dengan urutan dapat dinyatakan :
Pada saat Musim Semi adalah JIA dan YI  di arah Timur, semaraknya Kebajikan pada Unsur KAYU, warnanya  adalah Hijau,
Pada saat Musim Panas adalah BING dan DING menunjuk arah Selatan, semaraknya Kebajikan pada unsur API, warna  Merah.  Yang ada tepat tengah (antara Langit, Bumi dan berbagai unsur ) adalah Tanah. Tian Gan nya adalah WU JI, semarak Kebajikan pada unsur Tanah - warna Kuning. 
Pada saat musim Gugur/Rontok Tian Gan adalah GENG dan XIN,  semarak Kebajikan pada unsur Logam warna Putih di arah Barat. 

Pada musim Dingin Tian Gan nya adalah REN dan GUI, semaraknya Kebajikan pada Unsur AIR dengan arah Utara dan warnanya adalah Hitam. (Kitab LI JI bagian YUE LING  Amanat Bulanan)

Sesungguhnya adanya manusia adalah oleh Kuasa Kebajikan Tuhan dan Bumi, oleh jalinan sifat YIN dan sifat YANG, karena berkumpulnya NYAWA dan ROH (GUI dan SHEN) dari Semangat ke Lima Unsur (Wu Xing). Tuhan mengendalikan sifat YANG menggantung Matahari dan Bintang-Bintang. Bumi mengendalikan sifat YIN memberi jalur di gunung dan sungai-sungai. Ditaburkan Lima Unsur (Kayu, Api, Tanah, Logam dan Air)  melalui Empat Musim, dan oleh geraknya yang harmonis kemudian tumbuhlah Rembulan, tiga kali lima hari menuju penuh (Ying  = Purnama) dan tiga kali lima hari menuju punah (Que = bulan baru). Gerak dari pada Lima Unsur saling mengganti dan menghabiskan. Lima Unsur itu menjadi pokok beredarnya Empat Musim yang Dua Belas Bulan itu. Maka manusia adalah hakekat bathin daripada  Tian dan Bumi dan menjadi perwujudan dari Lima Unsur. Manusia hidup menikmati berbagai rasa, memilahkan berbagai nada  dan mengenakan berbagai warna. Maka Nabi di dalam membentuk peraturan mesti berpokok kepada TIAN dan Bumi, sifat YIN dan YANG sebagai  pangkal, ke Empat Musim sebagai pegangan, Matahari dan Bintang-Bintang sebagai catatan waktu, Bulan sebagai ukuran (dalam bekerja), Nyawa dan Rokh sebagai penyerta, Lima Unsur sebagai bahan, Kesusilaan dan Kebenaran sebagai perasaan orang. Dengan berpokok kepada Tian dan Bumi, maka berbagai benda dapat diangkat daripadanya, dengan berpangkal kepada sifat YIN dan YANG, maka segala perasaan dan kecenderungan dapat dilihat, dengan berpegang kepada ke Empat Musim, maka pekerjaan dapat disaksikan. Dengan  Matahari dan Bintang sebagai catatan, maka segala pekerjaan dapat dipilahkan, dengan Bulan sebagai ukuran, maka pekerjaan itu dapat berhasil sempurna. Dengan Nyawa dan Rokh  sebagai penyerta, maka segala pekerjaan dapat lestari,  dengan Lima Unsur sebagai bahan, maka segala pekerjaan dapat didaur ulang, dengan Kesusilaan dan Kebenaran sebagai sarana maka segala pekerjaan dapat berjalan sepenuhnya.
(Kitab LI JI  VII – Li Yun  III  : 1 – 9)

Satu YIN dan satu YANG itulah yang dinamai Jalan Suci, yang berkesinambungan itulah baik, yang menyempurnakan itulah Watak Sejati (Kitab YI JING  Babaran Agung IV. 24 – 25). Mengzi berkata : “Yang benar-benar dapat menyelami hati  akan mengenal Watak Sejatinya, yang mengenal Watak Sejatinya akan mengenal TUHAN YME, menjaga hati, merawat Watak Sejati, demikianlah mengabdi kepada Tuhan YME. Tentang usia pendek  atau panjang, jangan  bimbangkan. Siaplah dengan membina diri. Demikianlah menegakkan Firman.  Tiada sesuatu yang bukan karena Firman, maka terimalah itu dengan taat di dalam kelurusan” (Mengzi VII A :  1 dan 2). Maka Firman Tuhanlah yang menjadikan Alam Semesta dan segenap isinya.

 

 3. Hidup Manusia Di Dunia 

Adanya  Kehidupan manusia di dunia adalah Firman Tuhan.
Manusia difirmankan Tuhan Yang Maha Esa hidup dan dihadirkan di dunia ini lewat ayah-bunda dan leluhurnya, jadi hidup manusia adalah mengemban Firman Tuhan.
Firman Tuhan itulah dinamai Watak Sejati,
Hidup mengikuti Watak Sejati itulah dinamai menempuh Jalan Suci.
Bimbingan untuk menempuh Jalan Suci itulah dinamai  Agama
(Tengah Sempurna Bab Utama : 1)

Manusia yang pada garis besar dapat dikatakan terdiri atas Rokh dan Badan Kasar
Qi (Semangat) itulah wujud berkembangnya SHEN (Rokh) dan
PO (Jasad atau Badan Kasar) itulah wujud berkembangnya GUI (Nyawa)
Berpadu harmonisnya Gui dan Shen itulah tujuan tertinggi Agama.

Semua yang dilahirkan pasti mengalami kematian, yang mati pasti pulang ke tanah, inilah yang berkaitan dengan GUI (Nyawa), tulang dan daging melapuk di bawah yang bersifat YIN (Negatif) itu raib menjadi tanah di padang belantara, tetapi QI (Semangat) berkembang memancar di atas, cerah gemilang, inilah sari dari pada beratus Zat, perwujudan dari pada SHEN
(LI JI XXI  Ji Yi  II, 1).

Manusia sejak jaman dahulu kala selalu mendambakan kehidupan yang lebih baik, baik itu taraf kehidupan berupa kemajuan budaya, ilmu pengetahuan, tekhnologi maupun kwalitas kehidupan kemajuan berbagai bidang yang mendorong manusia selaku makhluk yang cerdas berupaya memperpanjang usia, hal tersebut dapat terjadi dengan peningkatan kwalitas hidup dan sarana medis serta pengetahuan yang mengatur perawatan tubuh, tetapi bagaimanapun tidak terlepas dari Firman, apalagi ada yang mencoba menjanjikan  kehidupan abadi, yaitu berupa tekhnologi Kloning yang konon telah berhasil dalam uji coba pada Domba, dapat dibayangkan dari kakek, bapak dan cucu semuanya memiliki bentuk wajah dan postur yang sama, apa mungkin?

Semua yang hidup di antara langit dan bumi ini, seluruhnya disebut Firman (Ming), kematian berlaksa makhluk itu disebut Peleburan, tetapi manusia mati disebut berada di alam GUI (Nyawa)
(LI JI  XX  Ji Fa, 4)

Manusia, alam dan makhluk hidup lainnya terikat oleh hukum alam yang adalah juga hukum Tuhan (TIAN LI). Manusia diciptakan Tuhan dengan FirmanNya dan dihadirkan di dunia lewat ayah bunda dalam bentuk jasmani, sedangkan dalam bentuk Rohani Firman Tuhan itulah yang menjadi Watak Sejati atau XING yang menjadi fitrahnya, jati dirinya, hakekat hidupnya, yang mana terkandung Firman Suci yang memberikan kesadaran dan kemampuan untuk berbuat guna mewujudkan nilai-nilai luhur hidup yang wajib dijalani dan mampu berkembang selanjutnya menyadari tentang tugas dan kewajiban yang harus dikerjakan dan selanjutnya mempertanggung jawabkan kepada Tuhan sang pencipta. Xing atau Watak Sejati  mengandung benih-benih Kebajikan yang memberi kesadaran akan nilai dan norma kehidupan, kekuatan dan kemampuan menggemilangkan dan mengamalkan Kebajikan selanjutnya dikatakan sebagai CITA dan SEMANGAT.

Bagaimanakah memelihara Semangat (Qi) sebagai wujud perkembangan ROKH (Shen)? Salah seorang murid dari Mengzi  yang bernama Gong Sun Chou bertanya kepada Mengzi : “Memberanikan bertanya, bagaimanakah hal ketidakbimbangan hati Guru dan ketidakbimbangan hati Gao Zi? Gao Zi pernah berkata:

apa yang tidak dapat diterima dalam pembicaraan,
janganlah dicarikan pertimbangan pada pikiran,
apa yang  tidak dapat diterima pikiran,
janganlah dicarikan pertimbangan pada semangat,
“Hal yang tidak dapat diterima pikiran
jangan dicarikan pertimbangan pada Semangat,
ini masih boleh juga.

Tetapi hal yang tidak dapat diterima dalam pembicaraan
jangan dicarikan pertimbangan pada pikiran,
ini tidak boleh

adapun Cita itu adalah panglimanya Semangat,
dan Semangat itulah hal yang memenuhi Jasmani.
Maka Cita itulah yang utama dan  Semangat itulah yang kedua
Maka dikatakan “Pegang teguh Cita dan jangan mengumbar Semangat“ .

Tadi dikatakan “Cita itulah yang utama dan Semangat itulah yang kedua“
mengapakah dikatakan pula “Pegang teguhlah Cita itu, jangan mengumbar Semangat?”

Cita yang telah menyatu dapat menggerakkan Semangat dan Semangat yang  telah menyatu dapat menggerakkan Cita. Orang jatuh atau  berjalan cepat  itu dikarenakan Semangat, tetapi ternyata mempengaruhi gerak hati/pikiran
(Mengzi IIA : 2,9 dan 10).

Selanjutnya Gong Sun Chou bertanya lagi  :
“Memberanikan bertanya dalam hal apakah Guru lebih menang?“
dan dijawab :
“ aku mengerti makna perkataan, aku baik-baik memelihara Semangat yang menggelora“.

Memberanikan bertanya, apakah Semangat yang menggelora itu ?
“Itu sukar kukatakan, Semangat itu sangat besar dan sangat kuat. Bila dipelihara  benar-benar sehingga tidak terusakkan, ia dapat  memenuhi ruang antara langit dan bumi ini. Semangat ini adalah jodoh dan pembantu. Kebenaran dan Jalan Suci, tanpa itu akan kelaparan.   Dia tumbuh hidup karena berkumpul dengan Kebenaran yang terus menerus, bukan karena satu dua kali berbuat benar.
(Mengzi IIA : 2 : 11 – 15).

Maka manusia dijelmakan ke dunia oleh Firman Tuhan disertai benih-benih Kebajikan, wajib berbuat atau menjalani hidup mengemban Firman, sehingga WU FU (Lima Rakhmat Bahagia) menyertai, yaitu :

SHOU (Panjang usia memiliki ketahanan)
FU  (Kaya mulia)
KANG NING  (Sehat lahir batin aman tentram)
YOU HAO DE  (senantiasa menyukai Kebajikan)
KAO ZHONG MING  (Sampai akhir hayat menggenapi Firman)
(Shu Jing V, IV : 39).

 Wu Er Wu Yu, Shang Di Lin Ru    Jangan mendua hati, jangan bimbang, Tuhan menyertaimu. Zi Tian Shen Zi, Shou Fu Wu Jiang, Oleh Ridho Karunia Tuhan, diterima bahagia tanpa batas. Dengan penuh keyakinan dan menghayati hingga percaya dan menyadari  bahwa  asal muasal kehidupan manusia berasal dari Tuhan, sang Pencipta, Khalik Semesta alam, baik yang berwujud hukum, benda, atau mahluk, dari dan oleh karenaNya segenap wujud dan mahluk bermula dan berpulang  sebagai bagian proses peleburan unsur atau bagian alam semesta, daripadaNya manusia memperoleh  hidup dan sarana kehidupan, memperoleh kekuatan, kemampuan daya intelektualitas, nalar dan benih-benih Kebajikan menjadikan insan yang mampu  hidup sebagai manusia makhluk yang berakal budi, yakin Tuhanlah sumber kekuatan hidup, keluhuran budi yang mencitrakan Cipta, memiliki Rasa dan mempertahankan Karsa, sehingga Tuhanlah senantiasa pembimbing, pelindung dan penyerta kehidupan ini.

 

4. Penciptaan, Pemeliharaan Dan Peleburan Alam Semesta

Tuhan  Yang Maha Esa mengawali Penciptaan Alam Semesta dengan perwujudan Empat Sifat atau SI DE ( Empat Kebajikan Tuhan ) yaitu :

  1. YUAN  : Maha Kuasa, Maha Sempurna, Khalik Semesta Alam, yang menjadi Mula dan Berpulangnya segenap kehidupan yang mana mencakup makhluk dan benda.
  2. HENG : Yang Maha Besar, Maha Menjalin/Menembusi, Maha Indah dan Maha Luhur.
  3. LI : Maha Pemberkah, yang menjadikan orang menuai Buah Perbuatan, Maha Adil.
  4. ZHEN : Maha Kuasa, Maha Kokoh dan Maha Abadi HukumNya.

 Proses Penciptaan Alam Semesta diawali dengan WU JI yang sesungguhnya adalah juga TAI JI, disebut  WU JI artinya Mutlak Tak Ada atau Hampa.  Ada pula yang menyatakan XING ER SHANG ( Wujud di Atas ) Yang melambangkan Tuhan, Yang Maha Esa dalam sifat KeagunganNya yang jauh dari jangkauan alam pemikiran, daya tangkap panca indra maupun pengertian nalar manusia, melainkan hanya dapat dihayati dalam iman dan keyakinan manusia.

ZHU XI atau Yuan Yui ( 1130 – 1200 M ) mengartikan WU JI tidak dalam arti Hampa atau Ketidak Adaan, melainkan Sebelum benda-benda terwujud. TAI JI/ Maha Ada/Maha Kutub atau Mutlak Besar melambangkan Tuhan sebagai Titik Awal atau Titik Pusat Awal dan Berpulangnya segala sesuatu unsur kehidupan, makhluk hidup dalam proses berkesinambungan, Maha Mula, Maha Sempurna, Maha Menjalin, Maha Abadi. WU JI dikatakan sebagai Xing Er Shang ( Wujud di Atas ) yang belum hadir di dunia atau belum Berbentuk, yang mana mencakup apa saja yang belum terbentuk atau tanpa Wujud.

WANG FU ZI cendekiawan awal dinasti QING menggunakan istilah YIN ( yang artinya Tersembunyi ) untuk Wu Ji, sedangkan istilah XIAN ( Nampak/Terwujud ) dipergunakan untuk segala sesuatu yang memilik Bentuk atau Benda-Benda Kasat Mata disebut juga XING ER XIA ( bentuk di  bawah/dunia ). TAI JI adalah Tian Dao atau Jalan Suci Tuhan yang dinamai YIN dan YANG ( Yi Yin Yi Yang Zhi Wei Dao ). Satu YIN dan satu YANG itulah dinamai Jalan Suci ( Yi Jing, Babaran Agung bab V : 24 ).

Maka di dalam proses YI/Perubahan itu bermula adalah TAI JI  ( Maha Kutub ) dari padanya terbagi jadi LIANG YI ( dua unsur  yaitu YIN dan YANG ). Dari Liang Yi lahir  SI XIANG ( Empat  Peta ) dari SI XIANG lahir BA GUA ( Delapan Trigram ). Ba Gua itu memberikan uraian penjelasan penetapan adanya Rakhmat ataupun Naas  ( JI Xiong ) ataupun peringatan agar hati-hati waspada tiada khilaf. Rakhmat  dan Naas itulah yang melahirkan berbagai medan usaha besar di Alam Semesta ini  (Yi Jing Babaran Agung A Bab XI : 70 - 71)

Sebagaimana tertulis dalam kitab Tengah Sempurna,  sebagai Langit dan Bumi tiada sesuatu yang tidak didukungnya, sebagai Empat Musim saling berganti, sebagai Matahari dan Bulan saling memberi cahaya.  Berlaksa wujud terpelihara dengan tidak saling mencelakakan. Begitupun Jalan Suci terlaksana dengan tiada yang saling bertentangan. Kebajikan Langit dan Bumi yang kecil bagai air dan sungai mengalir, yang besar (SEPERTI ADA TEKS YG HILANG DISINI).. Dia membentuk dan melebur segala sesuatu. Inilah yang menjadikan kebesaran Langit dan Bumi ( Tengah Sempurna XXIX : 2, 3 ).

Sungguh Maha besar Kebajikan GUI SHEN, Tuhan yang Maha Rokh, dilihat tidak nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia.
(Tengah Sempurna XV : 1, 2)

Gerakan YIN dan YANG yang tanpa batas itulah dinamai Kekuatan yang Maha Rokh ( SHEN ) dan pergerakan tersebut dinamai YI/Perubahan, maka sungguh sangat luas dan sangat besar YI/Perubahan itu, kalau dikatakan jauh tiada batasnya, kalau dikatakan dekat, diam dan lurus tepat, kalau dikatakan mengenai hal di antara langit dan bumi, telah mencakup semuanya. Adapun QIAN/Pencipta itu diamnya Tulus murni, geraknya lurus, maka  Maha Besar menciptakan/ menumbuhkan semua. Adapun KUN ( Bumi, Penanggap ) itu diamnya mengumpulkan dan mewadahi, geraknya membuka sumber, maka luas menumbuhkan semuanya. Luas dan Besarnya menjadi Jodoh Langit dan Bumi, berubah dan menembusinya, menjadi jodoh ke Empat Musim, Kebenaran dan Kekuatan YIN dan YANG itu menjadi jodoh Matahari dan Bulan, Kebaikan YI/ PERUBAHAN  yang wajar itu menjadi jodoh dengan Puncak Kebajikan ( Babaran Agung VI :  33 - 35 )

Matahari dikatakan sebagai Sumber Kehidupan karena  sesungguhnya Matahari di angkasa jagad raya memancarkan sinar. Benih-benih dan segala makhluk di bumi dianugerahi kemampuan menyerap perpaduan unsur-unsur YIN dan YANG, yaitu menyerap sinar Matahari, unsur-unsur hara yang terkandung dalam tanah, air, hujan, embun, angin dll sebagai perwujudan dari WU XING ( Lima Unsur ) maka muncullah kehidupan, katakanlah tanaman atau pohon yang tumbuh, berbunga dan berbuah ada bagian yang layu, daun-daun yang kering, cabang ranting yang lapuk. Berguguran jatuh ke tanah. Dalam  proses Pelapukan/Peleburan, daur ulang kembali jadi tanah atau unsur-unsur hara dalam tanah, melalui Bakteri, Semut, Cacing dan juga serangga lainnya bagian dari tumbuh-tumbuhan ada yang dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan untuk kelangsungan hidup makhluk tersebut, yang mana menunjang sumber daya yang diperlukan dan tersedia di alam, sebagai sumber bahan pangan bagi manusia ataupun makhluk hidup lainnya, maka terjadilah Rantai Makanan yang mana merupakan proses yang berlangsung secara alami, terus menerus berkesinambungan maka berlangsungnya proses penciptaan, perawatan/pemeliharaan dan peleburan Alam Semesta adalah rangkaian Peristiwa yang berlangsung secara terus berkesinambungan yang mana tercakup dalam YI/PERUBAHAN. Yang mana bukan hanya pengertian dari Azas  jadi Bentuk atau perubahan Bentuk/wujud dari Benda, melainkan suatu Proses yang berjalan dari awal kehidupan,  tumbuh dan berkembang, ada sebagian yang gugur karena proses atau hukum alam, sementara ada sebagian yang bertahan, dan mulai menurunkan generasi, berkembang biak, berbudi daya untuk pengembangan yang untuk selanjutnya mampu menunjukkan eksistensi keberadaan makhluk hidup dari masa ke masa.

Chu Xi menganggap Tai Ji /Mutlak Besar sebagai azas tertinggi, tetapi bukan azas tertinggi alam semesta dan juga bukan asal mula alam semesta belaka, melainkan  lebih  jauh dan lebih luas atau lebih mendalam dimana Tai Ji/Mutlak Besar adalah azas yang  saling bersangkut paut dalam proses berlangsungnya Alam Semesta, maka dikatakan Sang Maha Rokh itulah yang dikatakan sebagai kuasa Gaib yang menciptakan berlaksa benda – makhluk ini, untuk menggerakkan berlaksa benda ini tiada yang lebih dahsyat dari pada Guntur, untuk menebarkan berlaksa benda ini tiada yang lebih hebat dari pada Angin, untuk mengeringkan/membakar berlaksa benda ini tidak ada yang lebih memanggang dari pada Api, untuk memberi kegembiraan berlaksa benda - mahluk ini, tiada yang lebih menyenangkan dari pada Paya-Paya/Danau, untuk membasahi berlaksa benda ini, tiada yang lebih besah dari pada Air, yang menjadikan berlaksa benda-makhluk bermula tiada yang lebih menang dari pada Gunung, maka Api dan Air saling melengkapi, Petir dan Angin tidak saling berlanggaran. Gunung dan Paya-paya  saling berjalin pengaruh. Dengan demikian terselenggara Perubahan dan Peleburan serta memberi kesempurnaan berlaksa benda - makhluk ( YI JING – Pembahasan VI, Kuasa Gaib : 10 ).

Proses penciptaan, perawatan dan peleburan Alam Semesta berlangsung secara terus menerus secara berkesinambungan, adanya gunung api yang meletus, adanya gempa bumi, tanah longsor, bahkan tsunami, banjir bandang hingga wabah penyakit dan lain-lain adalah kejadian alam dalam mendukung proses peleburan, yang mana berlangsung secara alami dan  alam akan timbul gejolak bila tidak ada keseimbangan YIN  dan YANG, atau tidak ada Keselarasan antar Langit dan Bumi, Nabi Khongcu bersabda : “ Bila tidak ada keterpaduan/keselarasan antar langit dan bumi, berlaksa benda tidak akan tumbuh ( LI JI XXIV : 10 )

Demikian Tuhan menjadikan segenap wujud masing-masing dibantu sesuai dengan sifatnya, kepada pohon yang bersemi dibantu tumbuh dan kepada yang condong dibantu roboh ( Tengah Sempurna XVI : 3 ).

Langit dan Bumi menimbulkan Perubahan dan Peleburan,  rumput-rumput dan pohon-pohonan tumbuh menghijau, bila langit dan bumi tersekat maka kehidupan pun punah ( Yi Jing Hexagram 2, babaran rohani 2 ).

Didalam kitab Tai Jia tertulis Bencana yang datang oleh ujian Tuhan dapat dihindari, tetapi bencana yang dibuat sendiri tidak dapat dihindari ( Shu Jing IV,  VB : 3 ).

Maka segala perbuatan yang ingkar dari Jalan Suci antara lain peperangan, pembalakan liar hutan, maka hutan jadi gundul menimbulkan tanah longsor, banjir dan kerusuhan-kerusuhan, tidak menjaga kelestarian lingkungan hidup sehingga menimbulkan bencana, mala petaka, selain mengakibatkan kerugian harta benda dan kerusakan alam semesta adalah bagian dari proses peleburan. Peleburan bukanlah punah atau kehancuran alam semesta, melainkan bagian dari berlangsungnya proses kehidupan lestari alam semesta. Langit memiliki Empat Musim: Semi, Panas, Gugur/Rontok, dan Dingin, beserta angin, hujan, embun beku dan embunnya gerak dari pada semuanya itu masing-masing tidak ada yang tidak mendidik. DI ZAI SHEN QI - Bumi mengandung kekuatan Spiritual itu membuahkan angin dan petir, benih berbagai bentuk terbawa jauh dan berbagai benda tumbuh/berbagai makhluk hidup, semua itu masing-masing tidak ada yang tidak mendidik ( LI JI XXVI : 7 ).

Maka manusia selaku insan berbudi luhur hendaknya selalu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, guna memperoleh perlindungan Tuhan, jauh dari segala kelemahan, bencana dan mala petaka, tersurat dalam Kitab Yi Jing “ Peroleh Bantuan/Perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, Rakhmat, tiada yang tidak membawa berkah (Yi Jing  Hexagram 14, kalam 6).

Nabi Khongcu bersabda : “ Perlindungan berarti bantuan, yang diberi bantuan Tuhan Yang Maha Esa ialah orang yang penuh taqwa, yang diberi bantuan manusia ialah  orang yang mendapat kepercayaan (Babaran Agung A  XII  :  75 ).

Dengan berpokok kepada langit dan bumi, maka berbegai benda dapat diangkat daripadanya, dengan berpangkal pada sifat  Yin  dan  Yang, maka segala perasaan dan kecendrungannya dapat dilihat dengan berpegang pada ke Empat Musim, maka pekerjaan dapat disaksikan, dengan Matahari dan Bintang sebagai catatan maka segala pekerjaan dapat dipilahkan, dengan Bulan  sebagai ukuran maka pekerjaan itu dapat berhasil sempurna. Dengan Nyawa dan Rokh sebagai penyerta maka segala pekerjaan dapat lestari, dengan Wu Xing – Lima Unsur sebagai bahan, maka segala hasil kerja dapat didaur ulang ( LI JI VIII Li Yun III, 3,9 ).

Daur Ulang adalah proses peleburan, dimana ke Lima Unsur (Wu Xing) oleh kekuatan YIN dan YANG, menjadikan unsur yang satu dengan yang lain saling melengkapi  dan tumbuh sebagai awal penciptaan, selanjutnya unsur-unsur yang menyatu sebagai perwujudan benda – makhluk hidup yang berlangsung dalam proses kehidupan disebut perawatan unsur-unsur alam semesta, oleh kekuatan Yin dan Yang seiring perjalanan waktu sampai pada titik proses peleburan yang mana selanjutnya terjadi rotasi perputaran siklus kehidupan dimana ke lima unsur atau elemen saling meniadakan satu sama lain untuk selanjutnya memulai lagi penciptaan demikianlah siklus kehidupan lestari yang berkesinambungan.   Langit dan Bumi berlawanan, namun melakukan kerja sama, Laki-laki dan Perempuan berlawanan, tetapi citanya berjalinan, berlaksa benda berlawanan tetapi memiliki kesejenisan (YI JING  Hexagram 38 KUI Sabda : 3)

 

5. Arwah Mengembara Kembali Keharibaan Tuhan

Perlukah manusia mengabdi kepada Rokh ?
Salah seorang murid Nabi Khongcu yang bernama Zi Lu alias Zhong You disebut juga Ji Lu bertanya : “ Bagaimana cara mengabdi kepada para Rokh ? “
Nabi bersabda: “Sebelum mengabdi kepada manusia, betapa dapat nengabdi kepada Rokh?
Murid  memberanikan diri bertanya hal setelah orang mati,
dijawab : “ Sebelum mengenal hidup, betapa mengenal hal setelah mati ? “
( Sabda Suci XI :  12 )

Secara sepintas dan tidak memiliki Penghayatan banyak orang yang meremehkan makna pengertian yang tersirat dalam Ayat tersebut, sesungguhnya Nabi Khongcu dalam membimbing murid-muridNya didasarkan pada sifat karakter pembawaan dan tingkat kecerdasan maupun penguasaan materi murid-muridNya, dari jawaban dan penjelasan Nabi Khongcu yaitu :

Jangan gegabah membicarakan pengabdian kepada Rokh,
semestinya apa yang harus didahulukan adalah pengabdian kepada manusia,
menunaikan tugas dan kewajiban melaksanakan pengabdian kepada manusia
berlandaskan Lima Hubungan Kemasyarakatan,
hendaknya penuh ketulusan disertai rasa hormat,
antara alam Rokh dan alam manusia,
walaupun terdapat perbedaan alam,
tetapi memiliki prinsip aturan yang sama,
bila dapat menjalankan tugas pengabdian kepada manusia dengan baik,
maka mengabdi kepada Rokh tidaklah sulit.

Bila engkau ingin mengetahui hal-hal setelah meninggal dunia, maka engkau harus mengetahui hidup ini bagaimana ?

Hidup manusia di dunia, mulai lahir hingga tua, banyak hal yang harus dikerjakan,
hendaknya laksanakan penuh dengan ketulusan menegakkan Firman,
mengembangkan Watak Sejati, karena Watak sejati adalah Karunia Tuhan kepada Manusia,
maka berbuatlah yang bermanfaat agar hidup ini tidak sia-sia,
yang mana berarti tidak menyia-nyiakan Karunia Tuhan,
Kalau sudah mengerti tugas mulia hidup manusia mengemban Firman Tuhan.
Hidup adalah demikian maka setelah meninggalpun demikian,
maka Kukatakan sebelum mengenal hidup, betapa mengenal hal setelah mati ?

Di dalam Kitab YAO DIAN ( Salah satu Bab dari Kitab Shu Jing ) tertulis
” Setelah diwakili selama 28 tahun. FANG XUN ( baginda YAO ) berangkat Rokhnya, dan turun Jasmaninya ( Mengzi V A :  4 : 1 )

Manusia setelah meninggal dunia, Rokhnya kembali ke alam Xian Tian/alam awal kehidupan bermula, Arwah meninggalkan Jasad/badan Kasar, sebagai bagian dari proses YI/Perubahan, maka Yi/Perubahan itu menepati hukum Langit dan Bumi, maka mampu menunjukkan tanpa cacat atau kacau tentang jalan Suci  langit dan bumi.

Dengan menengadah memeriksa kecemerlangan tanda-tanda di Langit, menunduk memeriksa hukum-hukum dan hal-hal yang berkaitan dengan Bumi, maka Nabi memahami sebab daripada Gelap dan Terang, melacak semua asal muasal dan akhir pulangnya, maka dipahami tentang mati dan hidup, betapa Sari dan Semangat menjadikan benda/makhluk dan bagaimana mengembaranya Arwah ( HUN ) menjadikan Perubahan, demikian diketahui bagaimana sifat hakekat daripada Nyawa dan Rokh (GUI dan SHEN/Anima dan Animus).

Dia serasi dengan Langit dan Bumi, maka tidak melanggar, PengetahuanNya mencakup berlaksa benda dan Jalan SuciNya membereskan bawah langit ini maka tidak berkesalahan, Berjalan berdamping dengan apapun tidak hanyut. Bahagia di dalam Tuhan Yang Maha Esa, dan mnengerti akan Firman, maka tiada sedih cemas. Ia selamat di tanahnya, sentosa di dalam kedudukannya dan murnilah Cinta Kasihnya. Maka benar-benar mampu mencintai.

Melalui Yi  Jing dari suatu tempat akan dapat memahami peleburan daripada Langit dan Bumi tanpa salah, mengikuti perubahan-perubahan, menyempurnakan berlaksa benda tanpa kecuali; memahami sedalam-dalamnya Jalan Suci siang dan malam, sungguh Rokh itu tidak dapat dibatasi oleh tempat dan Perubahannya tidak dapat dibatasi oleh Bentuk/SHEN WU FANG ER YI WU TI
( YI JING – Babaran  Agung A bab IV :  20  -  23 )

Semua yang hidup diantara langit dan bumi disebut Firman ( Ming ) kematian berlaksa makhluk  itu disebut peleburan, tetapi bila manusia mati disebut  berada di alam GUI/Nyawa ( Li Ji : XX. Ji Fa : 4 )

HUN QI ( Arwah dan Semangat ) kembali kepada Tuhan, dalam proses perjalanan Hun/Arwah menuju alam XIAN TIAN/awal mula, tidaklah mudah, semua tergantung pada tingkah laku, amal bakti dan perbuatan manusia yang bersangkutan semasa hidup, apakah sudah menggenapi Firman ?

Orang yang meninggal dunia harus menutup mata, kalau mata masih terbuka, artinya belum ikhlas pergi atau belum mau meninggalkan dunia, mati penasaran.

Semua arwah di alam GUI/Nyawa masih terikat dengan DI/Bumi atau dunia, maka lahirlah Istilah DI YU ( artinya alam di dunia atau ada yang menyebutnya Neraka ), alam Gui adalah tempat transit perjalanan Hun/Arwah untuk menyatu dengan Ling menuju Alam baqa/alam Xian Tian atau Keharibaan Tuhan, yang disebut TIAN TANG ( ada yang menterjemahkan sebagai Surga )

Arwah yang dalam perjalanan menuju Alam baqa terdapat banyak kendala, yaitu kekurangan-kurangan tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan semasa hidup. Yang mana menjadi tugas segenap keturunan, anak-cucu, handai taulan  dan kerabat dekat untuk mendoakan, selain doa dan sembahyang juga diadakan ZUO GONG DE ( berbuat Kebajikan untuk Umum atas nama Leluhur orang tua ), Pengiriman MING QI ( Benda-benda simbolis untuk orang yang telah meninggal ) SHAO LING WU ( membakar gedong-gedongan atau rumah-rumahan ) yang mana sebagai usaha penentraman arwah, bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal diperlakukan sebagai Shen Ming atau Makhluk Rohani ( LI JI : II A bagian III : 3 ).

Pengiriman MING QI tidak disertakan saat penguburan ataupun saat Kremasi, melainkan  dilakukan  saat  usai  masa  perkabungan, atau  minimal  7 x   Zuo Qi
(sembahyang 7 hari) = 49 hari, semua ini telah berjalan, karena menantikan saat perjalanan arwah menuju alam baqa, bila pengiriman Ming Qi terlalu awal dikhawatirkan barangnya telah sampai duluan, sementara Arwahnya belum sampai.     Lalu bagaimana dengan Arwah yang tidak dapat perlakuan yang layak, tidak miliki ahli waris ataupun yang tidak didoakan oleh keturunannya alias arwah terlantar, ataupun yang  mati  tidak  menggenapi  Firman/mati  belum waktunya
(LARAPATI), entah bunuh diri, terbunuh atau jadi Tumbal (TI SI GUI) dan lain sebagainya yang tergolong SI FEI ZHENG MING, sebagaimana yang Meng Zi katakan : “  Orang yang sungguh-sungguh sepenuh hati menempuh Jalan Suci lalu mati, ia lurus di dalam Firman.  Mati dengan kaki tangan diborgol, itu tidak lurus di dalam Firman. “ ( MengZi : VII A Jin Xin : 2 : 4 )

Maka Arwah yang demikian masih sangat kuat terikat pada DI/Bumi atau dunia, muncullah YUAN GUI ( arwah penasaran ), Yao Nie ( Setan Iblis ) Yao Jing ( iblis berwujud Wanita Cantik ) Yao Mo ( iblis yang Ganas )  maupun Yao Guai ( Siluman) dan lain-lain termasuk pula ZU LI/Arwah-arwah kaum penasaran karena tiada keturunan (LI JI  : XX Ji Fa : 7)

Yang semua itu kita katakan Makhluk Halus karena tidak memiliki Jasad atau Badan Kasar serta tidak kembali ke Haribaan Tuhan, jadi gentayangan di dunia sering kali mengganggu ketentraman hidup manusia, atau ada kalanya merasuki tubuh manusia guna menyampaikan Pesan maka dikatakan kerasukan Rokh Halus, bahkan mempengaruhi  manusia untuk berbuat jahat.

Umat Khonghucu setiap masuki bulan ke VII Yin Li melakukan Ritual Sembahyang untuk ketentraman Arwah, yang dibagi 2 tahap.

1. Tahap pertama : dilakukan awal bulan ( 1 – l5 bulan VII – Yin Li ) untuk orang tua/leluhur dan saudara yang masih terikat hubungan keluarga di rumah masing-masing. Yang lazim dikenal dengan istilah ZHONG YUAN JIE.

2. Tahap kedua : Pertengahan hingga akhir bulan ( 15 – 29 bulan VII – Yin Li ) yang ditujukan bagi arwah Sahabat dan Arwah Umum yang dilaksanakan di Litang/Klenteng yang lazim dikenal dengan istilah JING HAO PENG.

Dimana pada kesempatan tersebut dipanjatkan doa dan juga persembahan Sesajian dan Pengiriman MING QI. Pernah suatu ketika peristiwa, seusai pemanjatan doa dan pemanggilan Rokh, Arwah-arwah penasaran dan kelaparan merasuki tubuh manusia dan tingkah laku pun berubah tidak terkendali serentak memperebutkan sesajian yang ada. Yang mana kejadian tersebut dikenal dengan istilah Sembahyang  Rebutan, sampai sekarang pada Acara Sembahyang Jing Hao Peng ( Hao Peng artinya Sahabat baik, istilah hormat menyebut arwah-arwah penasaran ), Usai Sembahyang ditandai dengan penuangan  Arak dan Pembakaran Kertas Emas, maka Sesajian mulai boleh diperebutkan.

Apakah benar ada Arwah Penasaran dan Setan Kelaparan ?  sejak jaman dahulu kala bila ada Narapidana yang akan dieksekusi mati, maka sehari sebelumnya diberi kesempatan mengajukan permintaan terakhir ( Permintaan apa saja asalkan wajar sesuai hukum  dan adat kebiasaan ), dihidangkan menu makanan yang lezat agar pada saat dieksekusi tidak jadi Arwah penasaran atau Setan Kelaparan.

Sebagai seorang putra berbakti  wajib melakukan tugas mendoakan agar Arwah  dalam perjalanan lancar menuju  alam baqa. Prihal kewajiban seorang putra berbakti Nabi Khongcu bersabda :
“ pada saat hidup layanilah sesuai Kesusilaan,
ketika meninggal dunia, makamkanlah sesuai dengan Kesusilaan,
dan sembahyangilah sesuai dengan Kesusilaan “
( Sabda Suci II : 5 )

apakah Perkabungan dan segala Sembahyang tidak merepotkan dan memerlukan biaya besar ?  Termasuk menyiapkan Sesajian, apakah ia mengerti bahwa Rokh orang yang meninggal itu akan menikmati ?  Yang berkabung itu hanya terdorong oleh Ketulusan  dan Rasa Hormat di dalam hatinya ( LI JI : II B Tan Gong I : 28 ) Segenap anggota keluarga yang ditinggalkan tergerak oleh Cinta Kasih dan memupuk Cita Berbakti senantiasa berdoa dan melakukan Sembahyang agar perjalanan Arwah orang tua, sanak keluarga yang dicintai lancar menuju alam baqa.

 

4. Penutup

Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta dan seisinya mencakup di dalamnya berlaksa benda dan makhluk semuanya  berdasar  pada azas  Yuan/ Maha Besar, Maha Pemula. Heng/Maha Menembusi dan Maha Menjalin, LI/Maha Pemberkah dan Zhen/Maha Benar dan Maha Abadi.  Dalam Proses mula-mula dilambangkan sebagai WU JI dan TAI JI sebagai Xing ER SHANG ( Wujud di atas ) yang memiliki 2 unsur yaitu YIN dan YANG.  Sesungguhnya adanya manusia adalah oleh kuasa Kebajikan Langit dan Bumi, oleh jalinan Sifat YIN dan Yang, karena berkumpulnya NYAWA dan ROKH ( GUI dan SHEN ) dan sari Semangat ke Lima Unsur ( WU XING ). Proses Penciptaan, Perawatan dan Peleburan alam semesta berlangsung terus menerus secara berkesinambungan.  Matahari setelah mencapai Puncak pada tengah hari selanjutnya akan menurun . Bulan setelah mencapai penuh, selanjutnya akan menyusut. Hubungan langit dan bumi ada kalanya penuh subur, ada kalanya kosong gersang, berkembang dan menyusut sesuai waktunya, lebih-lebih hal yang berkaitan dengan manusia, lebih-lebih hal yang berkaitan dengan NYAWA dan ROKH ( YI JING   Hexagram 55 – Sabda : 4 )

Selanjutnya dalam proses berjalannya waktu maka Perputaran Roda Kehidupan silih berganti adanya kelahiran dan tentu ada kematian, begitu Matahari pergi datanglah Bulan, begitu Bulan pergi, datanglah Matahari. Matahari Bulan saling mendorong/bergantian dan terbitlah terang. Dingin pergi, Panas datang. Dingin dan Panas  saling mendorong dan sempurnalah masa satu tahun. Yang pergi itu berkurang dan kian berkurang, yang datang itu bertambah dan kian bertambah. Proses kian berkurang dan kian bertambah saling mempengaruhi dan membawakan berkah untuk pertumbuhan/kehidupan   ( YI Jing  -  Babaran Agung B  Bab V : 32 )

Manusia selaku makhluk hidup bagian dari alam Semesta, semua yang dilahirkan  pasti mengalami kematian, yang mati pasti pulang ke tanah ( DI ). Inilah yang berkaitan dengan Nyawa.Tulang dan Daging melapuk ke bawah, sedangkan QI berkembang memancar ke atas cerah gemilang, inilah sari beratus Zat perwujudan dari pada SHEN. Dalam perjalanan menuju alam Baqa terdapat banyak kendala bagi Arwah yang semasa hidup belum menggenapi Firman, maka menjadi tugas dan kewajiban anak cucu untuk melakukan doa, sembahyang agar Arwah mencapai kesempurnaan kembali ke Haribaan Tuhan.

editor: Js.Tine Agustine

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:50 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:366 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:272 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:210 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:144 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:689 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:662 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:142 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:222 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1175 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 20 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com