spocjournal.com

Pengalaman Spiritual : Manajemen Dan Kepemimpinan Confucius Bagian 1

 

 Oleh: Dr. Drs. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH, MM

 

Pendahuluan
Dalam kenyataannya masih banyak organisasi Kelenteng maupun Makin-Makin yang kepemimpinannya bersifat otoriter, kurang demokratis, diangkat berdasarkan turun-temurun, menjabat seumur hidup, diangkat karena berdasarkan status atau    kekayaan. Akibatnya adalah banyak terjadi konflik dalam organisasi berupa perebutan kepengurusan, tumpang tindihnya tugas dan kewajiban yang kesemuanya itu disebabkan oleh karena kurangnya pemahaman tentang manajemen. Padahal organisasi keagamaan itu bukanlah kerajaan, namun hal ini terjadi sehingga kadang kala seorang rohaniwan pun harus tunduk dan patuh pada pemimpin seperti tersebut di atas.

Konflik kepemimpinan saat sekarang ini terjadi akibat dari adanya transformasi sistem kepemimpinan dari model kepempimpinan kolot (kuno) menuju proses modernisasi yang lebih demokratis. Organisasi keagamaan Khonghucu saat  ini  sedang  dalam  proses  pendewasaan  dan  sangat membutuhkan sistem manajemen. Khususnya organisasi Kelenteng yang belum terjangkau pembinaannya oleh Matakin, pada umumnya mereka masih menerapkan sistem yang kuno dalam menentukan kepengurusannya.

Semua organisasi baik organissasi perusahaan, organisasi sosial,  maupun organisasi keagamaan membutuhkan sistem manajemen yang baik, sebab tanpa adanya  sistem manajemen maka semua usaha akan menjadi sia-sia dan pencapaian tujuan yang diharapkan akan menjadi sangat sulit. Suatu organisasi yang baik tentunya memiliki sistem manajemen yang baik pula.

Dengan sistem manajemen yang baik maka semua anggota organisasi akan dapat bekerja secara teratur dan sitematis. Semua anggota organisasi akan menghormati sistem yang ada, bukan hanya tunduk pada otoritas yang berwenang, melainkan aturan main yang ada dalam organisasi harus dihormati oleh semua pihak dalam organisasi tersebut.

Manajemen Khonghucu sebenarnya tidak terlepas dari bagaimana mengatur hubungan-hubungan yang berkaitan dengan Lima Hubungan Masyarakat (Wulun). Lima Hubungan dalam Khonghucu atau Lima Hubungan Masyarakat    tersebut diantaranya yaitu menyangkut hubungan raja dengan menteri. Hubungan raja antara dan menteri bisa dikembangkan menjadi hubungan antara atasan dan bawahan. Dalan hal ini, isu sentralnya adalah berbicara masalah kepemimpinan, perburuhan, manajemen, bisnis, organisasi perusahaan dan lain-lain.

Lima    Hubungan    Masyarakat    yang    kemudian bisa berkembang menjadi beberapa hubungan perlu diintrepretasikan dalam kehidupan modern sehingga ajaran agama Khonghucu tidak statis, melainkan terus memiliki nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Sementara hubungan antar kawan dan sahabat bisa berkembang menjadi kongsi (partner ) dalam bisnis yang semuanya tidak lepas dari kepemimpinan.

Pengintrepretasian  terhadap  nilai-nilai  Khonghucu dan penerapannya dalam bentuk yang nyata di lapangan merupakan hal yang wajar bagi suatu agama. Sebab agama yang bisa mempengaruhi nilai-nilai kehidupan manusia termasuk dalam bentuk manajemen, merupakan agama yang bisa memberikan andil dalam perubahan hidup manusia. Agama harus memberikan kontribusi dalam kehidupan manusia secara nyata.

Seperti yang dikatakan Chan Heng Che (2005 : 269) “Konfusianisme bukanlah sekumpulan teks. Ia bukan sesuatu  yang  sekali  ditemukan ia  langsung diterapkan.Juga bukan sesuatu yang bersifat dogmatis. Ia perlu diintrepretasikan “.

Dalam mengintrepretasikan nilai-nilai Khonghucu tentunya menjadi kewajiban sarjana Khonghucu untuk terus menggalinya dari sisi-sisi lain secara teori. Oleh karena itulah dalam pembahasan ini perlu disisipkan manajemen Khonghucu sebagai bagian dari intrepretasi tersebut di atas.

Kelenteng, Litang, Makin dan organisasi Khonghucu lainnya sangat membutuhkan pembenahan organisasi sekaligus mencari model kepemimpinan yang cocok serta sesuai dengan ajaran agama. Maka bentuk pengkajian kepemimpinan Khonghucu harus disusun secara benar untuk mendapatkan konsep pemikiran Khonghucu tentang kepemimpinan itu.

Kepemimpinan
Hal   tentang   kepemimpinan   ini      tersurat   dalam kitab Zhongyong BAB XXX:1, dimana didalamnya menggambarkan bagaimana karakter Khonghucu (Confucius) dalam memimpin. Dalam Kitab   tersebut dikatakan bahwa pemimpin itu memiliki ciri sebagai berikut,  “ ….. terang pendengarannya, jelas penglihatan, cerdas pikiran, dan bijaksana; maka cukuplah Ia menjadi pemimpin.  Keluasan  hatinya,  kemurahannya,  keramah-tamahannya dan kelemah-lembutannya, cukup untuk meliputi segala sesuatu. Semangatnya yang berkobar-kobar, keperkasaannya, kekerasan hatinya dan ketahanujiannya, cukup untuk mengemudikan pekerjaan besar. Kejujurannya cukup untuk menunjukkan kesungguhannya. Ketertibannya, kebesarannya, ketelitiannya dan kewaspadaannya cukup untuk membedakan segala sesuatu “.

Kepemimpian  menurut  Confucius  seperti  tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa pemimpin itu harus memiliki:   (1) kopetensi diri, (2) semangat (spirit), (3) moralitas, (4) kepekaan, dan (5) tahan uji.  Kelima unsur tersebut adalah merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin.

Kompetensi diri
Dalam pandangan Confucius bahwa segala yang dimiliki manusia termasuk kecerdasannya dan keahliannya serta kebijaksanaannya merupakan kompetensi diri. Kompetensi diri dapat digali dari dalam diri sendiri melalui pembelajaran  dan  pengembangan  keterampilan.  Dalam hal ini Confucius berkata “Jangan khawatir tidak dikenal orang lain, tetapi khawatirlah bila tidak memiliki keahlian atau kemampuan “.

Bagi Confucius keahlian itu sangatlah penting dalam melakukan aktifitas secara benar dan tepat. Tanpa memiliki keahlian, apa artinya ketenaran itu. Pemimpin pada saat sekarang ini sangat berbeda yakni hanya mengejar ketenaran tetapi tidak memiliki kemampuan. Bagi Khonghucu masalah keahlian menjadi hal yang paling utama untuk memimpin apa saja termasuk dalam pemerintahan.

Kompetensi   adalah   akumulasi   dari   pengetahuan dan keterampilan dibidang yang kita kerjakan. Dalam pandangan modern bahwa kompetensi tersebut meliputi keterampilan keras dan keterampilan lunak. Keterampilan keras berkaitan dengan aspek bisnis atau teknis dari bisnis tersebut. Seorang pemimpin dalam industri   perbankan, akan membutuhkan keahlian di bidang perbankan. Seorang yang berada dalam bisnis retail, akan membutuhkan pengetahuan retail dan pemahaman tentang apa yang baik bagi  retail tersebut. Seorang yang berada pada bisnis produksi sepatu dan sandal, mereka akan membutuhkan pengalaman dan pengetahuan di bidang sepatu dan sandal, juga pengetahuan bidang-bidang pelayaran dan lain-lain. Namun pengetahuan teknis dan professional belumlah lengkap dan mencukupi. Masih diperlukan aspek yang lebih lunak dari kepemimpinan, termasuk sebuah kombinasi dari hal-hal berikut ini: Dorongan Fokus, Pengembangan Orang Lain, Orientasi Strategis, Pemikiran Konseptual, Orientasi Pelanggan, dan Kepemimpinan Tim. Semua konsep diatas bias didapatkan dalam kitab-kitab suci Khonghucu.

Semangat (Spirit)
Seorang pemimpin harus memiliki energi spririt atau semangat yang luar biasa sehingga mereka tidak pernah merasa putus asa, selalu dalam stamina prima. Semangat yang prima diimbangi dengan cita yang luhur. Artinya semangat  itu  harus  dalam  koridor  cita-cita  atau  tujuan yang benar. Semangat harus terarah pada tujuannya. Dalam kitab Mengzi IIA:2/10 dinyatakan, “Cita itulah yang utama dan Semangat itulah yang kedua, mengapakah dikatakan pula’Pegang teguhlah Cita itu jangan mengumbar semangat?’dan semangat yang telah menyatu dapat menggerakkan cita”.

Ayat  tersebut  di  atas  bermakna  bahwa  semangat itu diperlukan dalam mengejar cita-cita atau tujuan yang benar. Oleh sebab itu semangat itu sangat diperlukan dalam mencapai tujuan (goal). Pemimpin yang tidak memiliki semangat meskipun ia punya cita-cita, maka ia tidak akan bisa berhasil karena seperti seorang yang hidup tidak memiliki darah yang mencukupi. Semangat adalah darah yang harus terus memacu dalam kehidupan dan juga api yang digunakan pemimpin sebagai bahan bakar.

John  NG  (  2008:  6)  lebih  memandang  semangat itu  sebagai  panggilan  (Calling).  Panggilan  menunjuk pada  hasrat  yang  kuat.  Stephen  Covey  menyebutnya,
menemukan suara anda sendiri,” Maksudnya adalah menentukan tujuan, makna, dan pencapaian dalam kehidupan, panggilan akan menciptakan hasrat yang kuat, akan memahami diri sendiri, hasrat, dan tujuan anda.

Panggilan memiliki kemampuan yang dianugerahkan Tian untuk melakukan pekerjaan serta memiliki sukacita yang dianugerahkan Tian dalam mengerjakannya.  Pemimpin harus   memiliki hasrat yang kuat untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, dan hasrat itu dapat dilepaskan serta perlu dipupuk untuk tetap menjaga apinya agar terus dapat menyala.

Moralitas
Moralitas atau juga bisa disebut sebagai karakter seorang pemimpin. Moralitas sangat penting sekali dalam memberikan titik kepercayaan yang menghubungkan pemimpin dengan bawahannya. Moralitas memberikan kepercayaan bisnis untuk jangka panjang serta memberikan jaminan    pada  kinerja  secara  tidak  langsung. Sebagian

besar program kepemimpinan dewasa ini lebih menitik beratkan pada kompetensi dan kinerja   tanpa disertai dengan moralitas yang justru diperlukan dalam menunjang kepercayaan bisnis. Perusahaan-perusahaan yang dipimpin oleh seorang yang menerapkan nilai moralitas khususnya kejujuran, maka akan menunjang kinerja dimana umumnya saham-sahamnya akan naik di pasar saham, sebaliknya kepemimpinan bisnis yang jauh dari moralitas akan dijauhi oleh pelanggan dan tidak memiliki integritas, kepemimpinan model seperti ini akan merugikan perusahaan dalam jangka panjang. Penelitian penulis tentang Bisnis Etnis Tionghoa di Surabaya membuktikan bahwa nilai-nilai moralitas ternyata berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha. Bukti ini menunjukkan bahwa perlunya gaya kepemimpinan dalam dunia bisnis saat sekarang ini yang berkarakter dan memiliki moralitas.

Dewasa ini kepemimpinan bisnis yang unggul adalah mereka yang memiliki semangat atau panggilan bisnis, yang memiliki kompetensi atau kemampuan dalam bidangnya secara profesional dan memiliki moralitas yang memadai.

Kompetensi   diri,   semangat   dan   moralitas   telah dimiliki oleh kepemimpinan yang ditauladani oleh nabi Kongzi. Ketiga unsur diatas adalah sangat manusiawi dimana  setiap orang  akan  bisa  menjalaninya  melalui proses belajar dan selalu dilatih. Model kepemimpinan Khonghucu akan mampu mengharmoniskan perusahan, baik dalam hubungan kerja maupun keahlian kerja sehingga perusahaan akan dapat mencapai tujuannya dengan baik. Model kepemimpinan semacam ini banyak diterapkan di Negara Korea, Hongkong, Taiwan, Jepang maupun daratan Tiongkok sendiri dimana banyak perusahaan yang berhasil. Hal ini jelas membuktikan bahwa keberhasilan bisnis tersebut semata-mata banyak yang menerapkan konsep kejujuran sebagai landasan bisnisnya. Kejujuran adalah hal yang paling berperan dalam meningkatkan kepercayaan kepada konsumen (masyarakat), meskipun banyak perusahaan yang tidak mengindahkan masalah kejujuran namun perusahaan tersebut bisa sukses,  akan tetapi hanya bisa memberi keuntungan dalam jangka pendek semata. Hal ini telah diajarkan oleh Nabi Kongzi,” Seorang yang pandai, meski tidak memegang teguh Cinta Kasih, mungkin berhasil pula usahanya; tetapi akhirnya pasti hilang pula “ (Lunyu XV : 33). Artinya bahwa dibutuhkan nilai-nilai moral dalam menjalankan bisnis (temasuk kejujuran) agar memiliki kepercayaan dan bisa meningkatkan kinerjanya. Ketidak jujuran bisa juga membawa kesuksesan, namun hal ini ibarat awan berlalu (tidak akan bisa berlangsung dalam waktu yang lama). Namun bila perusahaan menerapkan kejujuran meski membutuhkan waktu yang lama pasti akan mendapatkan pelanggan yang mendorong perusahan hidup sepanjang masa.

Kepekaan
Peka terhadap lingkungan sekitarnya serta mampu meprediksi kejadian yang akan datang serta berani mengambil keputusan yang beresiko. Keberanian mengambil langkah-langkah konkrit untuk memajukan organisasi menjadi hal yang sangat penting bila kita menjadi  seorang  pemimpin.  Seorang  pemimpin  yang peka akan melihat keutuhan bawahannya serta mampu meluncurkan program-program baru, melakukan tindakan nyata dalam pencapaian organisasi. Kepekaan akan bisa menjadikan pengambilan keputusan secara cepat dalam menangani peluang dan kesempatan. Dengan kepekaan juga dimungkinkan para pemimpin akan dengan cepat bertindak pada hal kemajuan.

Tahan Uji
Pemimpin harus juga memiliki mental yang kuat dalam membawa organisasinya mencapai misi dan visinya. Tegar dalam menghadapi persoalan serta mampu mengatasi persoalan dengan baik.Dalam hal ini pemimpin tidak mudah berubah haluan di tengah jalan sebelum tujuan dan cita-cita tercapai.

Apabila kepemimpinan Khonghucu diterapkan bagi para rohaniwan, maka akan menjadikan rohaniwan yang tahan uji, tidak mudah mengeluh dan mampu menjadi pelayan umat yang bahagia hidupnya di dalam Tian (Le Tian).

Ciri-Ciri Kepemimpinan Confucius lainnya bersambung di halaman selanjutnya

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:167 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:173 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:104 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:644 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:598 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:110 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:190 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1145 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Nganjuk Penuh Kedamaian

27-07-2017 Hits:307 Berita Foto

Nganjuk Penuh Kedamaian

Kunjungan FKUB provinsi Jatim hari kedua di FKUB Kabupaten Nganjuk. Kunjungan di Nganjuk diterima di kantor Kesbangpol. Hadir dalam pertemuan...

Read more

FKUB Jatim Turba

26-07-2017 Hits:176 Berita Foto

FKUB Jatim Turba

Rapat koordinasi dan silaturahim FKUB Kabupaten Mojokerto yang dihadiri oleh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Mojokerto, Bupati dan para Camat, Bakesbangpol,...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 8 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com