spocjournal.com

Pengalaman Spiritual : Nilai Religius Dalam Daxue, Tepasalira (Zhongshu)

 Oleh: Dr. Drs. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH, MM

 

1. “Adapun Jalan Suci (Dao) yang dibawakan Ajaran Besar (Daxue) ini, ialah : menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya (Mingde), mengasihi rakyat (Qinmin), dan berhenti pada puncak Kebaikan (Zhishan) (Ajaran
Besar Bab Utama : 1 ).

Tujuan akhir dari Dao adalah bagaimana manusia bisa hidup dalam puncak Kebaikan. Memiliki sikap dan moralitas yang baik bagi dirinya sendiri dan juga bagi masyarakat. Kebaikan yang bisa memberikan kontribusi kepada keutuhan dan kepentingan mayarakat banyak sehingga kebaikan itu memancarkan cahaya mulia sesuai dengan kehendak Tian Yang Maha Esa. Kebaikan yang menuju pada perbuatan luhur yang bisa membuat nilai-nilai luhur berkembang, mendarah daging pada kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat bahkan kehidupan di lingkungan dunia.

Puncak Kebaikan akan bisa ditempuh bila setiap umat manusia bisa meletakkan posisinya pada Jalan Suci Tian (Tian Dao) secara benar. Mereka yang hidup pada jalur kebenaran yakni satya (zhong) kepada Tian Yang Maha Esa serta berbuat baik terhadap sesama manusia (shu), maka ia telah hidup pada puncak kebaikan.

Hidup  pada  puncak  Kebaikan  adalah  memacu  dirinya untuk selalu membina diri, melakukan perubahan sikap dan mental, menjadikan hidup ini bisa bermanfaat bagi orang lain. Tidak akan melakukan perbuatan yang menjadikan orang lain tidak menyukainya. Puncak Kebaikan juga bermakna sebagai tingkah laku dan perbuatan yang Zhong Shu  (Satya dan Tepasalira), apa yang diri sendiri tidak sukai, janganlah diberikan kepada orang lain.

Maka seorang Junzi lebih dahulu menuntut diri sendiri, baharu kemudian mengharap dari orang lain. Bila diri sendiri sudah tak bercacat baharu boleh mengharapkan dari orang lain. Bila diri sendiri belum bersikap Tepasalira, tetapi berharap memperbaiki orang lain,, itulah suatu hal yang belum pernah terjadi” (Ajaran Besar/Daxue Bab IX : 4)

Tepasalira (Zhongshu)

Kata ini mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Demikianlah kata “SHU”   yang artinya : “apa yang tidak baik untuk diri sendiri, janganlah diberikan kepada orang lain”. Begitu pula  sebaliknya apa yang baik untuk diri sendiri belum tentu cocok untuk diberikan kepada orang lain. Mungkin bagi diri kita hal itu baik, tetapi belum tentu baik pula bagi orang lain. Maka dalam pengertian ini kita harus tahu diri, memahami posisi orang lain jangan sampai apa yang kita lakukan itu membuat orang lain tidak suka bahkan ia merasa terganggu. Kita harus juga menyadari bahwa tidak semua yang kita sukai itu juga bisa disukai oleh orang lain.   Jangan sampai juga perbuatan kita membuat tidak nyaman terhadap orang lain. Syukur kalau kita bisa berbuat yang terbaik bagi orang lain. Melalui tepasalira, disamping  kita mencegah perbuatan yang menimbulkan orang lain tidak senang, juga kita dituntut untuk melakukan sesuatu untuk kebaikan orang lain.

Mobil Itu

Pagi itu, saya terbangun karena mendengar suara mobil masuk ke garasi. Suara pintu pagar dan derung mobil begitu mengganggu telinga. Pagi itu  pukul  03,00 WIB, saat saya sedang beristirahat dan akhirnya harus terbangun. Dalam kondisi demikian, ditambah lagi ulah Hengky dengan mengeluarkan anjing dari kandangnya yang akhirnya berlari menuju kamar Billy di lantai dua. Ketika itu Billy juga berteriak bahwa ajing itu membangunkan dari tidurnya. Sementara Hengky yang baru datang dari pesta  masuk ke dapur dengan tanpa rasa dosa memasak mie instant karena merasa kelaparan.

Apa yang dilakukan Hengky pagi itu telah mengganggu tidur orang tuanya, membangunkan adiknya dan melepaskan anjing diwaktu orang-orang sedang tidur. Sementara Hengky sendiri dengan hati yang berbunga- bunga bisa menikmati malam yang indah dengan begadang bersama  teman  temannya.  Bagi  Hengky  hal  tersebut enjoy life (menyenangkan) karena setelah itu ia bisa tidur dengan nyenyak hingga siang hari. Sementara itu orang- orang  yang  berada  disekelilingnya  merasa  terganngu akibat ulahnya itu. Hengky telah merubah kebiasaan siang dijadikan malam dan malam dijadikan siang.    Apa yang telah dilakukan Hengky membuat orang tua tidak bisa tidur lagi, mengganggu adiknya tidur. Orang tua yang butuh istirahat banyak dimalam itu  akhirnya harus bangun dan mengalami kesulitan  untuk tidur kembali. Padahal esok harinya ia harus bekerja mencari nafkah, sementara itu adiknya harus bangun pagi dan ke sekolah. Hal inilah yang saya katakan bahwa tindakan Hengky itu tidak Tepasalira, apa yang dilakukannya membuat orang lain tidak nyaman. Andaikata pada waktu Hengky tidur sampai siang karena malam harinya begadang lalu dibangunkan/dipakasa bangun tentunya akan ia marah !

Disinilah ajaran Nabi Agung Kongzi yang sangat luhur dimana bakti kepada orang tua itu diletakkan pada posisi paling  atas.  Pulang  malam,  begadang  adalah  tindakan tidak terpuji apalagi mengganggu orang lain dimalam hari sewaktu semuanya sedang tidur. Inilah TEPASALIRA suatu hal yang sederhana untuk diucapkan, namun tidak mudah untuk dilaksanakan.

Bagi  saya  pengalaman  pada  malam  itu  menjadi sautu pelajaran bagi Hengky bahwa ia perlu hidup saling pengertian dan Tepasarira. Saya katakan pada Hengky bahwa kamu enak karena  setelah itu bisa tidur kembali hingga siang hari, tidak ada yang mengganggu,  tidak ada beban dan kewajiban. Akan tetapi Papa harus pergi ke kantor untuk  bekerja,  sementara  adikmu  juga  harus  berangkat ke sekolah pada pagi hari! tolong hal itu jangan diulangi kembali ! Ini adalah tindakan yang sangat merugikan orang lain, tidak mencerminkan sikap seorang Junzi. Seorang yang dapat hidup di puncak kebaikan yang tidak merugikan orang lain (Subuh, 1-5-2015 )

Berbuat tepasalira merupakan bentuk dari upaya untuk menjadi baik (mencapai puncak kebaikan), untuk menjadi Junzi yang disukai oleh Tian (Wei De Dong Tian – Hanya dengan Kebajikan Tian berkenan)

2. ”Bila sudah diketahui tempat hentian (Zhizhi), akan diperoleh ketetapan tujuan (Youding); setelah diperoleh ketetapan, barulah dapat dirasakan ketenteraman (Nengjing); setelah Tenteram, barulah dapat dicapai kesentosaan bathin (Nengan); setelah sentosa, barulah dapat berpikir benar (Nenglu), dan dengan berpikir benar, baharulah orang dapat berhasil (Nengde) “(Ajaran Besar/Daxue Bab Utama : 2).

Ayat tersebut diatas memiliki beberapa dimensi pengertian tergantung pada bagaimana kita menginteprestasikannya. Dimensi religi dengan jelas bahwa cara berpikir sekaligus proses mendapatkan suatu keputusan, ketetapan jiwa baik itu hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari maupun menyangkut Iman.

Kejiwaan kita harus ditempat hentian (Zhizhi), merenung, menganalisis, membandingkan hal-hal yang baik dan buruk, meyakinkan diri kita melalui ketenangan jiwa yang terdalam, barulah seseorang itu sadar dan memahami mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dipegang teguh untuk dijadikan pedoman hidupmya. Proses ini adalah mendapatkan ketetapan tujuan (You Ding).

Bagaimana kita mendapatkan proses ketetapan tujuan dengan baik dan benar? kita telah melakukan seleksi yang sangat ketat melalui perenungan yang dalam. Bila tujuan hidup kita sudah selaras maka jalan dan arah yang kita tempuh juga jelas. Kita akan memiliki kepekaan dalam menjalani kehidupan yang tidak akan membuat sesat dalam hal ini.

Sebagai contoh ketika saya harus memilih agama Khonghucu sebagai agama yang paling cocok bagi diri saya yang bisa menumbuhkan Iman, maka saya telah melakukan pengujian dalam hidup saya. Saya membandingkan dengan konsep-konsep Iman lain serta saya merasakan perubahan pada diri saya selama ini. Saya telah merasakan nikmatnya beragama Khonghucu dan bisa hidup dalam tuntunan Nabi Kongzi secara nyata. Ajarannya telah membimbing saya menuju kesuksesan hidup dan membawa kebahagiaan yang tinggi. Mampu mengatasi segala persoalan hidup saya, menjadi tegar bahagia dalam beriman. Proses itu tentunya merupakan bagian dari cara berpikir secara Zhizhi dan Youding. Bagi saya ketetapan tujuan itulah pedoman hidup saya dalam agama yang saya peluk saat ini.

Ketika saya sudah menentukan agama yang paling cocok dan saya jalani dalam kehidupan ini, maka saya bisa merasakan tenteram dalam bathin (Nengjing) dan tentu saja siapapun yang merasa tenteram jiwanya, maka bathinnya juga akan Sentosa (Nengan), pikirannya akan tepat dan benar (Nengli), barulah dia akan bisa berhasil baik dalam kehidupan di dunia maupun kehidupan berbahagia bersama Tian (Nengde).

Pengertian  “berpikir  benar  baru  berhasil”  dalam Kitab Daxue diatas adalah kunci dalam segala perkara. Kunci  dalam  Iman  kita  yang  berlandaskan  pada  rasio bukan sekedar percaya saja. Maka manusia hidup di dunia harus melakukan perenungan, pemikiran secara cerdas sebagai bagian dalam upaya manusia menemukan cara mendapatkan ketetapan tujuan (Youding) untuk mencapai kedamaian abadi.

3. Tiap benda mempunyai pangkal dan ujung (Ben Mo), dan tiap perkara itu mempunyai awal dan akhir (Zhong Shi). Orang yang mengetahui mana hal yang dahulu dan mana hal yang kemudian, ia sudah dekat dengan Jalan Suci (Daxue Bab Utama : 3 ).

Pentingnya   pemahaman   proses   dalam   hidup   ini bahwa manusia tidak boleh hanya tahu akan hasilnya saja, sementara proses awalnya ia tidak mengetahuinya. Seorang yang sukses dalam mengimani suatu agama tidak hanya berlandaskan atas kepercayaan saja kemudian mengimani secara membabi buta. Ia harus mengetahui hal yang menyebabkannya bisa meyakini suatu agama.

Bila hal ini diterapkan pada hal lain, bagaimana kita bisa mencintai isteri kita lalu menikah dengannya bila kita tidak mengetahui latar belakang dan sifat-sifatnya! Maka Dao itu adalah upaya pendekatan untuk memahami proses awal sekaligus tahu proses akhirnya. Kita tidak akan paham akan Tian sebagai pencipta alam semesta yang kita yakini saat sekarang tanpa kita bisa memahami sifat-sifat   Tian yang mendukung keyakinan kita itu. Begitu pula dengan alam yang tersedia bagi manusia tentunya memiliki sumber awal yang wajib kita ketahui. Seorang anak kecilpun akan bertanya kepada orang tuanya darimana uang itu didapatkan sebelum ia membelajakannya!

Alam semesta adalah ujung, sedang pangkalnya adalah Tian Yang Maha Esa sebagai penciptanya. Pemahaman terhadap Tian bisa dipahami melalui pemahaman benda- benda hasil ciptaannya. Melalui pemahaman terhadap benda-benda ciptaan Tian itulah maka kita akan memahami keberadaan Tian dengan benar sekaligus kita akan memahami mana yang pangkal dan mana yang ujung.

Dao (Jalan Suci) merupakan unsur Yin Yang, sekaligus sebab akibat, awal dan akhir yang wajib kita pahami. Awal bagi saya adalah pokok dari ajaran-ajaran  yang membuat manusia baik (puncak kebaikan). Mereka yang bisa menjalankan kehidupan dengan baik sesuai dengan Firman Tian, maka itulah awal (modal kita) untuk bisa memahami yang akhir, yakni menuju pada kemulian Tian. Perbuatan baik adalah pangkal  (yang dahulu) dan mengabdi kepada Tian adalah yang ujung (yang kemudian). Boleh saya katakan bahwa manusia harus menata kehidupan di dunia ini sebagai pangkal, maka hak kehidupan yang damai sejahtera (damai dunia) akan tercapai sebagai pengetahuan kita tentang ujung itu.

Banyak hal dalam kehidupan ini yang memutar balikan antara pangkal dan ujung, sehingga mereka salah dalam melangkah dan tersesat dalam kehidupannya. Kesalahan ini tentunya akan menjadi fatal dan berakibat pada kegagalan dalam hidupnya. Sebagai contoh nyata misalnya, mereka menjalankan   hal   ujung   dulu   (yang   kemudian)   baru awalnya (yang terdahulu). Kita akan belajar bagaimana kita memuliakan manusia (orang-orang besar, leluhur kita) sebagai yang pangkal dalam memahami dan memulikan Tian  secara benar sebagai ujungnya. Banyak orang yang menjalankan ujungnya dengan cara mengabdi kepada Tian, tetapi tingkah laku dan perbuatannya (sebagai pangkalnya) tidak mencerminkan seorang yang taat beragama. Dalam hal ini Nabi Kongzi mengatakan sebelum mengenal hidup, bagaimana engkau bisa mengenal hal setelah mati. Hidup itu  adalah  pangkal  yang  harus  dipahami  oleh  manusia sementara hal kematian adalah ujungnya (yang kemudian) sebagai hukum Tuhan (Tianli) dimana manusia akan mengetahui dengan sendirinya setelah ia bisa menjalankan hal pokok tersebut.

4.Orang jaman dahulu yang hendak menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya itu pada tiap manusia di dunia, ia lebih dahulu berusaha mengatur negerinya; untuk mengatur negerinya , ia lebih dahulu membereskan rumah tangganya ; untuk membereskan rumah tangganya , ia lebih dahulu membina dirinya; untuk membina dirinya , ia lebih dahulu meluruskan hatinya ; untuk meluruskan hatinya , ia lebih dahulu mengimankan tekatnya; untuk mengimankan tekatnya, ia lebih dahulu mencukupkan pengetahuannya; dan  untuk  mencukupkan  pengetahuannya,  ia  meneliti
hakekat tiap perkara ( Daxue Bab Utama : 4 ).

Dalam Buku Pelajaran Sishu karya Xs.Indarto ( 2014 :2 ), seolah-olah bahwa ajaran Daxue hanya berbicara masalah Neisheng Waiwang, yakni aku sebagai pribadi yang membina diri dengan meniti hakekat tiap perkara, mencukupkan pengetahuan, dengan hati lurus dan perasaan terkendali (menjadi seperti Nabi) untuk mengatur rumah tangga, masyarakat, Negara dan dunia untuk menjadi pemimpin dunia.

Pandangan yang masih sangat sederhana itu hanya membatasi   Daxue   sebagai   manajemen   etika   moral bukan masuk kedalam wilayah agama. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa harus ada tambahan yang bisa menjelaskan kitab Daxue secara utuh yakni Iman kepada Tian Yang Maha Esa. Artinya bahwa tujuan akhir menjadi seorang Junzi yang bisa membina diri dan mengatur dunia itu harus menjadi insan yang taqwa dan satya (zhong) kepada Tian Yang Maha Esa. Segala upaya dan tindakan kita di dunia ini dengan mencapai tujuan damai di dunia adalah merupakan bentuk dari perintah agama bagi manusia itu agar ia bisa memahami hakekat Tian dengan benar. Maka konsep Neisheng waiwang dalam   pandangan Xs.Indarto harus ditambahkan Tian Yang Maha Esa pada sisi sebelah kanan sebagai berikut:

 

Pengertian membina diri itu adalah menjadikan manusia bisa  memahami  sesamanya  sebagai  bentuk  dan  cara untuk memahami Tian sekaligus sujud kepadaNya. Maka proses pembinaan diri itu ditujukan kepada kebesaran dan kemuliaan Tian Yang Maha Esa.

 

Konteks ayat di atas seperti yang tertera pada kitab Zhongyong Bab XIX:7, “ Maka seorang Junzi tidak boleh tidak membina diri; bila berhasrat membina diri, tidak boleh tidak mengabdi kepada orang tua; bila berhasrat mengabdi kepada orang tua, tidak boleh tidak mengenal manusia, dan bila berhasrat mengenal manusia, tidak boleh tidak mengenal kepada Tian.

Kesimpulannya adalah bahwa Daxue itu mengajarkan manusia membina diri untuk menjadi manusia yang berkarakter seperti seorang Nabi yang mampu mengatur dunia menjadi damai dan sejahtera, sujud sembahyang memuliakan kebesaran Tian dengan satya dan tepasalira (zhongshu). Ajaran Daxue juga memberikan pencerahan bagaimana manusia harus melakukan pengaturan hubungan antar manusia baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan organisasi baik pemerintahan maupun swasta yang berlandaskan pada jalan yang benar menurut ajaran agama.

5.”Dengan meneliti hakekat tiap perkara dapat cukuplah penngetahuannya; dengan cukup pengetahuannya akan dapatlah mengimankan tekadnya; dengan tekat yang beriman akan dapatlah meluruskan hatinya; dengan hati yang lurus akan dapatlah membina dirinya; dengan diri yang terbina akan dapat memberskan rumah tangganya; dengan rumah tangga yang beres akan dapatlah mengatur negerinya, dan dengan negeri yang teratur akan dapat
dicapai damai dunia “ (Daxue Bab Utama : 5).

Mengatur dunia itu diawali dengan mengatur diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara. Mustahil manusia bisa mengatur lingkungan masyarakat yang lebih luas, apabila dia tidak bisa mengatur dirinya sendiri, rumah tangganya dengan benar. Inilah manajemen diri yang wajib dimiliki oleh setiap manusia untuk menjadi pemimpin dunia yang juga patuh dan takwa kepada Tian Yang Maha Esa.

“Adapun yang dikatakan untuk membereskan rumah tangga harus lebih dahulu membina diri itu ialah di dalam mengasihi dan mencintai biasanya orang menyebelah; didalam menghina dan membenci biasanya orang menyebelah; didalam menjunjung dan menghormati biasanya orang menyebelah; di dalam menyedihi dan mengasihi biasanya orang menyebelah; dan didalam merasa bangga dan agungpun biasanya orang menyebelah. Sesungguhnya orang yang dapat mengetahui keburukan pada apa-apa yang disukai dan dapat mengetahui kebaikan pada apa- apa yang dibencinya, amatlah jaranglah kita jumpai di dalam dunia ini “ (Daxue Bab VIII : 1).

Memahami keburukan yang kita cintai dan memahami kebaikan yang kita benci, merupakan bentuk dari menumbuhkan sikap bijaksana. Ketika kita mencintai sesuatu pada umumnya kita lupa akan kejelekannya, kita menjadi terlena karena rasa cinta terhadap sesuatu yang kita agungkan. Ajaran dalam kitab Daxue ini jelas memberikan kesadaran bagi kita untuk bisa berpikir secara jernih sehingga hal-hal yang kita cintai pasti ada sisi keburukannya yang kita harus waspadi dalam menghadapinya. Sebaliknya kita terbiasa untuk membenci pada sesuatu obyek yang sesungguhnya kita tidak sadari bahwa obyek itu justru adalah hal-hal yang bermanfaat dan baik bagi diri kita.

Sebagai contoh nyata  adalah ketika anak saya Billy sangat benci sekali dengan makanan baru yang dihidangkan. Ia selalu menolak hal yang baru meski belum dicobanya. Penolakan tersebut menjadikan Billy benci akan makanan yang tidak biasa dimakannya. Pada suatu hari ketika kokonya Hengky makan tahu tek mencobakan kepada Billy, namun Billy selalu menolaknya dengan mentah-mentah. Berkat rayuan kokonya Hengky dengan menjilatkan bumbunya, akhirnya Billy bisa merasakan nikmatnya tahu tek tersebut. Hingga sekarang Billy meminta sendiri beli tahu tek. Menurut Billy, tahu tek sangat enak sekali.

Contoh nyata tersebut menunjukan kepada kita bahwa pada umumnya orang itu membenci pada hal-hal yang mereka tidak sadari bahwa dibalik kebenciannya itu ternyata ada hal yang menyenangkan (inilah perspektif), sebaliknya bagi mereka mencintai sesuatu hingga tak disadari bahwa apa yang dicintai ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Maka seorang bijaksana harus memiliki wawasan ini agar mereka paham bahwa dalam menghadapi segala sesuatu itu harus diperiksa secara mendalam, serta dalam menilai sesuatu harus  diteliti  hingga  mendetail.  Dengan  cara  ini  maka tidak akan terjadi suatu kesalahan yang fatal. Sesuatu yang nampaknya baik dihadapan kita belum tentu baik semuanya dan  begitu  pula  segala  sesuatu  yang  nampaknya  jelek dihadapan kita belum tentu jelek seluruhnya. Inilah yang dikatakan bahwa seorang Junzi dalam persoalan dunia tidak mengiyakan dan tidak menolak secara mentah-mentah, namun kebenaranlah yang selalu dijadikan sebagai ukuran.

Dalam kehidupan rumah tanggapun kita harus menghadapi suami maupun isteri dengan pertimbangan yang  bijaksna.  Misalnya  dalam  kita  membenci  harus juga memahami akan kebaikan-kebaikannya sehingga dengan demikian tidak sampai terjadi perceraian akibat hanya melihat satu sisi keburukannya saja tanpa mau mempertimbangkan kebaikan disisi yang lain. Begitu pula dalam mencintai harus melihat juga hal-hal keburukannya (sisi negatifnya) sebagai bagian dari koreksi untuk memperbaiki diri untuk menjadi orang yang lebih baik.

Hancurnya sebuah rumah tangga dan segala hubungan kemanusiaan adalah akibat dari cara pandang yang sempit hingga berakibat mudah dihasut oleh pihak ketiga, maka melalui perenungan dan pandangan yang lebih dalam, kita dituntut untuk menjadi seorang bijaksana yang memiliki pandangan dan pikiran yang luas.

Didalam mencintai seseorang dapat mengerti akan keburukan-keburukan. Didalam membenci seseorang dapat mengerti akan kebaikan-kebaikannya…..” ( Liji I A.I.3.3)

Proses berpikir secara terbalik seperti di atas adalah merupakan bagian dari cara kita untuk membina diri dalam mencari kebenaran. Pembinaan diri adalah merupakan suatu proses yang berjalan sepanjang kehidupan manusia. Manusia selalu melakukan perbaikan hidup melalui perubahan mental manusia. Proses leraning to be human menjadi hal yang terus dilakukan semasa manusia masih hidup di atas dunia ini. Maka pada ayat berikutnya proses pembinaan diri itu berlaku bagi seluruh umat manusia, tidak pandang bulu apa posisinya, jabatannya maupun jenis kelaminnya, semua manusia dari raja (pimpinan hingga rakyat jelata memiliki kewajiban yang sama yakni membina diri.

6.“ Karena itu dari raja sampai rakyat jelata mempunyai satu kewajiban yang sama, yang mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok “( Daxue Bab Utama : 6 )

Pembinaan diri menjadi manusia Junzi yang mampu hidup bermasyarakat secara baik, damai dan sejahtera, keatas melakukan persembahan, persembahyangan, do’a- do’a dan sujud kehadirat Tian Yang Maha Esa.

Proses pembinaan diri manusia menyangkut etika moral menjadi manusia yang baik atau puncak kebaikan (Zhishan) dan juga mencapai pertumbuhan Iman yang mendorong seseorang menjadi manusia yang bisa hidup dalam kebahagiaan Tian Yang Maha Esa (Le Tian ). Ada pertemuan antara perbuatan baik yang disebut dengan puncak kebaikan dengan pertumbuhan Iman seseorang sehingga ia semakin menyadari pentingnya pemahaman lebih dalam akan peran dan fungsi Tian dalam ikut andil menuntun kehidupannya. Pada taraf ini manusia masuk pada puncak Jalan Suci yang juga Puncak Iman.

Maka dikatakan,”Kalau bukan yang telah mencapai Puncak Kebajikan, tidak akan dapat Dia mencapai Puncak Jalan Suci (Dao)   (Zhongyong Bab XXVI : 5)

Sehingga dengan demikian seorang yang Berkebajikan tentunya akan mencapai Dao. Oleh karena itulah disebutkan Weide dongTian (Hanya Kebajikan Tian Berkenan) . Artinya bahwa Weide dong Tian adalah Jalan Keselamatan sekaligus juga sebagai jalan kesuksesan hidup.

Didalam pembahasan oleh Xs.Indarto, yang dimaksud dengan tiga prinsip (1) mingming de (memahami Kebajikan yang cemerlang) sementara di dalam Kitab Sishu terbitan Matakin disebut dengan “Menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya“ (2) zai qinmin (mengasihi rakyat)  dan (3) berhenti pada puncak Kebaikan diartikan dengan “berusaha mencapai hasil terbaik’ (lihat   p.2). Maka menurut hemat saya bahwa yang dimaksud dengan puncak Kebaikan itu adalah proses menuju puncak Kebajikan (De) yang sekaligus puncak Dao (Jalan Suci) sekaligus sebagai puncak Iman yakni memahami kehidupan rohani, bahagia dalam Tian Yang Maha Esa. “ Itulah seorang Junzi yang senantiasa tidak boleh dilupakan, itulah melukiskan Jalan Suci (Dao) yang jaya dan Kebajikan (De) yang mencapai puncak kebaikan, maka rakyat tidak dapat melupakannya” (Daxue Bab III : 4 ).

Oleh karena itu dimensi Ketuhanan menjadi hal yang pokok dalam Kitab Daxue, oleh karean itu kesimpulan dari Xs.Indarto “Pembinaan rohani itu bertujuan agar kecakapan dalam membina kehidupan rumah tangga, masyarakat kenegaraan dan dunia internasional itu dilandasi kebajikan. Dengan demikian, seluruh kehidupan manusia secara utuh terjamin hasil terbaiknya. “Meneliti hakekat tiap perkara, cukuplah pengetahuannya, hati lurus/jujur, membina diri, mengatur rumah tangga, bereskan masyarakat dan negara, dan damailah dunia, keseluruhan delapan program atau disebut Ba Mu, tiga prinsip atau San gang  adalah inti dari ajaran Daxue “ ( lihat hal. 4 ).

Kesimpulan tersebut belum memasukkan unsur Iman dan Tian didalam Ajaran Daxue, padahal yang disebut dengan  meneliti hakekat tiap perkara itu harus dikaitkan dengan Daxue Bab V yang mengandung pengertian Iman yang sangat mendalam. Rupanya Xs. Indarto hanya membahas Daxue pada Bab I sampai pasal 7 saja.

Jikalau kita lihat pada Daxue Bab V : 1 disebutkan “Demikianlah yang dinamai mengetahui pangkal dan demikian yang dinamai memperoleh pengetahuan yang sempurna. (Bab V yang menerangkan hal meneliti hakekat tiap perkara ini sudah hilang, maka disini dipetikkan buah tulisan Zhengzi yang boleh mengartikan bagian ini).

“Adapun yang dinamai meluruskan  pengetahuan dengan meneliti hakekat tiap perkara itu ialah : Bila kita hendak meluaskan pengetahuan, kita harus meneliti Hukum (Li) sembarang hal sampai sedalam dalamnya. Oleh karena manusia itu mempunyai kekuatan bathin, sudah selayaknya tidak ada hal yang tidak dapat diketahui; selain itu juga karena tiap hal di dunia ini sudah mempunyai hukum tertentu. Tetapi kalau kita belum dapat mengetahui Hukum itu sedalam dalamnya, itulah karena kita belum sekuat tenaga  menggunakan  kecerdasan.  Maka  Kitab  Daxue itu mula-mula mengajarkan kita yang hendak belajar, supaya dapat menyelami dalam-dalam segala hal  ihwal di dunia ini. Seorang yang mempunyai pengetahuan Hukum itu sedalam dalamnya, akan menjadikan ia sanggup mencapai puncak kesempurnaan. Bila kita dengan  sepenuh  tenaga  mempelajarinya,  niscaya  pada suatu pagi walaupun mungkin lama kita akan memperoleh kesadaran bathin. Disitulah akan kita lihat semuanya luar dan dalam, halus dan kasar sehingga tiada suatupun yang tidak terjangkau. Demikianlah bathin kita telah sepenuhnya digunakan sehingga tiada yang tidak terang. Demikaianlah yang dinamai mengetahui pangkal, dan demikianlah pula yang dinamai memperoleh pengetahuan yang sempurna” (Daxue Bab V : 1) .

Kesadaran bathin dan mampu melihat yang luar dan dalam, halus dan kasar untuk mencapai segala sesuatu yang kita inginkan ( tiada sesuatu yang tidak terjangkau ), tercapainya puncak kesempurnaan,  maka ini adalah kesadaran bathin yang hanya bisa dimiliki oleh seorang yang telah mencapai Puncak Kebaikan, Puncak Kebajikan, Puncak Jalan Suci ( Dao ), sekaligus Puncak Iman itu. Dimensi Dao ini adalah dimensi Iman   yang menjadi landasan dari Kitab Daxue, bukan sekedar suatu ajaran etika moral saja. Untuk memahami Dao juga harus dilihat dari Kitab Lunyu  dibawah ini :

Zigong   berkata,”   Ajaran   guru   tentang   Kitab-Kitab dapat kuperoleh dengan mendengar, tetapi Ajaran Guru tentang Watak Sejati dan Jalan Suci Tian, tidak dapat kuperoleh(hanya) dengan mendengar” (Lunyu V : 13)

Tentu saja dalam memhami Xing, Dao harus melalui pendekatan Iman yakni pendekatan kesadaran bathin yang paling dalam. Suatu keyakinan akan adanya kekuatan Supra natural, sebagai pengetahuan sempurna yakni pengetahuan yang berasal dari Tian Yang Maha Esa.

7.”Adapun pokok yang kacau itu tidak pernah menghasilkan penyelesaian yang teratur baik, karena hal itu seumpama menipiskan benda yang seharusnya tebal dan menebalkan benda yang seharusnya tipis. Hal ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi” ( Daxue Bab Utama : 7 )

Untuk menyelesaikan persoalan harus melalui cara-cara yang tepat dan benar. Cara dan teknik yang salah akan menjadi pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan baik. Persoalan yang ditangani dengan tepat akan dengan mudah dapat terselesaikan. “Gemar akan hal yang dibenci orang dan benci akan hal yang disuka orang, itulah memutar balikkan Watak Sejati (Xing) ; maka akan membahayakan diri “ (Daxue Bab X : 17)

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:254 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:895 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:116 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:241 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:136 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:406 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:299 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:235 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:177 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:720 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 140 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com