spocjournal.com

Pluralitas Bangsa Sebagai Realitas Menuju Kebangunan Indonesia Baru (Tinjauan Agama Khonghucu)

Oleh : Ws. Ir. Budi S. Tanuwibowo, MM

PENDAHULUAN
Tema dari makalah ini berjudul: ‘Pluralitas Bangsa sebagai Realitas, Menuju Kebangunan Indonesia Baru: Tinjauan Agama Khonghucu.’

Dari tema tersebut, setidaknya didapat 3 (tiga) ‘anak kalimat’ atau ‘kata kunci’ : (i) Pluralitas bangsa sebagai realitas, (ii) Kebangunan Indonesia Baru, dan         (iii) Agama Khonghucu.

Pada pendahuluan ‘Makalah’ ini, ada baiknya kami singgung sekilas tentang Agama Khonghucu.

Nama asli agama Khonghucu adalah ‘Ji Kauw’ (dialek Hokian), atau ‘Rhu Jiao’ (mandarin). Agama ini sudah dikenal ribuan tahun sebelum Nabi Khongcu (Confucius) lahir pada 551 SM. Sebelum Khongcu, cukup banyak deretan nabi lain yang ikut “menegakan’ Rhu Jiao, antara lain Nabi: Hok Hie, Giaw, Sun, I Ien, Ki Chiang, dll. Beberapa ‘penegak agama’ lain yang lahir setelah Khongcu: Cingcu, Cu Su, dan Bing Cu.

Bagi umat Khonghucu, tiada yang mutlak dan abadi kecuali Thian (Tuhan Yang Maha Esa)1). Dilihat tiada terlihat, didengar tiada terdengar2). Namun Tiada sesuatu pun yang tanpa Dia. Maka umat Khonghucu/Rhu/Ji, diwajibakan untuk terus membina diri3), hidup selaras dalam jalan suci Tuhan dan mengikuti watak sejati yang pada dasarnya baik – karena watak sejati itu berasal dari Thian sendiri – dengan tuntunan agama.4)

Umat Khonghucu diwajibakan untuk selalu berupaya menjunjung tinggi Kebajikan, agar bisa mencapai ‘Tengah Sempurna’5) atau setidaknya ‘Tengah harmonis’6), dan minimal mempunyai sikap ‘Tepasarira’7) atau ‘empati yang pro aktif ‘ terhadap sesama.

Agar dapat mencapai kehidupan “Tengah sempurna’ ada 3 (tiga) ‘pusaka’ yang harus selalu ‘diasah’ terus menerus oleh umat Khonghucu, yaitu: Ti, Jien< Yong (Kebijaksanaan, Cinta Kasih, dan Keberanian). Kemudian Ti, jien, Yong , berkembang menjadi 5 (lima ) Kebajikan, Yaitu: Jien, Gi, Le, Ti, Sien (Cintakasih, Kebenaran, Kesusialaan, Kebijaksanaan sehingga dapat Dipercaya di dalah Hidup dan Kehidupan).

Dalam ritualnya, agama Khonghucu mengenal beraneka upacara sembahyang, berpuasa, membersihkan diri, terutama sembahyang Besar Kepada Thian (Keng Thi Kong). Sebagai ‘pegangan’ umat, ajarannya termuat dalam 2 (dua) Kitab Suci, yaitu: Su Si (Emapat yang pokok), dan Ngo King ( Lima Yang Mendasari)8).

PLURALITAS BANGSA SEBAGAI REALITAS
Apa yang dimaksud sebagai ‘bangsa Indonesia’, jelas bukan dalam pengertian ‘kesamaan darah’. Bangsa Indonesia yang kita kenal sekarang ini, lahir karena ‘kesamaan nasib’, sama –sama menderita dalam kurun waktu yang panjang, di bawah penjajahan dan pelaku penindasan yang sama. Itulah sebabnya manusia-manusia atau para penduduk yang mendiami wilayah diantara Sabang-Marauke, kemudian memproklamirkan diri ‘sehidup semati’ sebagai satu kesatuan bangsa, sebagai bangsa Indonesia.

Karena bukan berasal dari ‘keturunan’ atau ‘darah’ yang sama, maka jelas sejak awal bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai macam: suku bangsa dan etnis, dengan segala ragam budaya, adat -–istiadat, agama, kepercayaan, dan bahasanya.

Menyadari sepenuhnya pluralitas atau heterogenitas yang ada, maka para pendiri negara ini secara sadar dan bijaksana sudah membangun dasr negara yang mampu menampung dan mengakomodasi pluralitas yang ada, yaitu;Pancasila.

Di dalam kelima sila yang ada itu, sebenarnya tidak ada satu patah pun – baik dibaca tersurat maupun tersirat- yang bernafaskan diskriminasi, dan tegas sepenuhnya menjamin:

  • Kebebasan memeluk agama dan kepercayaan masing-masing, yang dijamin dalam sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, tanpa ada campur tangan dari negara, apalagi oleh kekuasaan.
  • Tidak adanya perlakuan diskriminasi antar suku bangsa dan atau etnis. Ini dicerminkan sila kedua:’Kemanusiaaan Yang Adil dan Beradab, yang tidak berbicara soal suku bangsa atau atau etnis , melainkan hanya bicara kemanusiaan. Kata berikutnya ‘Adil dan Beradab” menjamin hak dan perlakuan yang sama di depan hukum, sejauh manusia itu sendiri hidup atau berada dalam koridor keberadaban.
  • Tidak adanya diskriminasi antara mayoritas dengan minoritas. Pengertian sila:’Persatuan Indonesia” sama sekali tidak mengandung unsur bahwa di dalam upaya bersama mewujudkan persaudaraan, keutuhan, dan atau persatuan, ada pembedaan di antara pihak yang berjumlah banyak atau sedikit.
  • Tidak adanya pembedaan hak dalam berpolitik adan atau hak ikut berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti dijamin sila ‘Kerakyatan Yang Dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’.
  • Tidak adanya pembedaan hak untuk bersosialisasi dan mencari nafkah ekonomi, seperti dicermikan sila ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’. Di dalam ‘anak kalimat’ ‘Seluruh Rakyat Indonesia’ jelas tersurat tidak ada yang dibedakan , baik pembedaan dalam hal: suku bangsa, etnis, asal usul keturunan, agama, kepercayaan, gender, dsb.


Dari Uraian diatas, maka jelas dan gamblang bahwa sejak dulu para pendiri dan ‘Bapak Bangsa’ telah menyadari benar adanya pluralitas yang dimiliki Indonesia dalam segala hal. Bahkan jauh sebelum itu, para nenek moyang kita sudah menyadarinya, seperti tercermin dalam kalimat indah “Bhinneka Tungggal Ika’.

Pluralitas yang kita miliki itu, oleh para bapak bangsa, bukan hanya didasari dan diterima sebagai sebuah realita, melainkan secara sadar telah diberi perekat dan pengikat yang kuat dalam wujud Pancasila. Sanyang kita telah alpa dan atau keliru dalam menerapkannya, sehingga muncul ketidakharmonisan di sana sini, bahkan dalam wujud yang sangat suram dan banyak menelan korban.

Sekarang bagaimana agama Khonghucu dan Nabi Khongcu khususnya, memandang pluralitas ini ? Dalam agama Khonghucu tidak dikenal terminologi atau istilah bangsa pilihan atau bangsa yang lebih dikasihi Tuhan dibanding bangsa lain. Menurut Khongcu, manusia hanya dilihat kebajikannya. Manusia yang hidup di dalam Jalan Suci, jalan Tuhan, atau yang didalam hidupnya selalu menjunjung Kebajikan, dinamai ‘kuncu’ atau ‘manusia teladan’.

Mereka yang pantas disebut kuncu, adalah manusia yang mampu menggemilangkan (mengamalkan) Kebajikan, hidup mengasihi sesama, dan tahu kapan harus berhenti di puncak kebajikan.9)

Menurut Khongcu, seorang kuncu bisa tinggal dimanapun. Di sini bisa diartikan pula bahwa ia juga ada dimanapun.10) Dijelaskan lebih lanjut bahwa seorang kuncu, setiap kata dan gerak-geriknya akan menjadi teladan bagi sesamanya11). Kebalikan dari seorang kuncu adalah seorang yang rendah budi atau biasa disebut sebagai ‘Siau Jien’.

Ketegasan pandangan agama Khonghucu yang tidak membedakan manusia atas dasar asal-usul keturunannya, dapat dibaca secara mendalam dalam kitab sucinya. Di sana tidak ada satu kalimat pun yang menbeda-bedakan suku atau bangsa yang satu dengan yang lain. Nabi Khongcu tidak terkena ‘stigma’ sejarah12). Ia hanya melihat bagaimana orang datang kepadanya , bukan apa ang diperbuat setelah pergi atau pulang darinya. Sabdanya yang lain, yang sangat populer mengargai pluralitas berbunyi: “diempat penjuru lautan , semuanya saudara’.13)

Sekarang bagaimana Agama Khonghucu dan Nabi Khongcu Memandang Pluralitas agama? Dengan rendah hati Khongcu tidak pernah mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pembawa kebenaran. Dengan penuh ketulusan dan kejujuran, Khongcu mengatakan bahwa ia bukanlah pencipta, namun hanya merupakan penerus Jalan suci Nabi-nabi purba yang hidup sebelum Khongcu. Ia sendiri selalu merasa kurang dan selalu belajar apa dan dari siapa saja. 14)

Sikap kersnya dalam belajar jga ditanamkan kepada murid-muridnya. Meski keras, namun ‘kekerasan’ tersebut lebih ditujukan kepada diri sendiri maupun intern murid-muridnya. Sementara kepada orang lain, Nabi lebih bersikap toleran.15).

Menurut Khongcu, seorang Kuncu akan menuntut dirinya sendiri lebih dulu. Sementara seorang Siaw Jien selau merasa dirinyalah yang paling benar dan selalu menuntut orang lain.16)

Sikap toleran ini didasari keyakinannya bahwa segala sesuatu memerlukan proses alami, dan didasarkan oleh sifatnya yang suka belajar. Ia yakin bahwa seorang kuncu dapat rukun dalam pengertian yang sebenarnya, meski tida sama. Sebaliknya seorang Siauw Jien, meski sama, tetap tidak bisa rukun.17)

Dikatakan lebih lajut oleh cingcu – salah satu murid utama Nabi Khongcu – bahwa seorang kuncu akan secara sadar menggunakan pengetahuannya untuk memupuk persahabatan. Dengan terjalinnya persahabatan yang didasari kebijaksanaan berlandaskan pengetahuan kitab itu, maka cinta kasih dapat lebih dikembangkan untuk kebahagiaan bersama. 18)

Di dalam kegiatan belajarnya yang tak kenal henti dan jemu, tak jarang Khongcu melakukan kekeliruan. Bila hal itu terjadi dan ada orang yang mengingatkannya, ia sungguh bergirang hati. Dan secara sadar berani memperbaikinya. 19) Sikap baik ini meneladani sikap para Nabi purba sebelumnya yang kemudian juga menular pada sebagian murid-muridnya.20)

Sikap toleran yang didasari wawasan yang mendalam, membawa satu kesadaran dalam diri Nabi Khongcu untuk tidak mencampuri sesuatu yang bukan menjadi porsinya. Dari pengalamannya yang panjang, ia sampai pada ‘kesimpulan’ bahwa segala sesuatu yang dilakukan di luar porsinya, lebih banyak mudaratnya.21)

Dengan penuh kesadaran, Khongcu melarang murid-muridnya untuk tidak berdebat mengenai adanya perbedaan jalan suci.22) Secara Implisit anjuran ini menyiratkan pengakuan adanya Jalan suci lain di luar jalan suci yang dibawakannya. Lebih jauh lagi, Khongcu bahkan mengakui kesetaraan dan kebenarannya.

Pada suatu saat ketika Jalan suci yang dibawakannya terancam, ia bahkan melarang muridnya untuk mempertahankan dengan kekerasan. Ia Yakin bahwa Cinta Kasih akan dapat mengalahkan kekerasan. Ia Yakin bahwa bila Tuhan menghendaki jalan suci –Nya tetap lestari, tiada suatu kekuasaanpun yang bisa meruntuhkannya. Demikian juga sebaliknya. 23)

Sikap toleran, kebesaran jiwa , dan sikap anti kekerasan, yang telah dijiwai Khongcu diatas, pada dasarnya dilandasi satu sikap yang sangat logis. Seseorang atau sekkelompok orang, tentu tidak ingin diperlakukan tidak sebagaimana mestinya.

Dalam hal mengenai kepercayaan, keyakinan, agama, dan atau keimanan, tentu setiap orang atau sekelompok orang punya sesuatu yang sangat diyakini kebenarannya. Bila kemudian ada pihak lain yang mencoba ‘memaksakan kebenarannya’, maka tindakan tersebut tentulah akan sulit di terima, dan bahkan bisa mengakibatkan dis harmonis. Atas dasr pertimbangan itulah maka secara sadar Khongcu menganjurkan sikap ‘tepasarira’.

Penekanan khusus yang diberikan Nabi Khongcu tentang betapa pentingnya ‘tepasarira’ ini, tertuang dalam sebuah nasihat Khongcu kepada Cu-Kong, salah satu muridnya. Dikatakannya bahwa jika ada satu kata yang dapat dijadikan sebagai pedoman di dalam hidup, maka kata itu adalah ‘tepasarira’.

Sikap Khongcu dalam menghargai pluralitas  tidak terbatas pada masalah : etnis, suku dan keyakinan saja. Ia juga tidak membedakan antara yang kaya dengan yang miskin sekalipun. Siapun yang datang kepadanya, akan diterimanya dengan senang hati.

Meski agama Khonghucu memberikan penghargaan khusus untuk mereka yang tinggi kebajikannya, dan juga yang mempunyai prestasi yang lebih baik, atau dalam istilah sekaran berpijak pada sistim meritokrasi24), dalam hal tertentu yang tidak ada kaitannya dengan prestasi, namun semata-mata harus didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan dan kesusilaan semata, Khongcu secara tegas tidak melakukan pembedaan.

Ketika Gan Yan, seorang muridnya yang terpandai meninggal dunia, murid-murid yang lain meminta Khongcu untuk membelikan pembungkus peti mati untuk pemakaman Gan Yan, dengan bijak Khongcu menjawab bahwa mesti Gan Yan lebih pandai dibanding yang lain, baginya sama saja. Semua murid sudah dianggap sebagai anak sendiri, sehingga harus diperlakukan sama, dalam hal yang memang tidak perlu untuk dibeda-bedakan.25)

Suka atau tidak suka, bahkan di dalam sistem kenegaraan yang sangat ketat membatasi wewenang, peranan pimpinan puncak tetaplah ‘sentral’ dalam arti akan dijadikan teladan bagi yang lain. Menyadari hal itu, dalam mempertimbangkan bahwa manusia hakikatnya mempunyai banyak kelemahan, maka Khongcu memberi nasihat kepada para pimpinan di level menenah untuk bisa menjadi semacam ‘filter’, menyaring apa yang kurang baik agar dampak negatifnya tereliminir.26) Bahkan selain menekankan pentingnya kontrol, larangan perangkapan jabatan dan pembatasan wewenang27), Khongcu sangat menekankan pentingnya semua pihak untuk bersikap kritis demi kebaikan bersama. 28)

Disamping sangat menghormati pluralitas, Khongcu menekankan pentingnya keadilan, termasuk keadilan di bidang ekonomi. Jika ada keadilan, termasuk keadilan di bidang ekonomi. Jika ada keadilan, tidak ada masalah kemiskinan.29) agar keadilan bisa segera di capai, Khongcu menyarankan untuk bersikap ‘empati yang pro aktif’. Dikatakan: ‘Jika diri sendiri ingin tegak, maka perlu membantu orang lain untuk tegak’.30) Bila ditarik lebih jauh, maka jika kita ingin maju, kita wajib pula membantu orang lain maju. Ini adalah sikap yang bijak sekaligus sangat logis. Adalah mustahil kita maju sendiri sementara orang lain tertinggal jauh dibelakang. Jika ini terjadi dan semakin menciptakan jurang yang lebar, maka akibatnya bisa menghancurkan semuanya. Dengan membantu orang lain maju, maka setidaknya kita telah melakukan tiga hal penting : membangun sebuah hubungan yag lebih harmonis; membantu mengatasi problema umum yang dihadapi masyarakat, seperti kebodohan, dan kemiskinan; serta mengeliminir melebarnya jurang perbedaan.


INDONESIA BARU YANG KITA IDAM-IDAMKAN
Banyak diantara kiata yang menginginkan tercapainya ‘masyarakat madani’. Tidak kurang banyak pula yang sangat mengidam-idamkan tercapainya ‘indonesia baru’. Pertanyaannya sekarang , apa sih yang dimaksud dengan ‘Indonesia Baru ‘ itu?

Dalam perspektif Khonghucu, kata ‘baru’ bukan merupakan hasil atau batas akhir. Kata ‘baru’ justru merupakan sebuah proses yang tak pernah berhenti.31) Apa yang ‘dianggap’ baru  saat ini, tahun depan mengkin sudah menjadi usang. Bahkan contoh ekstrim di bidang teknologi, perubahan atau pembaruan terjadi bahkan dalam hitungan detik. Menyadari hal itu, maka agama Khonghucu menganjurkan umatnya untuk selalu dan selalu tekun belajar memperbaharui diri, tanpa mengenal jemu dan henti, dengan tetap menjaga dan berada dalam koridor Firman Thian.

Kalau kita berbicara tentang institusi negara – dalam hal ini istitusi yang bernama ‘Negara Kesatuan Republik Indonesia’, maka bila kita ingin melakukan pembarahuan, setidaknya harus membahas dan mengkaji 2 (dua) hal pokok, yaitu pembaharuan: (i) sistem ketatanegaraan, serta (ii) moralitas dan spirit manusia Indonesia Baru yang imani.

Di muka sedikit banyak telah disinggung tentang bagaimana sebaiknya institusi kenegaraan diatur, dikaitkan dengan terbangunnya moralitas dan spirit manusia ‘Indonesia Baru’, dipandang dari perspektif agama khonghucu. Namun agar benang merahnya jelas terlihat, maka dibawah ini akan di beri beberapa penekanan dan penjabaran lebih lanjut.

A. Yang berkait dengan sistem ketatanegaraan:

  • Adanya pengakuan, penghormatan, dan jaminan negara atas hak-hak dasar (asasi) manusia yang bersifat universal, dengan dasar nilai luhur keimanan dan keadilan.
  • Dijunjung tingginya demokrasi, karena pada dasarnya suara rakyat adalah cerminan suara Thian.
  • Ditegakan dan dihormatinya supremasi hukum.
  • Adaanya pembatasan pembagian tugas dan kewenangan yang jelas dan tegas, dengan didukung fungsi kontrol yang baik, serta jaminan tidak adanya intervensi dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.
  • Ditegakannya transparasi dan keterbukaan.32)
  • Diutamakannya pendidikan33), dengan menjunjung tinggi sistem meritrokasi secara transparan, dengan didasari penilaian integritas dan kredibilitas – secara terbuka- sebagai pokok dan ‘reward and punishment’ sebagai ujung.


B.Yang berkait dengan moralitas dan spirit manusia Indonesia Baru yang imani, bisa diringkas dalam satu kalimat, yaitu: ‘tercapainya masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati dan menerapkan pancasila , dengan sebenar-benarnya’. Dalam kosa kata Khonghucu adalah’ tercapainya manusia Kuncu.’

Ciri manusia kuncu menurut agama Khonghucu, bila dicoba untuk ‘sedkit’ diuraikan adalah sbb:

  • Beriman kepada Thian, Tuhan Yang Maha Esa.
  • Menjunjung tinggi kebajikan
  • Menjunjung tinggi kemanusiaan dan persaudaraan
  • Berupaya hidup dalam ‘tengah sempurna’ atau setidaknya ‘tengah harmonis’
  • Tepasarira, toleran, menghargai, menghormati, dan bahkan ‘merayakan’ perbedaan sebagai sebuah kenyatan.
  • Bersikap inklusif, tidak bersikap partisan dan mementibgkan kelompok dan atau golonganya sendiri. 34)
  • Tekun belajar, membina diri, dan selalu berupaya keras untuk terus memperbaharui diri menuju kebaikan, dengan menempatkan pendidikan pada posisi yang sentral.
  • Jujur dan berhati lurus.
  • Menjunjung tinggi cinta kasih, Kebenaran, kesusialaan, dan kebijaksanaan, sehingga dapat dipercaya di dalam hidup dan kehidupan
  • Tahu malu, berani mengakui kesalahan, dan secara sadar berani melakukan introspeksi dan perbaikan diri.
  • Mandiri, namun mempunyai empati yang pro aktif untuk selalu berupaya membuat lingkungannya maju.
  • Pantang menyerah dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih kemajuan, diatas dasar/ landasan moralitas keimanan.


Daftar uraian diatas dapat terus diperpanjang, karena apa yang dijelaskan dalam Su Si dan Ngo King sangatlah luas. Meminjam ‘kalimat penjelasan’ dalam Tiong Yong, Kitab itu semula membicarakan tentang ‘satu hukum’, lalu dibentangkan sampai meliputi berlaksa perkara, dan akhirnya dikembalikan menjadi satu hukum. Ringkasnya, yang dimaksud dengan satu hukum itu adalah Jalan Suci Tuhan. Menurut keyaknan umat Khonghucu, yang satu itu – yaitu yang berkenan kepada Thian- hanyalah Kebajikan. Bila diurai secara ringkas, Khongcu menyebutnya sebagai ‘tri pusaka’ yitu : Ti – Jien- Yong.

PLURALITAS BANGSA SEBAGAI REALITAS MENUJU KEBANGUNAN ‘INDONESIA BARU’, DENGAN MODAL UTAMA MANUSIA ‘TI-JIEN-YONG’
Di MUKA TELAH DIBAHAS tentang kenyataan objektif Indonesia yang serba pluralis, baik dari sudut: suku bangsa, etnis, agama, kepercayaan, budaya, adat-istiadat, bahasa, dll. Kenyataan objektis yang merupakan karunia ThanTersebut, tidaklah patut disesali apalagi ditangisi, melainkan sudah seharusnya dan sewajarnya disyukuri, diterima sebagai sebuah kenyataan, dan bahkan perlu dirayakan sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan.

Kenyataan dan pengalaman mengajarkan kepada kita, bahwa segala sesuatu selalu mempunyai 2 (dua) sisi yang berlawanan. Pisau bisa untuk membantu seorang ibu dalam mewujudkan kasihnya pada keluarga, bila digunakan untuk memotong makanan bagi anggota keluarga yang dikasihinya. Namun barang yang sama akan berarti sebuah petaka, bila digunakan oleh orang yag jahat.

Sebuah pena yang indah, ber-merk terkenal, dan berharga mahal, akan sanagt berarti bila digunakan untuk menandatangani sebuah kontrak kerja pembangunan proyek raksasa yang bermanfaat bagi banyak orang. Sementara benda yang sama bisa pula digunakan untuk menfitnah dan menyudutkan orang lain yang tak berdosa.

Contoh pisau dan pena diatas, bisa diganti dengan pluralitas yang secara objektif dimilikimoleh negara kita. Kita bisa menggunakan pluralitas sebagai aset positif, bisa juga sebagai sumber petaka yang dahsyat. Semuanya tergantung kita, dan semuanya terpulang kembali kepada kita sendiri. Cobaan yag datang dari Tuhan bisa dihindari, karena Tuhan tidak pernah mengujiumatnya melabihi batas kemampuannya, Namun bahaya yang datang dari diri sendiri, justru sulit untuk dihindari.

Berbekal dari pesan moral alenia diatas, maka kalau kita semua sebagai satu kesatuan bangsa benar-benar mau bahu-membahu membangun Indonesia baru, maka pluraritas yang ada bisa kita jadikan modal yang berguna. Namun jangan membayangkan hasilnya langsung jadi, karena seperti telah diuraikan dimuka, semuanya bukan merupakan hasil akhir, tetapi sebuh proses yang tidak pernah dan tidak kenal kata selesai.

Satu hal perlu digarisbawahi di ujung ‘makalah’ ini adalah mengenai manusia Ti-Jien-Yong, atau manusia yag mempunyai : Kebijaksanaan , Cinta Kasih dan Keberanian. Inilah ciri utama manusia Kuncu, yang doperlukan tidak saja bagi kebangunan Indonesia baru, namun bagi ‘Kebangunan umat Manusia Baharu’.

Untuk menjadi manusia bijaksana, tentunya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Untuk meraih kebijaksanaan, setidaknya ada beberapa pra-syarat yang harus dipenuhi, misal: tekun belajar dan mengajar agar berwawasan luas, mempunyai cukup pengetahuan tentang apa yang benar dan tidak benar, bersikap tengah dan tidak memihak, mementingkan kepentingan umumdi atas kepentingan kelompok dan golongan, adil, dsb.

Menjadi manusia yang berperivintakasih juga tidaklah mudah. Selain harus menjunjung moralitas kemanusiaan, tepasarira, dan mempunyai empati yang proaktif, juga memerlukan semangat pengabdian yang tulus dan tak kenal capai, tidak membeda-bedakan, mempunyai jiwa dan semangat pengorbanan, dsb.

Yang terakhir, untuk menjadi manusia yang ‘Yong’ atau berani juga tidaklah gampang. Berani disini bukanlah berani asal berani, nekad, atau berani bukan karena benar. Yang dimasud disini adalah berani yang dilandasi kebenaran dan kesusilaan. Syarat untuk mencapai keberanian semacam itu, tentunya tidak mudah, karena orang yang mempunyai keberanian yang berlandaskan kebenaran dan kesusilaan, haruslah; tahu malu, berani untuk mengakui kesalahan dan sekaligus berani mengoreksi sendiri, tahu diri, tidak sombong, jujur, tidak menonjolkan egonya, dsb.

Khusus tentang tahu malu, ingin kami beri tekanan khusus, mengingat tidak sedikit diantara kita yang sudah ‘ketlingsut’ rasa malunya. Sebenarnya perbedaan manusia dengan binatang tidaklah banyak. Diantara yang sedikit itu adalah rasa tahu malu pada manusia.

PENUTUP
Sebagai penutup kami ingin menyampaikan syair lagu sebuah nyanyian anak-anak pada jaman dahulu, semasa kehidupan Nabi Khongcu. Potongan syairnya berbunyi: ‘Sungai Chong-long di kala jernih boleh mencuci tali topiku. Sungai Chong-long di kala keruh boleh untuk mencuci kakiku’.35)

Betapa ironis apa yang dialami oleh air sungai itu. Di kala jernih ia begitu dihormati. Namun dikala keruh airnya, kedudukannya langsung merosot. Padahal airnya keluar dari sumber yang itu-itu juga, dan airnya mengalir di sungai dan saluran yang sama pula. Begitulah memang dunia. Nmun semua itu harus bisa diambil hikmahnya. Membina diri, dan selalu tekun memperbaiki diri, itulah yang perlu dilakukan. Semoga Bangsa indonesia dapat berjuang keras memperbaiki citranya yang kini terlanjur memburam, sehingga ia dapat kembali menjadi seperti air sungai Chong-long, di kata airnya jernih berkilau.

Akankah bangsa Indonesia dapat meraiha cita-citanya yang luhur untuk membangun Indonesia baru? Jawabannya tergantung dari kita semua, apakah mau berupaya sungguh-sungguh atau tidak. Jika kita semua yakin, percaya dan mau bersungguh-sungguh berusaha sekuat tenaga dan pikiran, maka cita-cita mewujudkan Indonesia baru yang jauh lebih baik, akan dapat dicapai lewat peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu. 36)

Sungguh hanya oleh Kebajikan Thian Berkenan, maka miliki dan dekap erat yang satu itu: Kebajikan. Siancai.
  
 
 

Comments   

 
0 #1 miko 2015-03-14 14:57
:-)

artikelnya hebat :-)
 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:50 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:366 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:272 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:210 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:144 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:689 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:662 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:142 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:222 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1175 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 51 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com