spocjournal.com

BAB V Hasil Penelitian : Gambaran Umum Pedagang Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya

Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM

Gambaran Umum Pedagang Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya

Pedagang atau pengusaha Tionghoa lebih terkenal dengan istilah Hoakiau sejak diterbitkan buku Hoakiau di Indonesia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer tahun 1960. Dalam pandangannya terungkap didalam iklan buku Hoakiau yang memuat pesan berikut: Kenalilah Minoritas-minoritas Indonesia untuk mendapat gambaran yang jelas tentang Tanah Air dan Rakyat Indonesia. Istilah Hoakiau sebenarnya berarti Tionghoa perantauan namun ia telah mengubah artinya menjadi orang Tionghoa (Toer, 1998: 3).

Menurut Toer, pengusaha etnis Tionghoa (istilah Toer dengan Hoakiau) mendapat kedudukannya bukan dengan serta merta, tetapi melalui perkembangan sosial yang panjang di tengah sejarah masyarakat Indonesia. Pedagang Etnis Tionghoa telah mulai berada di Indonesia (nusantara) sejak awal mula sebelum ada proses perdagangan resmi dengan pemerintah Tiongkok. Perdagangan resmi dimulai dari Dinasti Tang sampai Dinasti Ming (1368-1644), hubungan Tiongkok dengan Nusantara mencapai puncaknya dengan dilakukan tujuh kali pelayaran Laksamana Cheng Ho ke Samudra Barat pada abad ke-15 (Liji, 2012:5). Sedangkan di era modern hubungan Tiongkok Indonesia dimulai dari 1950-1965, tanggal 13 April 1950 Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok membuka hubungan diplomatik.

Pada abad ke 15 kedatangan orang Tionghoa diawali dengan  misi kerajaan, misi keagamaan, dan misi lain non perdagangan. Mereka datang ke Indonesia jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Posisi kaum imigran Tionghoa pada masa lalu ada pada sebuah point of no return, sehingga terpaksa berjuang menghadapi kemungkinan terburuk atau gugur, tetapi tidak bisa mundur. Bagi imigran Tionghoa menjadi minoritas dan akhirnya hidup sebagai pedagang adalah pilihan karena terpaksa sejak pertama. Perdagangan pada zaman akhir abad 19 atau awal 1900-an, abad 20, di wilayah nusantara berkembang pesat, maka imigran Tionghoa yang menggeluti bidang ini menemukan momentum maju. Kian hari posisi mereka sebagai pedagang menjadi kian kuat dan penting (Usman, 2010:15). 
Perdagangan yang dilakukan oleh Etnis Tionghoa di Surabaya tumbuh pesat dengan interaksi Tionghoa dan Bumi Putera tetap berlangsung. Tulisan Von Faber (1931) dalam Musianto (2003:200) yang berjudul “Oud Soerabaia dan Nieuw Soerabaia” selalu mengacu pada pertumbuhan ini. Nama Tionghoa selalu banyak dikaitkan dengan bidang umum seperti perdagangan dan industri, sedang di bidang-bidang lain selalu terkait pada kelompoknya sendiri misalnya keagamaan, adat istiadat, kawasan, tempat tinggal, dan seterusnya.

Bisnis etnis Tionghoa di Surabaya tidak lepas dari keadaan pasar di Surabaya sebagai pusat bisnis Etnis Tionghoa, dan berkembang di sepanjang Kali Pegirian dan Surabaya (Von Faber 1931 dalam Musianto, 2003:201). Pasar itu berkembang berdasar daerah strategis, bertemunya pembeli dan penjual karena basis bahan baku, tingkat hunian dan kecenderungan pengembangan kota. Ditinjau dari bahan baku, daerah makin meluas saja karena perubahan teknologi angkutan yang makin canggih. Ditinjau dari tingkat hunian, maka perkembangan Surabaya menjadi kota yang makin mengarah ke segala arah, bahkan menjangkau jarak dengan kota-kota sekitarnya seperti Gresik dan Sidoarjo.

Pusat-pusat perdagangan etnis Tionghoa di Surabaya ada di sekitar Jembatan Merah yakni  Kembang Jepun, Waspada, Bongkaran, Slompretan, Karet, Bibis, Coklat, Jagalan, dan Kapasan  terus berkembang sampai Gemblongan, Peneleh, Bubutan, Kramat Gantung, Baliwerti, Penghela dan lain-lain. Dalam era modern saat sekarang pusat-pusat bisnis Etnis Tionghoa juga berada pada Pasar Atom, Pasar Pabean, Pasar Genteng (pusat elektrik), PGS (Pusat Grosir Surabaya), ITC, WTC (pusat handphone), THR (pusat komputer) dan Pasar Kapas Krampung, Pasar Kapasan (garment). Tempat-tempat tersebut banyak terdapat pedagang eceran Etnis Tionghoa. Namun perkembangan bisnis Etnis Tionghoa terus menyebar hingga di seluruh pelosok kota Surabaya termasuk wilayah Gresik dan Sidoarjo. Wilayah-wilayah itulah yang menjadi target penulis sebagai sumber sampel penelitian.

Dari hasil penelitan penulis jumlah dagang eceran etnis Tionghoa yang berada di Surabaya dan menyebar pada  31 Kecamatan sebanyak 19.258 pedagang.    
Jumlah tersebut tidak hanya berdagang pada pusat-pusat bisnis seperti tersebut di atas, melainkan mereka juga memasuki wilayah pergudangan seperti pergudangan Margomulyo, Kalianak, Gedangan dan pertokoan-pertokoan yang menyebar di seluruh Surabaya. Di setiap pertokoan yang dekat dengan perumahan banyak sekali pedagang Etnis Tionghoa yang membuka usaha di situ. Ada juga mereka yang menggunakan  tempat tinggal misalnya perumahan  untuk kegiatan bisnis. Kegitan bisnis yang terakir ini dengan mengandalkan tenaga  pemasaran (marketing) sebagai ujung tombak dalam mengembangkan bisnisnya. Kebanyakan dari mereka berkeliling di beberapa daerah bahkan keluar kota untuk memasarkan barangnya. Hasil dari order yang diterima umumnya disiapkan di rumah serta dipacking kemudian dikirim via ekspedisi. Bisnis semacam ini disamping menghemat biaya juga lebih elastik karena setiap saat pembeli dapat order dan penjual dapat juga menyiapkan barang dagangannya tanpa harus menunda seperti ketika mereka membuka toko yang dibatasi oleh waktu. Pekerjaan semacam ini bisa dikerjakan oleh suami istri serta anak-anaknya tanpa harus menggunakan banyak karyawan. Pedagang semacam ini sering disebut dalam kalangan Tionghoa sebagai pedagang “kelilingan”. Umumnya mereka adalah pedagang yang baru merintis usahanya sehingga mereka belum bisa membeli toko atau gudang yang diperlukan. Namun banyak juga pedagang jenis ini yang sengaja tidak mau membuka toko. Justeru pedagang semacam ini memiliki volume penjualan yang tidak sedikit.

Pusat bisnis seperti Kembang Jepun juga ditemukan pedagang yang hanya memiliki toko berukuran 4 x 4 meter yang terdiri dari dua meja dan dua kursi. Tampak dari luar toko tersebut terasa sepi dan  jarang orang yang berkunjung. Namun hal itu tidak bisa memprediksi berapa besar volume penjualan yang mereka dapatkan. Toko-toko semacam itu justeru memiliki omset milyaran rupiah. Inilah gambaran realitas Pedagang Eceran Etnis Tionghoa yang tidak bisa memprediksi berapa besar perputaran uang yang dimilikinya. Di lapangan ditemukan pedagang semacam ini jumlahnya sungguh sangat besar dan tidak bisa diremehkan. 
Pada pasar yang khusus menjajakan barang tertentu atau pasar di pinggir-pinggir kota maka kurang terdapat hubungan yang intens antara Tionghoa dan Bumi Putera (Pasar Burung Bratang, pasar krempyeng di bererapa jalan dalam kota ataupun pasar kecil di pinggir kota). Pedagang Eceran Etnis Tionghoa jarang ditemukan di pasar-pasar tersebut, namun barang-barang yang ada di dalam pasar itu umumnya berasal dari pedagang Etnis Tionghoa sebagai penyuplai. Ada kecenderungan memberikan nama-nama tertentu pada tiap pasar sehingga pasar tersebut memiliki fungsi tertentu, misalnya Pasar Pabean disebut Chinese Market, Pasar Ampel disebut Pasar Timur Tengah atau India Market, Pasar Bratang disebut Pasar Three in One, yaitu sebagai pasar makanan, pasar buah dan pasar burung, Pasar Blauran disebut Pasar Makanan Tradisional, Pasar Turi disebut Sunday Market (waktu itu, Thief Market atau pun Black Market menurut Rudililananda (1996:55) dalam Musianto,2003:201).       

Para pedagang eceran Etnis Tionghoa di Surabaya awalnya tinggal di tempat atau toko mereka berada. Sebagian besar kehidupannya dihabiskan dalam bisnis dan kadang-kadang anak-anak mereka sejak pagi telah diajak ke toko. Mereka berangkat dan pulang sekolah dari toko-toko mereka. Tradisi ini masih dilaksanakan oleh sebagian pedagang Etnis Tionghoa di Surabaya. Hal inilah yang menyebabkan anak-anak Etnis Tionghoa sudah mengenal lingkungan bisnis sejak kecil. Mereka bermain bahkan tidur pun di lingkungan toko. Ada sebagian anak-anak mereka yang sudah remaja ikut membantu orang tuanya menjual barang dagangannya, ada pula yang menjadi kasir, ada juga yang  ikut menyiapkan barang dagangannya, mengatur barang dan menyiapkan barang yang akan dikirim lewat ekspedisi. Anak-anak pedagang etnis Tionghoa yang laki-laki kadangkala ikut bersama sopir mengirim barang ke pelabuhan dan tempat di mana barang harus dikirim. Sementara para istri pedagang etnis Tonghoa biasanya ikut membantu di toko sebagai kasir atau tenaga penjualan.

Banyak para pedagang etnis Tionghoa yang dalam kehidupannya walaupun mereka sudah sukses tetap sederhana baik berpakaian maupun makanan yang mereka santap. Dalam hal makanan umumnya mereka makan makanan sama dengan para pegawainya, misalnya makan sate, nasi goreng, bakso, gado-gado, pangsit mie dan makanan tradisional yang dijual di sekitar toko mereka. Hidup hemat dan sederhana serta Cingjay Etnis Tionghoa tersebut sebagai warisan leluhur yang diberikan kepada mereka secara turun-temurun. Mereka merasa bahwa hidup ini harus mengikuti nasehat orang tua agar hidup sederhana sehingga bisa mengumpulkan harta lebih banyak untuk mengembangkan usahanya.

Seperti kesaksian dari sejarahwan Onghokhan (2009:42) bahwa “Orang-orang Tionghoa peranakan yang bekerja pada umumnya hemat sekali. Mereka selalu memberi nasehat pada keturunannya untuk tidak berfoya-foya memboroskan uang. Kadang-kadang nasehat yang baik itu dimasukkan ke dalam testamen dan menjadi kemauan terakhir, karena di kalangan generasi muda nasehat tersebut seringkali tidak ditaati”.

Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Etnis Tionghoa kaya yang pada awalnya adalah para imigran yang miskin. Ketika kemudian mereka menjadi kaya, sifat-sifat ketika mereka miskin masih tetap melekat dan selanjutnya dijadikan “nasehat” bagi generasi berikutnya. Tradisi menasehati pada generasi berikutnya selalu diterapkan oleh kaum etnis Tionghoa agar anak cucunya di kemudian hari tidak kekurangan. Nasehat ini bisa dilihat dari banyaknya pedagang Etnis Tionghoa yang mendapatkan ajaran etika Confucius sebagian besar dari  nasehat orang tua (45%).  Banyak pengusaha etnis Tionghoa, khususnya yang berada di wilayah Kembang Jepun adalah pengusaha pada generasi kedua. Bahkan ada yang sudah pada generasi ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa nasehat-nasehat positif dari leluhurnya masih tetap dipertahankan dan diterapkan. Meskipun ada sebagian mereka yang sudah tidak mengikuti tradisi Tionghoa, khususnya mereka yang sudah mengenyam pendidikan Barat dan mereka banyak mengikuti agama baru seperti Katholik, Kristen dan Islam, namun norma-norma yang diajarkan orang tuanya tetap melekat hingga sekarang. Seperti dikatakan Bob Widyanto bahwa “Orang-orang Tionghoa meskipun tidak mengakui sebagai sekte Khonghucu (Confucius), tetapi tingkah lakunya masih bersumber pada tradisi Confucius”.  Pendapat Bob tersebut membuktikan bahwa para Pedangang Eceran Etnis Tionghoa di Surabya tabu melakukan hal-hal yang menyimpang dari tradisi Confucius. Misalnya toko dibangun harus berdasarkan Fengsui, di toko mereka ditempel kaca penolak (kaca cembung untuk menolak chi negatif, sedangkan kaca cekung untuk menarik chi= hawa positif), mereka masih pergi ke Gunung Kawi dan Klenteng untuk memohon agar bisnisnya lancar. Di sisi lain Etika Confucius diterapkan oleh Pedagang Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya bisa dilihat dari cara-cara mereka berbisnis yang selalu berpegang pada nilai-nilai kejujuran (Xin). Umumnya mereka tidak mendapatkan barang dari pemasok (supplier) dengan membayar kontan, melainkan dengan kredit dengan waktu satu atau dua bulan. Pemberian kredit yang panjang tersebut membuktikan akan tingkat kepercayaan pemasok kepada Pedagang Eceran Etnis Tionghoa. Bagi Pedagang Eceran Etnis Tionghoa, kepercayaan tersebut dijaga betul agar kepercayaan itu terpelihara dengan baik. Kadangkala mereka menjual barang dengan kontan kepada pembeli dengan harga sama yang diberikan oleh pemasok, sementara hasil penjualan kontannya disimpan di bank untuk mendapatkan bunga. Sistem ini sering dilakukan oleh pedagang Etnis Tionghoa, sehingga para pedagang baru (pemain baru) akan sulit masuk dalam wilayah Kembang Jepun mengingat harus investasi  modal baru dalam jumlah besar sementara hanya mendapatkan keuntungan yang sangat kecil (break even point-nya lama sekali).   

Di samping Xin (kepercayaan), Pedagang Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya memiliki jaringan (Guanxi) antar pengusaha. Guanxi ini dipraktekan ketika para pedagang mendapatkan pesanan (order) dari pelanggan dan kebetulan barang yang diminta lagi kosong, maka umumnya mereka meminjam kepada teman bisnis lainnya. Kemudian barang itu akan dikembalikan berupa barang ketika pemasok telah mengirimnya. Kadangkala mereka mengembalikan barangnya dengan menukar uang seharga modal pokoknya. Sistem ini merupakan bentuk Guanxi yang dilakukan sesama Pedagang Eceran Etnis Tionghoa. Oleh karena itu, ketika ada pembeli mencari barang pada Pedagang Eceran Etnis Tionghoa, mereka berusaha mencarikan barang yang dibutuhkan calon pembeli kepada sesama rekan bisnis.


Deskripsi Karakteristik Responden


1. Status Perkawinan                                                             

Untuk mengetahui karakteristik status perkawinan responden dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1.
Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan


Status Keluarga

Frekuensi

Prosentase (%)

Kawin

216

90%

Belum Kawin

10

4%

Janda / Duda

14

6%

Total

240

100%

Sumber: Tabulasi kuisioner penelitian
Tabel 5.1. menunjukkan status perkawinan responden yaitu 216 responden (90%) telah menikah, 10 responden (4%) belum menikah dan 14 responden (6%) berstatus janda/duda. Data tersebut dapat disimpulkan bahwa status perkawinan responden yang telah menikah menempati urutan teratas atau terbanyak.


2. Jenis Kelamin

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5.2. Tabel 5.2. menunjukkan jumlah responden laki-laki sebanyak 202 responden (85%) dan perempuan 38 responden (15%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah responden laki-laki lebih banyak daripada perempuan.

Tabel 5.2.
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Jenis Kelamin

Frekuensi

Prosentase (%)

Perempuan

38

                  15%

Laki-Laki

202

85%

Total

240

100%

               Sumber: Tabulasi kuisioner penelitian


3. Usia atau Umur

Karakteristik responden berdasarkan usia atau umurnya dapat dilihat pada Tabel 5.3.

Tabel 5.3.
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia


Usia

Frekuensi

Prosentase (%)

20 – 39

25

10%

40 – 49

104

43%

50 – 59

81

34%

               ≥ 60

30

13%

Total

240

100%

Sumber: Tabulasi kuisioner penelitian
Tabel 5.3. menunjukkan usia responden, yaitu 104 responden (43%) berusia antara 40-49 tahun.  Lainnya, 81 responden (34%) berusia 50-59 tahun, 30 responden (13%) berusia di atas 60 tahun dan 25 responden (10%) berusia 20-39 tahun. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa usia responden 40-49 tahun merupakan jumlah terbanyak dari kelompok usia responden.


4. Lama Usaha

Karakteristik responden berdasarkan lama usaha yang telah digeluti atau dijalankan dapat dilihat pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4.
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Usaha


Lama Usaha

Frekuensi

Prosentase (%)

1 – 5 tahun

35

14%

6 – 10 tahun

54

22%

11 – 15 tahun

27

11%

>15  Keatas

115

47%

Total

240

100%

Sumber: Tabulasi kuisioner penelitian
Tabel 5.4. menunjukkan lama usaha responden, dimana terdapat 115 responden (47%) memiliki usaha lebih dari 15 tahun. Sebanyak 54 responden (22%) memiliki usaha antara 6-10 tahun, 35 responden (14%) memiliki usaha antara 1-5 tahun dan 27 responden (11%) memiliki usaha antara 11-15 tahun.  Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki usaha di atas 15 tahun menempati urutan pertama atau terbanyak.


5. Tingkat Pendidikan

Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 5.5.  Hasil rekapitulasi menunjukkan responden yang berpendidikan S2 4 responden (2%), berpendidikan S1 99 responden (41%), berpendidikan Diploma 19 responden (7%), berpendidikan SMA 100 responden (42%), berpendidikan SMP 13 responden (5%), dan berpendidikan SD 5 responden (3%).
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan responden terbanyak berpendidikan SMA. Angka tersebut hampir sama atau selisih 1% dengan yang berpendidikan S1 yaitu 99 responden (41%). Tingkat pendidikan  Pedagang Eceran Etnis Tionghoa cukup tinggi meskipun dari mereka belum ada yang mencapai pendidikan tingkat doktoral.

Tabel 5.5.
Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan


Tingkat Pendidikan

Frekuensi

Prosentase (%)

SD

5

3 %

SMP

13

5 %

SMA

100

42 %

Diploma

19

7 %

S1

99

41 %

S2

4

2 %

S3

0

0 %

Total

240

100%

Sumber: Tabulasi kuisioner penelitian


6. Agama Yang Dianut

Karakteristik responden berdasarkan agama yang dianut dapat dilihat pada Tabel 5.6 yang menunjukkan ragam agama yang dianut responden. Sebanyak 68 responden (29%) beragama Khonghucu, 57 responden (24%) beragama Kristen, 55 responden (22%) beragama Katholik, 50 responden (20% beragama Budha, 9 responden (4%) beragama Islam dan 1 responden (1%) beragama Hindu. 
Dari data tersebut dapat disimpulkan Pedagang Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya terbanyak beragama Khonghucu.

Tabel 5.6.
Karakteristik Responden Berdasarkan Agama Yang Dianut


Agama

Frekuensi

Prosentase (%)

Khonghucu

68

29%

Budha

50

20%

Katholik

55

22%

Kristen

57

24%

Islam

9

4%

Hindu

1

1%

Total

240

100%

Sumber: Tabulasi kuisioner penelitian


7. Mengenal dan Memahami Etika Confucius

Karakteristik responden berdasarkan pengenalan dan pemahaman etika Confucius dapat dilihat pada Tabel 5.7.

Tabel 5.7.
Karakteristik Responden Berdasarkan Pengenalan dan
Pemahaman Etika Confucius


Mengenal dan Memahami

Frekuensi

Prosentase (%)

Dari teman

29

12%

Dari sekolah

34

14%

Belajar sendiri

27

11%

Tempat ibadah

26

10%

Orang tua

107

45%

Tidak mengerti/tidak memahami Etika Confucius

17

7%

Total

240

100%

Sumber: Tabulasi kuisioner penelitian
Tabel 5.7. menunjukkan responden mengenal dan memahami etika Confucius berasal dari orang tua sebanyak 107 responden (45%), dari sekolah 34 responden (14%), dari teman 29 responden (12%), dari belajar sendiri 27 responden (11%), dari tempat ibadah 26 responden (10%) dan tidak mengerti/tidak memahami etika Confucius sebanyak 17 responden (7%).
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa etika Confucius  dimengerti dan dipahami responden terbanyak melalui pendidikan di rumah, yaitu dari orang tua mereka. 


8. Penerapan Etika Confucius

Karakteristik responden berdasarkan penerapan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada Tabel 5.8.

Tabel 5.8.
Karakteristik Responden Berdasarkan Penerapan Etika Confucius
Dalam Kehidupan Sehari-hari


Menerapkan Etika Confucius

Frekuensi

Prosentase (%)

Ya

210

88%

Ragu ragu

13

5%

Tidak

17

7%

Total

240

100%

Sumber: Tabulasi kuisioner penelitian
Tabel 5.8. menunjukkan ada responden yang tidak memahami etika Confucius, apalagi menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari, yaitu berjumlah 17 responden  (7%).  Namun 210 responden (88%) menyatakan menerapkan Etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari dan hanya 13 responden (5%) yang menjawab ragu-ragu. Dari data tersebut dapat disimpulkan 88% responden menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari.


Sumber dari : disertasi Js. Drs. Ongky Setio Kuncono, MM, MBA, Pengaruh Etika Confucius Terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha dan Kinerja Usaha Pedagang  Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya

Add comment


Security code
Refresh

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Berita Foto Terbaru

Pertemuan SMA Negeri Ploso Jombang 1986

Read more...

Kwan Sing Bio Tuban

Dr. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM. memberikan ceramah di Kwan Sing Bio Tuban

Read more...

Gallery Download

Download Profile BB Cahaya Setia 201-210

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Blackberry, Avatar, dll

 

Latest Comments

Foto Bersama di Kebaktian BoenBio Surabaya 1 Desember 2013

---------------------------

DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA
Bersama DR.Tee Boom Chuan
dari Universiti Tunku Abdul Rahma.

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014
160155
TodayToday51
YesterdayYesterday73
This_WeekThis_Week51
This_MonthThis_Month6397
All_DaysAll_Days160155

Who's Online

We have 8 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com