spocjournal.com

Membina Keluarga Yang Sejahtera Menurut Agama Khonghucu



Oleh : Hartono Tanojo

Dasar Pemikiran UMUM

Definisi sejahtera menurut kamus besar bahasa indonesia yg dikeluarkan oleh balai pustaka departemen pendidikan dan kebudayaan terbitan th 1989 dinyatakan bahwa kata “sejahtera” memiliki pengertian aman, sentosa dan makmur, terlepas dari segala gangguan dan kesukaran.

Sedang upaya untuk mensejahterahkan keluarga, memiliki difinisi dasar adalah segala upaya sebuah keluarga (atau kepala rumah tangga yg bersangkutan) agar anggota keluarganya selalu senantiasa hidup dan berkembang dalam garis kehidupan yg aman, mapan serta makmur.

Kata dasar Kesejahteraan lebih banyak menggambarkan yg lebih jelas makna sebuah keluarga yg terpenuhi segala persyaratan kebutuhan minimal sebuah keluarga seperti keamanan, keselamatan, ketentraman, tercukupkan ekonominya, keharmonisan & keselarasan dg kelompok masyarakat lainnya dan sebagai warga negara serta makhluk sosial lainnya termasuk hidup & merawat keselarasan dg alam sekitarnya yg ditinggali, kesenangan hidup dan kemakmuran dalam batasan2 tertentu yg tidak melanggar hak2 orang2 lain.


Penjelasan Lanjutan

Disini Keluarga sejahtera dapat ditarik garis lurus sebagai tujuan minimal semua makhluk manusia, makanya diperlukan pengertian masing2 individu untuk berupaya didalam mewujudkan kehidupan keluarga yg sejahterah dimana sebuah keluarga hendaknya (dengan dimotori kepala rumah tangganya) untuk hidup harmonis / selaras dan tidak melupakan orang2 yg hidup disekitarnya serata merawat alam yg menopangnya.

Tidak ada pengertian kehidupan keluarga yg sejahtera, namun jika salah satu faktor tidak terpenuhi, maka belum bisa dikatagorikan keluarga yg sejahtera, sebagai contoh : walau kaya raya namun kehidupan sosialnya jelek. Ini akan menjadikan keluarga tersebut tersisihkan. Bagaimana bisa hidup sejahtera, bila setiap keluar dari komunitas rumah, selalu jadi bahan cemoohan atau bahkan hujatan masyarakat sekitar, karena sombong atau tamak, walau kehidupan ekonominya mapan ? Kekayaan bukanlah persyaratan utama yg mutlak sebuah keluarga sejahtera, apalagi, jika cara mendapatkan penghasilan diperoleh secara tidak halal dan merugikan orang banyak. Termasuk juga, type keluarga yg kaya raya namun didalam anggota keluarganya sering bertengkar (tidak rukun), saling memfitnah dan mengadu domba, ini juga tidak dapat dikatagorikan keluarga sejahtera.

Sebaliknya, jika ada keluarga yg hubungannya baik di masyarakat dan bisa harmony dg alam, namun ternyata strata kehidupan ekonominya kurang menguntungkan, pun bisa membuat sebuah keluarga menjadi tidak sejahtera pula, karena ekonomi adalah penopang utama kehidupan dalam berumah tangga, belum tercukupi alias hidup dibawah kemiskinan.

Jadi kesejahteraan sebuah keluarga digambarkan sebagai hubungan internal (kedalam) dan external (keluar) yg sejalan dan tidak timpang (berat sebelah), selalu harmonis, Kedalam , keluarga tsb tercukupkan materi (tidak harus selalu kaya raya), kepala rumah tangga bisa mewujudkan anggota keluarganya aman, selamat, tentram, harmonis, rukun, bahagia. Hubungan keluar , keluarga atau dengan dimotori kepala rumah tangganya dapat mengajak seluruh anggota keluarganya agar bisa hidup harmonis dg tetangga baik didalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta menjaga pula keharmonisan dg alam sekitarnya, termasuk merawat, melindungi serta mengembangkan kearah positif ekosistim yg ada dialam demi sebesar2nya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat dalam arti seluas2nya.


Dasar Keimanan Agama Khonghucu didalam menempuh kehidupan keluarga yang Sejahtera.

Dari pengertian dasar diatas, maka untuk berikutnya akan dikembangkan menjadi 4 bab pengembangan berdasar Keimanan Agama Khonghucu, didalam menciptakan sebuah keluarga yg sejahtera baik internal maupun hubungan keluar (external), karena keselarasan internal dan external harus senantiasa dijaga agar keluarga tersebut menjadi sejahtera seutuhnya baik hubungan antar keluarga kedalam maupun antar keluarga dikomunitas masyarakat lainnya & alam.

Ke 4 kelompok pembahasan tersebut adalah sebagai berikut;

1. Tercukupkan Ilmu Pengetahuan agar mendapatkan lapangan pekerjaan yg memadai, sehingga keluarga tidak terlantar.
2. Mencapai kesuksesan sesuai jalan Suci Thian , mencari kekayaan secara HALAL dan di ridhoi oleh Thian. (halaman 12)
3. Mewujudkan anggota keluarga yg harmonis (selaras).
4. Menuntun segenap anggota keluarga untuk dapat hidup bermasyarakat & bernegara serta menjaga alam seisinya dg benar.


Tercukupnya Ilmu Pengetahuan

Sebelum memulai kehidupan berumah tangga, hendaknya seseorang itu berfikir jauh kedepan, tanpa pendidikan dan keahlian yg memadai , niscaya mustahil untuk membangun rumah tangganya menjadi sejahtera. Tentunya tidak akan mendapatkan lapangan pekerjaan yg menjanjikan untuk meningkatkan taraf penghasilan serta pendapatan keluarga, bila pendidikan yg ditempuh pas2an atau tidak punya keahlian sama sekali.

Pendidikan dan proses belajar diartikan juga pendewasaan pribadi calon kepala rumah tangga sekaligus juga calon ibu agar dapat mendidik anak2nya kelak sesuai dengan norma2 Agama serta adat istiadat yg baik yg ada dimasyarakat sekitar, diluar pendidikan formil di bangku2 sekolah resmi.

Semakin rendah tingkat kependidikan orang tuanya, maka sang anak keturunannyapun tidak akan memperoleh bekal yg baik sehingga si anak juga akan menyepelekan hal pendidikan, sehingga sering terjadi drop out dari bangku sekolah karena faktor ekonomi dan kerja pada usia sangat belia karena harus ikut menanggung ekonomi keluarga.

Pemerintah Republik Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan kesempatan bagi yg tidak mampu untuk menempuh jenjang pendidikan, termasuk sekolah terbuka atau kejar paket A atau semacamnya. Ini harus disambut dg tangan terbuka dan semangat yg tinggi. Hanya kemalasan masing2 individulah yg menghalang2i niatan untuk belajar dg biaya yg murah tsb, artinya menyia2kan kesempatan berharga dan menghancurkan masa depannya sendiri. Banyak orang sukses sekarang, yg dulunya miskin dan setengah hari kerja (part time job), namun, karena punya semangat yg tinggi, akhirnya jadi orang sukses. Kemiskinan bukan penghalang untuk menempuh pendidikan, namun anggaplah sebagai salah satu batu ujian dalam kehidupan ini. Cuma semangat memperbaharui diri yg bisa mengalahkan egonya untuk berjuang dan belajar menempuh cita2 ditengah himpitan ekonomi.

Kecuali pendidikan dalam arti formal misal dibangku sekolah atau kursus, peran orang tua didalam mendidik anak untuk belajar, juga memiliki banyak arti.

Belajar didalam Agama Khonghucu ada beberapa proses, didalam melatih seorang anak untuk maju, proses belajar itu dimulai dg membangkitkan rasa ingin tahu anak sehingga timbulnya keberanian untuk bertanya, kemudian otaknya menjalani proses berfikir, meminta bimbingan yg lebih mengerti / senior untuk membantu menguraikan maknanya serta banyak mencontoh orang2 yg dianggap dapat dijadikan soritauladan dan juga melatih otaknya untuk berproses dari semua hal2 yg belum dimengerti menjadi dimengerti, kemudian meningkatkan keproses dapat menguraikan maknanya dan jalan keluarnya serta belajar lebih lanjut yakni berusaha mempraktekkan dalam kehidupan sehari2 hingga melatihannya berulang2 hingga sempurna atau batas maksimal masing2 kemampuan individu.

Jika anak telah dilatih pada tahap suka belajar, otomatis akan membangun jiwanya menjadi bijaksana dan jika sianak dapat menggunakan maksimal ilmu pengetahuannya untuk membereskan segala tugas yg diembankan kepadanya itu sudah mendekatkan dia pada cinta kasih dan sekaligus mengembangkan rasa tahu malu sehingga dapat berbuat berani bertanggungjawab atas hasil yg dicapainya.

Dengan belajar, seseorang dapat mengembangkan cinta kasihnya sehingga tidak bodoh, melahirkan sikap menyukai kebijaksanaan sehingga tidak kalud pikirannya, menimbulkan sifat dapat dipercaya oleh orang lain sehingga tidak menyusahkan diri sendiri dimanapun dia berada / bertempat tinggal, kemudian timbulnya kejujuran didalam hatinya, sehingga tidak suka menyakiti perasaan / hati orang lain sebab pola berfikirnya telah menjadi matang dan dewasa, selain itu juga dengan belajar, seseorang dapat membina dirinya menjadi berani tapi tidak mengacau, dapat mengontrol sikap kekerasan hatinya menjadi tidak ganas, karena proses belajar itulah yg telah melatihnya untuk berfikir lebih rasional dan panjang lebar sebelum menentukan sesuatu sikap agar tidak merusak nama baiknya dan merusak hubungan dengan orang lain.

Jika proses pendidikan formil di bangku sekolah dijalankan sejajar dg makna belajar yg dimaksudkan didalam Ajaran Suci Agama Khonghucu diatas maka niscaya sebuah keluarga dapat hidup dalam garis kesejahteraan yg mapan.

Mencapai kesuksesan sesuai jalan Suci Thian (Tuhan YME)

Nabi bersabda: “ kaya dan berkedudukan mulia adalah keinginan tiap orang, tetapi bila tidak dapat dicapai dengan jalan suci, janganlah ditepati. Miskin dan berkedudukan rendah ialah kebencian tiap orang, tetapi bila tidak dapat disingkiri dengan jalan suci, Janganlah ditinggalkan (SS IV/5)

Cukong bertanya “seorang yang pada saat miskin tidak mau menjilad dan pada saat kaya tidak sombong, bagaimanakah dia ?” Nabi Khongcu menjawab: “ itu cukup baik, tetapi, alangkah baiknya bila pada saat miskin tetap gembira dan pada saat kaya tetap menyukai kesusilaan (SS I/15) Nabi Khongcu bersabda,” miskin tanpa menggerutu itu sukar, kaya tanpa merasa sombong itu mudah” (SS XIV/10)

Agama apapun melarang umatnya untuk bermatapencaharian (berpenghasilan ) yg haram atau dosa. Termasuk pula didalam Ajaran Agama Khonghucu.

Bagaimana bisa membangun sebuah rumah tangga jika sumber penghasilannya bukan suatu pekerjaan yg halal atau dirahmati oleh THIAN Tuhan YME ?. Sekaya apapun jika harta tersebut bukan dicapai dengan cara yg benar tentunya akan segera melahirkan banyak akibat buruk, baik itu ketidaktenangan didalam menjalani kehidupan (karena takut ditangkap aparat hukum), selalu merugikan orang banyak baik itu dalam modus, pencurian, penipuan , penggelapan, korupsi dlsb.

Bila seseorang kepala rumah tangga melakukan perbuatan yg bertentangan melawan hukum atau melakukan pekerjaan yg dibenci oleh norma2 masyarakat, juga akan menuai konsekuensi dijauhi atau bahkan dicampakkan oleh masyarakat. Belum lagi jika si kepala rumah tangga tertangkap dan menjalani sanksi hukum hingga beberapa tahun, akibatnya akan menelantarkan anggota keluarganya. Ini akan menjadi permasalahan tambahan yg tidak sedikit bagi anggota keluarga yg lain, belum lagi jika si ibu tidak punya lapangan pekerjaan atau anak2 masih kecil2 dan butuh biaya banyak untuk pendidikan dlsb.

Jelas sekali dengan bermatapencaharian yg tidak benar sangat ditentang didalam Agama Khonghucu. Belum lagi efek negative yg berkembang bagi kejiwaan si anak setelah mengetahui bahwa bapak atau orang tuanya berbuat atau bekerja secara memalukan, akan benar benar menghancurkan masa depan sianak karena menanggung malu yg luar biasa.

Bila keadaan sudah sedemikian parah termasuk sampai mematahkan semangat dan cita cita sianak, karena sianak malu setelah tahu pekerjaan dan perbuatan orang tuanya yg tidak benar, tentunya ini berarti menghancurkan pula masa depan anak2nya sekaligus juga mencoreng nama baik keluarga, kalau sudah demikian , apa bisa dikatakan keluarga tersebut keluarga yg sejahtera ?

Walau awalnya, sebelum ketahuan oleh pihak hukum atau masyarakat umum atas segala sepak terjang kebobrokannya, sementara kekayaannya melimpah ruah, juga tidak bisa dikatakan keluarga itu sejahtera, karena keluarga tsb, terutama kepala rumah tangga yg melakukan bermatapencaharian yg tidak benar itu akan selalu dihantui ketakutan, emosi tak terkontrol sehingga mudah marah pada anggota rumah tangga, sering terjadi pertikaian dan kekerasan dirumah tangga karena timbulnya sifat serba salah namun masih senang diperbudak oleh harta yg haram, sehingga keharmonisan, kerukunan, kebahagiaan, keutuhan, dan masa depan semua anggota keluarga, terabaikan jadi nomer ke sekian. Jika sudah demikian, tidak bisa lagi dikatakan keluarga tersebut sejahtera, walau bergelimangan harta yg tak bertuan atau yg diperoleh secara tidak sah.

Maka jauhkanlah rumah tangga dari uang penghasilan yg tidak diridhoi oleh THIAN Tuhan YME, karena akan semakin menyesatkan. Sehingga akan terbentuk keluarga yg sejahtera karena berpenghasilan yang bersih dari dosa.


Mewujudkan anggota keluarga yg harmonis & selaras

Setiap keluarga yg terdiri atas orang tua dan anak memiliki ikatan batin yg cukup dalam dan dekat. Didalam meningkatkan keharmonisan didalam rumah tangga, perlu adanya pendidikan sejak kecil kepada si anak tentang hakekat hidup untuk saling menghormati dan teposeliro , baik dengan kawan seusianya atau bahkan dg orang yg (jauh) lebih tua.

Orangtua mempunyai peran yg teramat penting didalam membangun akhlak dan moral si anak sehingga siap untuk terjun ke masyarakat kelak, minimal berperikehidupan didalam rumah tangganya sendiri.

Kedalam, sianak hendaknya mendapat contoh soritauladan yg baik dari orang tuanya disegala bidang, tanpa orangtua yg dapat menjadi contoh buat anaknya, niscaya mustahil bisa membangun akhlak, cara berfikir, tanggungjawab, dedikasi sianak kearah yg positif dan bahkan dikembangkan.

Nabi Khongcu bersabda “ Seorang kuncu (orangtua yg memiliki sifat susilawan) memberikan pendidikan laku bakti pada anak bukan bermaksud untuk lingkungan keluarga sendiri yg tiap hari dijumpai dan dilihatnya. Namun, agar seseorang (sianak) dapat hormat kepada segenap bapak yg ada didunia ini; mendidik laku rendah hati agar orang dapat hormat kepada segenap kakak yg ada didunia ini; dan mendidik perilaku sebagai menteri agar orang hormat kepada segenap pemimpin yg ada didunia ini”

Pengamalan ditengah masyarakat adalah pengabdian terbesar setelah anak dapat dengan penuh kesadaran mengabdi dan berbakti kepada orangtuanya sendiri, ini yg dinamakan dengan meluaskan kebajikan sempurna, dimana bisa menumbuhkan sianak untuk mengetahui kebajikan yg bersifat universal, dengan lebih dahulu melakukan laku bakti kepada orangtuanya sendiri lalu mengembangkannya ditengah2 masyarakat.

Maka disabdakan oleh Nabi Khongcu selanjutnya; “ bila seorang kuncu dengan laku bakti mengabdi / melayani orang tuanya, maka kesetiaannya boleh untuk pemimpinnya (disuatu negara atau tempatnya bekerja); dengan laku rendah hati melayani kakak, maka kepatuhannya boleh untuk siapapun yg dituakan, baik itu diluar keluarga; bila seseorang selalu mengatur beres rumah tangganya, maka niscaya beres pula untuk mengatur segala jabatan yg dipangkunya (beres & sukses disegala bidang)”

Disini sudah jelas sekali pentingnya pendidikan akhlak dan norma2 kesusilaan bagi sianak termasuk contoh soritauladan dari orang tua. Maka dengan berkembangnya usia si-anak, jika pendidikan moril dan laku bakti diajarkan secara tepat, maka jiwa sianak akan terus berkembang kearah positif seiring meningkatnya usia dan dapat secara positif pula dikembangkan ditengah2 masyarakat setelah sukses menerapkan laku bakti ditengah keluarga terutama kepada ke dua orang tuanya.

Laku bakti ternyata tidak sesempit yg dikira, menurut rasul cingcu, diri ini adalah warisan tubuh ayah bunda, beranikah tidak penuh hormat ? Rumah tangga tidak dibenahi baik2, itu tidak berbakti. Mengabdi kepada pemimpin tidak setia, itu tidak berbakti. Mengemban ssuatu jabatan tidak dilaksanakan denagn sungguh2, itu tidak berbakti. Antara kawan dan sahabat tidak dapat dipercaya, itu tidak berbakti. Bertugas dimedan perang tiada keberanian, itu tidak berbakti. Tidak dapat menyelenggarakan lima perkara ini, itu akan memberi aib (memalukan, nama buruk, celaan, cemoohan) kepada orang tua. Beranikah orang tidak sungguh2 ? (Lee Ki XXIV:17)

Maka selanjutnya dipertegas oleh Nabi Khongcu dlm sabdanya: “ Pada jaman dahulu, raja yang terang budi mengabdi kepada ayahnya dengan laku bakti; demikianlah ia cerah batin mengabdi kepada THIAN (Tuhan YME); ia mengabdi kepada ibundanya dengan laku bakti; demikianlah ia cermat mengabdi kepada bumi. Antara yang tua dan muda dapat saling bersesuaian, maka teraturlah hubungan atasan dan bawahan. Dengan kecerahan batin mengadi kepada Thian dan dengan cermat mengabdi bumi, maka Tuhan Yang Maha Roh (Kwi Sin) hadir memberkati. Maka biar seorang kaisar, ia wajib ada rasa hormat-sujud; didalam berkata ingat kepada ayahnya, wajib ingat akan kakaknya. Ia wajib melakukan hormat-sujud di bio leluhur (cong bio)nya agar tidak lupa kepada orangtuanya; ia membina diri, hati2dalam perbuatan dan takut menodai nama leluhurnya. Di Bio leluhur melakukan sujud-hormat kepada Tuhan Yang Maha Roh, maka laku bakti dan rendah hatinya akan menyertai cahaya gemilang Tuhan Yang Maha Roh (Sien Bing Kong) mencapai dan menembusi ke 4 penjuru lautan; tiada yg tidak tertembusi, Dari Barat sampai timur, Dari utara sampai selatan, tiada yg tidak bermaksud tunduk kepada NYA” (Su King IIIi.10.6).

Dari ke 2 ayat diatas saja sudah benar2 digambarkan dengan jelas dan nyata kekuatan laku bakti itu sanggup menggetarkan hati Tuhan YME sehingga mendapatkan berkah yg melimpah tanpa batas atas perbuatan laku baktinya tersebut.

Lebih lanjut dikatakan laku bakti tidak hanya bisa dilakukan hanya untuk anggota keluarga saja, laku bakti bakti dapat dikembangkan ditengah2 masyarakat yg tentunya akan memberi nilai positive kepada nama baik orang tuanya, karena dianggap sukses memberikan pendidikan aklak dan moral yg bagus kepada anaknya.

Jika laku bakti ini berjalan dengan alami namun terarah, dilatih dengan benar dan dilaksanakan dg penuh kesabaran, oleh segenap & seluruh anggota keluarga dengan dimotori / disoritauladani seorang kepala rumahtangga yg bijaksana & berwawasan luas, niscaya keluarga tersebut akan diterangi oleh cahaya kemuliaan Tuhan YME sehingga semakin menambah keluarga itu semakin mantab mengarungi bahtera dan berbagai cobaan kehidupan didunia ini.

Bila laku bakti sudah dicapai tingkatan sedemikian tinggi, maka keluarga itu senantiasa mampu hidup digaris kehidupan yg dikatakan telah mencapai kesejahteraan lahir dan batin, serta memiliki kepuasan/kebahagiaan luar dalam yg tak terukurkan, namun tetap pada jalan Suci Tuhan YME berikut mendapatkan ridho dan pahala dari Tuhan YME yang tak terhingga.


Pedoman hidup bermasyarakat

Ada satu pedoman pokok hidup yg utama didalam Agama Khonghucu didalam membina pola peri kehidupan di masyarakat, yakni teposeliro , berani menimbang & punya tenggang rasa. Apa yang tidak ingin dilakukan / terjadi pada diri sendiri, jangan dilakukan pada orang lain.

Selanjutnya, ada 5 pedoman tambahan , didalam mengembangkan cinta kasih ditengah2 masyarakat yakni Dapat berlaku hormat kepada siapa saja ditengah2 masyarakat sehingga tidak terhina hidupnya dan seluruh anggota keluarganya, yakni memiliki kelapangan hati didalam menghadapi berbagai peristiwa atau permasalahan yg terjadi baik ditengah keluarga atau masyarakat, sehingga mendapatkan simpati dari masyarakat umum, sifat dapat dipercaya baik ucapan dan tindakannya, dapat dipertanggung jawabkan secara positive, sehingga mendapat kepercayaan orang banyak, memiliki semangat kerja yg tinggi, cekatan dan penuh dedikasi/ tanggungjawab penuh, sehingga keberhasilan tiap pekerjaannya selalu berguna dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak serta tidak mementingkan diri sendiri, kemudian timbulnya sifat suka bermurah hati kepada siapapun sehingga banyak orang menaruh hormat kepadanya, sehingga tanpa dirasa semakin lama masyarakatpun merasa dihargai lebih. Artinya yg bersangkutan telah menanamkan kepercayaan lebih pd orang tsb sehingga banyak orang tidak ragu untuk menuruti petunjuk atau perintahnya sekalipun.

Jika hubungan antar keluarga disebuah daerah dapat terjalin secara harmonis, maka sebuah keluarga dapat dikatakan sejahtera, karena salah satu persyaratan yakni terbinanya hubungan antar tetangga jelas dapat menjaga seseorang atau sebuah keluarga untuk hidup secara normal ditengah2 masyarakat serta tercapainya keluarga sejahtera yg dapat diterima ditengah masyarakat tanpa ada keluh gerutu atau pergunjingan masyarakat sekitarnya. Kehidupan ini laksana sempurna sekali, karena hubungan kedalam harmonis sedang hubungan keluar juga harmonis, maka dikatakan telah terpenuhi kriteria keluarga sejahtera.


Kesimpulan

Telah dijelaskan diatas bahwa keharmonisan sebuah keluarga ditunjang dengan keharmonisan diluar rumah tangganya pula, sehingga terasa lengkap dan sempurna. Karena kata “sejahtera” memiliki pengertian aman, sentosa dan makmur, terlepas dari segala gangguan dan kesukaran, termasuk didalamnya bagaimana menciptakan kerukunan & saling mengasihi, dapat diikuti uraian ayat berikut ini;

Nabi Khongcu bersabda “ untuk mendidik rakyat rukun saling mengasihi , tiada yg lebih baik daripada laku bakti, untuk mendidik rakyat mematuhi tiada yg lebih baik daripada laku rendah hati; untuk mengubah kebiasaan, tiada yg lebih baik daripada musik; dan, untuk melegakan atasan dan mengatur rakyat, tiada yg lebih baik daripada kesusilaan. Perilaku susila itu tidak lain adalah pengembangan rasa hormat dan sungguh2. Maka dengan menghormat seorang bapak, anak2nya akan bergembira; dengan menghormati seorang kakak, adik2nya akan senang; dan dengan menghormati seorang pemimpin/raja, menteri2nya akan senang. Yang dihormati satu orang, tetapi dapat menyenangkan berlaksa orang; yg dihormati hanya sedikit, yg bergembira banyak. Inilah jalan suci yg perlu itu”.

Selanjutnya, laku bakti sempurna yg wajib dilakukan seorang anak akan berkembang sejalan dengan kedewasaan berfikir & usianya dan ini akan terbawa terus hingga dalam kehidupan nyata ditengah masyarakat kelak hingga dewasa dan berumah tangga.

Nabi Khongcu bersabda, “Demikianlah seorang anak berbakti mengabdi/ melayani orang tuanya. Dirumah, sikapnya sungguh hormat, didalam merawatnya, sungguh2 berusaha memberi kebahagiaan; saat orang tua sakit, ia sungguh2 prihatin; didalam berkabung, ia sungguh2 bersedih; dan didalam menyembahyanginya, ia melakukan dengan sungguh2 hormat. Orang yg dapat melaksanakan lima perkara ini, ia benar2 boleh dinamai pengabdian kepada orang tua. Orang yg benar2 mengabdi kepada orangtuanya, saat berkedudukan tinggi, tidak menjadi sombong; saat berkedudukan rendah, tidak suka mengacau, dan, didalam hal2 yg remeh, tidak mau berebut. Berkedudukan tinggi berlaku sombong, niscaya akan mengalami keruntuhan, berkedudukan rendah suka mengacau niscaya dihukum dan, didalam hal2 remeh suka berebut, niscaya sering berkelahi. Bila orang tidak dapat menghilangkan tiga sifat ini, meski tiap hari memelihara orangtuanya dengan menyuguhi samsing (macam2 daging), ia tetap seorang anak yg tidak berbakti’.

Jadi didalam menciptakan keluarga yg sejahtera harus dibangun dan dimulai dari dalam rumah tangga sendiri. Jika setahap demi setahap memperoleh kemajuan, hendaknya dikembangkan ditengah masyarakat.

Jelas tidak mungkin ada satu keluarga sejahtera bisa hidup tanpa perasaan tidak enak / tidak tega, ditengah2 keluarga lain yg tingkat kesejahteraannya berbeda atau jauh lebih rendah atau jauh dari standart hidup layak & kecukupan atau keluarga yg tidak sejahtera dalam arti seluas2nya, termasuk didalam pengertian keluarga yg tidak rukun, saling memfitnah dan tidak harmonis.

Membangun keluarga sejahtera itu adalah tanggungjawab kita bersama. Pertama2 adalah membangun pondasi rumahnya sendiri agar didalam keluarga seorang kepala rumah tangga itu dapat membina segenap anggota keluarganya untuk memelihara keutuhan hubungan persaudaraan seutuhnya, kemudian memiliki penghasilan yg pantas dan halal, lalu mengembangkan norma2 yg baik didalam perikehidupan ditengah masyarakat serta tercukupnya jenjang pendidikan yg memadai buat anak2 agar mendapat bekal yg cukup jika dewasa kelak.

Ke empat persyaratan tersebut tidak bisa dipisahkan karena saling berkaitan erat jika seorang kepala rumah tangga atau sebuah keluarga ingin disebut telah mencapai taraf kehidupan yg sejahtera dalam tolak ukur Agama Khonghucu.

Memang sebuah tanggungjawab yg berat jika seseorang ingin membangun sebuah keluarga sejahterah, tidak hanya bicara tercukupnya materi atau kekayaan semata tetapi juga dipikirkan halal tidaknya cara memperoleh harta kekayaan tersebut, ini sebuah tanggungjawab yg maha besar kehadirat Tuhan YME yg harus dipertanggungjawabkan kelak.

Setelah itu masih dikejar lagi dengan kemampuan dan pendewasaan seorang kepala rumah tangga didalam mendidik, membesarkan, mengayomi, mengarahkan, segenap anggota agar bisa berkecimpung dan berkiprah secara aktif dan positif ditengah masyarakat, tidak hidup menyendiri, tidak tahu menahu dg kesulitan tetangganya.

Kriteria sejahtera bukan hanya standar tercukupnya materi, namun juga keseimbangan terhadap memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan yg layak, tanpa ancaman drop out karena kesulitan dana, kemudian pendewasaan dan kesiapan mental & akhlak didalam berperikehidupan bermasayarakat, bernegara dan berbangsa.

Kesejahteraan juga bermakna menumbuh kembangkan sikap yg lebih dewasa didalam laku bakti, dimulai laku bakti kepada orang tuanya sendiri kemudian dikembangkan kepada orang yg dituakan ditengah2 masyarakat.

Laku bakti, bermatapencaharian yg benar, semangat belajar, teposeliro kepada sesama adalah beberapa praktek nyata didalam kehidupan sehari2 ditengah masyarakat dari Kesusilaan (Lee).

Didalam keimanan Agama Khonghucu, berdasar Kitab Suci Lee Ki buku ke 7 Lee-un bagian IV ttg gerak perkembangan kesusilaan, dikatakan Kesusilaan (Lee) itu pasti berpokok kepada Yang Maha Esa dan terpilahkan jadi THIAN (Sang Pencipta) dan bumi (alam ciptaan) yang menggerakkan sifat Iem dan yang, yang menjadikan perubahaan ke 4 musim, yang menghadirkan nyawa dan roh (kwi Sin) dan turun sebagai firman.

Pengaturan ini semua dari Tuhan. Sesungguhnya Kesusilaan (Lee) itu berpokok kepada Thian (Tuhan YME), bergerak dan mengena bumi dan hadir pada segala perkara. Perubahan mengikuti waktu/musim, serasi bergantung pada keadaannya.

Dikenakan bagi manusia, disebut merawat watak sejatinya. Didalam gerak pelaksanaannya berwujud persembahan, ketenagaan / karya, budi bahasa dan prilaku, didalam makan dan minum, didalam peraturan pengenaan topi, penikahan, perkabungan, ibadah-persembahyangan, lomba memanh dan mengendarai kereta, audiensi dan misi persahabatan.

Maka, kesusilaan dan kebenaran (Lee Gi) itu adalah unsur dasar besar kemanusiaan, maka, dapat dipercaya didalam pembicaraan dan membina kerukunan didalam pergaulan itu adalah laksana bersatunya kulit dan daging, dan bertautnya otot dan tulang, yang menguatkan tubuh.

Demikianlah, hal itu menjadi unsur dasar besar didalam merawat yg hidup , mengantar yg mati dan melayani nyawa dan roh. Hal itu pula menjadi jalur mencapai jalan suci THIAN Tuhan YME dan serasi mengikuti perasaan manusia.

Maka Nabi memahami bahwa LEE itu tidak boleh lepas dari diri. Hancurnya negara, musnahnya keluarga, semuanya itu pasti karena orang telah lebih dahulu meninggalkan LEE, maka LEE bagi manusia, adalah sebagai ragi bagi arak, menjadikan orang berwatak kuncu (susilawan) kian baik dan besar (kian tebal kebajikannya karena melaksanakan LEE) dan menjadikan orang yg berwatak rendah budi kian buruk dan kecil (kian tipis kebajikan karena meninggalkan LEE).

Pemimpin / Raja yg bersifat NABI, membina kebenaran sebagai pengungkit, LEE (kesusilaan) sebagai dasar untuk mengatur perasaan manusia. Maka, perasaan manusia adalah sawah bagi Raja / Pemimpin yg bersifat NABI, membina LEE itulah cara melukunya, memajukan kebenaran itulah cara menanamnya, didirikan lembaga pendidikan itulah cara menyianginya, menjadikan cinta kasih sebagai pokok itulah cara menunainya dan menggunakan latihan musik untuk memberi kesentosaan / kelestarian.

LEE (kesusilaan) itu adalah perwujudan daripada kebenaran. Bila suatu peraturan sudah ditegakkan menyatu dengan kebenaran, meski LEE itu belum ada pada jaman raja purba dulu, namun perilaku mereka dapat diterima karena berdasarkan kebenaran. Kebenaran itu memberi kemampuan untuk membedakan permasalahan; memberi batas didalam cinta kasih. Bila telah menyatu dengan kemampuan itu dan dibahan jalinannya dengan cinta kasih, maka orang yg berhasil dalam hal itu akan menjadi kuat.

Cinta kasih itulah pokok kebenaran, LEE mengikuti cinta kasih tsb; maka orang yang berhasil dalam hal itu akan dihormati.

Maka mengatur negara / keluarga / masyarakat tanpa menggunakan LEE adalah seperti membajak tanpa menggunakan luku. Membangun Lee tidak berpokok kepada kebenaran adalah seperti meluku tetapi tidak menanaminya.

Menegakkan kebenaran tanpa membahasnya dalam lembaga pendidikan adalah seperti bertanam tanpa menyianginya. Membahasnya didalam lembaga pendidikan tetapi tidak menyatu dengan cinta kasih, itu seperti menyianginya tetpi tidak menuainya.

Menyatu didalam cinta kasih tetpi tidak disentosakan didalam musik, adalah seperti menuai tetapi tidak memakannya. Mendapatkan kesentosaan didalam musik tetapi tidak dapat berhasil didalam mengikuti / mematuhinya, adalah seperti memakannya tetapi tidak dapat menyehatkan badannya.

Bila keempat anggota badan itu lurus, dan kulit itu licin dan penuh, maka orang itu dalam keadaan sehat. Bila antara orangtua dan anak penuh kasih, kakak dan adik dalam kerukunan, suami dan istri harmonis, itulah sehatnya keluarga.
Bila menteri besar memegang teguh hukum, menteri kecil berjiwa bersih, penjabat menjalankan tugasnya dengan baik2 , pemimpin dan pembantu lurus saling membantu, itulah sehatnya negara.

Bila Kaisar (Tiancu) menjadikan kebajikan sebagai keretanya, para pembesar saling menegakkan hukum, para pegawai dengan memegang sikap dapat dipercaya saling menyempurnakan, rakyat beratus marga dengan kerukunan saling melindungi, itulah sehatnya dunia dibawah langit ini, itulah yg dinamai Kepatuhan Agung.

Terselenggaranya kepatuhan Agung menjadikan lestari sejahterahnya perawatan kepada yg hidup, pengantaran kepada yg mati, dan dilayaninya / disembahyanginya nyawa dan roh. Betapapun besar tertimpa permasalahan, tidak akan menimbulkan hambatan.

Semuanya akan terselenggara dengan tiada kekeliruan dan urusan kecil2 akan terselenggara dengan tidak sia2; betapapun dalam permasalahan akan dapat dipahami, betapapun padat-lebat kendala terangkai akan didapati ruang tembusan, semua akan berjalan berurutan dengan tidak saling membahayakan. Demikianlah puncak kepatuhan itu.

Maka, bagi pribadi yang cerah dan dapat memahami kepatuhan ini, kemudian akan mampu selamat meski dikelilingi bahaya, maka, perbedaan dalam LEE (kesusilaan), tidak peduli besar, tidak peduli kecil, semuanya karena berkait dengan perasaan dan menyatu menghadapi bahaya (tidak mementingkan diri sendiri dan mampu bahu membahu bekerjasama menyelesaikan permasalahan seberat apapun).


Penutup

Semoga dengan karya tulis ini, dapat memberikan bimbingan moril kepada segenap umat pemeluk Agama Khonghucu didalam membina sebuah keluarga yg Sejahtera lahir dan batin, baik untuk kehidupan intern / didalam rumah tangga ataupun perikehidupan external, yg berhubungan langsung dengan masyarakat luar, diluar keluarga sendiri, baik sebagai anggota masyarakat ataupun didalam berbangsa dan bertanah air.

Tiada gading yg tak retak, tegur sapa sangatlah diharapkan penulis agar isi materi ini dapat terus ditingkatkan dimasa2 mendatang demi kebaikan bersama.

Makalah ini ditulis dalam rangka :


Lomba Karya Tulis populer
Keluarga Sejahtera Perspektif Agama

Diselenggarakan oleh:
FAPSEDU
Forum Antarumat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera & Kependudukan
(www.fapsedu.com)
Sekretariat: Jl Permata no 1 Halim Perdanakusuma Jaktim
Email: fapsedu.yahoo.com

IPKB
(Ikatan Penulis Keluarga Berencana)
(www.ipkbnews.com)

Bekerjasama dengan
Departemen Agama & BKKBN (www.bkkbn.go.id)

Add comment


Security code
Refresh

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Berita Foto Terbaru

Pertemuan SMA Negeri Ploso Jombang 1986

Read more...

Kwan Sing Bio Tuban

Dr. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM. memberikan ceramah di Kwan Sing Bio Tuban

Read more...

Gallery Download

Download Profile BB Cahaya Setia 211-220

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Blackberry, Avatar, dll

 

Latest Comments

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014
4942
TodayToday461
YesterdayYesterday501
This_WeekThis_Week3345
This_MonthThis_Month4942
All_DaysAll_Days4942

Who's Online

We have 6 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com