spocjournal.com

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

 (Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017)

Tanggal 01 September 2017 bertempat di Hotel Aston Manado di ruang Asoka Lt. 2 telah diadakan talkshow interaktif dengan tema: Sembahyang Leluhur: Tradisi atau Agama? Acara ini digagas oleh Pakin Manado karena mengetahui saya akan berkunjung ke Manado dalam rangka HUT mama saya yang ke-94 tahun.
Tanggal 30 Agustus ketika sudah berada di kota Manado, terlebih dulu saya mengadakan pertemuan singkat dengan beberapa pemuda Khonghucu Manado yang terdiri dari Ivana, Santi, Fabio dan Inggrid guna membicarakan persiapan acara yang baru pertama kali akan digelar di kota Manado ini.

Saat yang ditunggupun tiba, ketika menapakkan kaki di ruang Asoka lt. 2 hotel Aston, di dalam ruangan sudah terpasang spanduk seperti yang bisa kita lihat di foto, lalu acara dimulai tepat pukul 15.30 sampai pukul 18.00 wita.

Sembahyang Jing He Ping bermakna sembahyang / penghormatan untuk kedamaian para arwah yang biasanya dilaksanakan setiap  bulan 7 Kongzi Li / Imlek / Yinyang Li yang jatuh sekitar bulan 8 atau bulan 9 penanggalan Masehi. Sembahyang Jing He Ping ini telah lama dilakukan oleh umat agama Khonghucu (dahulu dikenal dengan nama Rujiao), yaitu sejak zaman baginda Cheng Tang (sekitar abad 18 sM).

Mengapa sembahyang Jing He Ping dan sembahyang rebutan diadakan pada bulan 7 Kongli / Kongzi Li / Imlek ?
Di dalam Kitab Yi Jing / Yak King / I Ching / Kitab perubahan, bulan 7 Kongzi Li ini disimbolkan / terwakili pada hexagram nomor 12.

Bila mengamati perpaduan trigram / Gua yang membentuk hexagram 12 ini, maka akan tampak bahwa Qian dan Kun bergerak saling menjauhi.

Tersurat dalam Sabda dan Babaran, langit dan bumi tidak berjalin, hilangnya hubungan antara langit dan bumi . Karena Qian yang mengandung sifat Yang dan Kun yang mengandung sifat Yin saling menjauhi, tiada jalinan, terjadi kekosongan, maka tiada keharmonisan, sehingga timbul kekacauan yang berarti hambatan.  Dengan kata lain, bulan 7 Kongzi Li ini, disebut sebagai bulan kosong, yaitu saat dimana sifat Yin dan Yang pada bumi melemah pada titik yang paling nadir / ekstrim.

Hal ini menyebabkan pembatas antara alam Yin (non fisik) dan alam Yang (alam fisik / duniawi) menjadi tidak jelas / tegas batasannya, berada pada titik yang paling lemah. Unsur-unsur Yin (arwah) ini menjadi bebas berkeliaran di alam Yang / alam duniawi.

Maka, pada bulan 7 Kongzi Li ini umat Khonghucu mengadakan upacara sembahyang bagi para arwah terlantar yang tidak mendapat perhatian dari keluarga atau keturunannnya, atau dapat dikatakan para arwah yang menderita, dengan harapan arwah-arwah ini menjadi tenang, dan tidak sampai mengganggu kehidupan manusia. Diharapkan arwah-arwah ini perlahan-lahan mampu melepas segala ikatan dan keinginan duniawi sehingga rohnya dapat dengan tenang kembali kepada Tian.
Di dalam Kitab Yi Jing / Kitab perubahan tersurat bahwa kehidupan adalah abadi, yaitu kehidupan di alam Xian Tian (alam rohani / non fisik) maupun kehidupan di alam Hou Tian (alam duniawi / alam fisik).

Bahwa roh yang berasal dari Tian/ Tuhan di alam Xian Tian, dititahkan turun ke alam Hou Tian, lahir sebagai manusia dan setelah meninggal nantinya akan kembali ke alam Xian Tian.

Kelahiran adalah pintu masuk ke dalam dunia, maka sewajarnya kedatangannya disambut gembira dengan upacara suka cita (saat bayi umur 1 bulan) dan kematian adalah pintu keluar dari dunia, maka sewajarnya pula perpisahan ini diantar dengan upacara duka.

Adalah menjadi harapan umat Khonghucu, kelak setelah meninggal rohnya dapat kembali ke haribaan Kebajikan Tian di alam Xian Tian, namun kadang kala oleh adanya keinginan-keinginan yang belum tersampaikan/ terselesaikan atau bahkan oleh adanya nafsu-nafsu duniawi yang masih melekat, menjadikan arwahnya terikat, terbebani nafsu keinginannya sehingga rohnya tidak dapat kembali ke alam Xian Tian.

Maka, menjadi tugas kewajiban keturunannya untuk bersembahyang, mendoakan dan bila perlu membacakan ayat-ayat suci dengan harapan agar arwahnya dapat segera tenang, mampu melepas ikatan-ikatan duniawi sehingga akhirnya dapat kembali kepada Yang Mula, yakni Tian Yang Maha Esa.

Oleh karena adanya arwah-arwah yang tidak disembahyangi oleh keturunannnya oleh karena sudah berpindah keyakinan, putus turunan atau alasan lainnya, maka umat Khonghucu melaksanakan persembahyangan pada akhir bulan 7 Kongzi Li ini sebagai bentuk kepedulian terhadap arwah-arwah yang menderita ini, dengan harapan rohnya menjadi tenang, mampu melepas ikatan duniawinya dan akhirnya mampu kembali ke alam Kebajikan Tian.

Tanya jawab

1. Apakah Sembahyang Jing He Ping Tradisi atau Agama ? Bila Agama ada tertulis di ayat/kitab mana?

Jawab: Sembahyang Jing He Ping adalah Agama. Agama Khonghucu sangat  memperhatikan  kesusilaan,  baik untuk yang hidup maupun yang sudah meninggal. Setiap upacara memakai Li/Kesusilaan, demikian pula dengan upacara kematian. Bagi umat Ru (Khonghucu) sembahyang merupakan hal yang pokok/akar dari pada Agama. Agama Khonghucu menuntun umatnya untuk senantiasa hormat dan menjalankan ibadah sebagaimana mestinya, yang terutama berlandaskan pada Kitab Suci Lee Ki/Li Ji (禮記, Catatan Kesusilaan).

2. Manakah yang lebih dahulu kita sembahyang, kepada leluhur sendiri ataukah kepada arwah umum?

Jawab: Memasuki awal bulan tujuh Kongzili sampai dengan pertengahan bulan, kita bersembahyang kepada arwah leluhur sendiri, sedangkan bersembahyang kepada arwah umum dilaksanakan pada pertengahan sampai akhir bulan tujuh Kongzili, dalam rentang tanggal itulah kita dapat memilih tanggal yang cocok untuk pelaksanaannya.

3. Perlukah kita mengundang dahulu arwah leluhur sebelum kita mengadakan Sembahyang Jing He Ping ?

Jawab: Sebaiknya sehari sebelum kita adakan sembahyang kita mengundang arwah keluarga yang telah meninggal, kita sampaikan kalau besok akan melaksanakan persembahyangan.

4. Bagaimana cara mengundang? dengan menyebut nama padahal mungkin kita tidak mengetahui siapa leluhur yang sebelumnya?

Jawab: Dengan menyebut garis keturunan marga dari orang tua kita.

5. Apakah sajian yang kita persembahkan harus yang mewah?

Jawab: Dalam Kitab Agama Khonghucu Nabi Kongzi bersabda bahwa tidak perlu upacara yang mewah dan menyolok tetapi lebih baik sederhana,  dari pada meributkan perlengkapan upacara lebih baik ada rasa sedih yang benar (Baca kitab Lunyu III: 4)

6. Mengapa harus memakai Sansheng (Hokkian: Samseng) ? Apakah ada tertulis di kitab atau hanya tradisi saja?

Jawab: Sansheng adalah makanan sajian, menyajikan makanan adalah juga salah satu bentuk pernyataan kasih anak yang berduka atau bersembahyang. Ikan dan daging itu beraroma sedap maka mempersembahkan itu menunjukkan cinta kepada leluhur (Kitab Liji VIII.II:2.17). Menyajikan Sansheng itu tidak harus, tetapi jika anak-anak mempunyai kemampuan untuk menyajikan tentunya lebih baik.

7. Apakah dalam keadaan berduka memang tidak boleh bersembahyang di Kelenteng karena sebagian orang menganggapnya sial? Apakah itu benar ada di kitab atau hanya tradisi saja?

Jawab: Ketika berduka tentunya kita tidak ada keinginan untuk keluar rumah, hal ini dianggap oleh sebagian besar masyarakat bahwa memang tidak boleh keluar rumah apalagi berkunjung ke rumah orang atau ke Kelenteng, padahal tidak demikian adanya. Pada saat berduka bahkan kita ingin berdoa ke tempat ibadah agar lebih kuat menghadapi kenyataan, maka tentu tidak ada larangan untuk itu.

8. Membakar kertas perak, uang-uangan arwah apakah tradisi atau agama? mohon penjelasan!

Jawab: Membakar kertas Perak (Yinzhi) adalah simbol bakti dan kasih anak kepada leluhurnya. Dalam Kitab Liji IIB.I:1.44 tersurat bahwa:  “Nabi Kongzi mengatakan bahwa orang yang membuat Mingqi (benda-benda tiruan untuk upacara kematian) adalah orang yang mengerti Jalan Suci perkabungan....”
Sedangkan dalam Kitab Liji IIB.I:1.45 dikatakan: “Benda-benda itu dinamai Mingqi karena (orang yang telah meninggal dunia) itu diperlakukan sebagai Shenming…..”

9. Sejak kapan umat Ru/Khonghucu mengenal upacara kematian dan pemakaman?

Jawab: Agama Khonghucu yang dikenal dengan nama Rujiao sudah mengenal upacara kematian dan pemakaman sejak Nabi Shen Nong (2838 SM-2698SM)

 10. Apabila keturunan kita telah berpindah keyakinan bagaimana dengan nasib kami, siapakah yang akan menyembahyangi bila kita meninggal?

Jawab: Apabila generasi penerus / anak atau saudara kita telah berpindah keyakinan, kita tidak usah takut tidak ada yang akan menyembahyangi kita. Makin setempatlah yang akan melaksanakan kewajiban tersebut.

 11. Masa berkabung sampai tiga tahun apakah tradisi atau agama?

Jawab: Ini adalah seruan Agama. Perihal masa berkabung banyak diatur dalam Kitab Liji/Kitab Kesusilaan dari Umat Khonghucu (Misal lihat Kitab Liji XXXV dan Liji XLVI:9). Nabi Kongzi bersabda bahwa masa tiga tahun barulah manusia lepas dari pengasuhan orang tuanya, maka berkabung 3 tahun itu sudah teradatkan atau menjadi kebiasaan umum (Kitab Lunyu XVII:21). Namun dalam Kitab Liji diatur pula persembahyangan perkabungan lainnya yang harus dilakukan pada masa-masa sebelum 3 tahun (Lihat Kitab Liji XIXB).

 12. Apakah perhitungan hari baik untuk pemakaman  itu tradisi atau agama?

Jawab: Perhitungan hari baik untuk pemakaman adalah warisan leluhur kita yang perlu diikuti. Dalam Kitab Xiao Jing Bab XVIII tersurat bagaimana tempat untuk pemakaman perlu dicari dan dikaji (bu, 卜) dengan baik. Kata “kaji” (bu, 卜) Ini dapat dimaknai juga termasuk bagaimana menetapkan waktu/hari yang baik.

 13. Apa bedanya Shanzai dan Aizai ? Apakah juga terdapat pada Kitab Suci Agama Khonghucu?

Jawab: Shanzai bermakna “semoga demikianlah yang sebaik-baiknya” sehingga dipakai untuk pengakhiran doa jenis biasa (bukan doa dukacita) Frasa Shanzai ini dapat kita baca dalam Kitab Liji IIA.II:17.
Aizai bermakna “sungguh menyedihkan” atau “betapa sedihnya” (lihat kitab Mengzi IVA:10.3) sedangkan kata Wuhu (baca Liji IIA.III:44) merupakan kata seruan yang menyatakan ketakutan atau kesedihan yang juga berarti mati, maka dipakai untuk mengakhiri doa duka cita umat Khonghucu, atau juga seruan akhiran suatu kondisi dalam kesusahan.

 14. Bagaimana dengan Penghormatan dengan Jugong atau membungkukkan badan dihadapan peti jenazah?  Berapa kali?

Jawab: Kebiasaan di DKI Jakarta, jika sembahyang dipimpin oleh lembaga agama maka hormat Jugong di hadapan jenazah setelah doa disampaikan, maupun dalam doa sembahyang Jing He Ping tetap dilakukan sebanyak 3x. Namun jika oleh pribadi yang bersembahyang ke hadapan jenazah atau altar Jing He Ping, maka akan melakukan 2x Jugong saja. Memang faktanya terdapat perbedaan kebiasaan suatu daerah/litang dengan daerah/litang lain.

 15. Apakah Agama Khonghucu mengenal After Life?

Jawab: Ya,  Agama Khonghucu meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian/after life, keyakinan akan adanya roh-roh para leluhur. Apabila tidak mengenal hal sesudah kematian tentunya tidak perlu lagi mengadakan upacara perkabungan maupun persembahyangan kepada leluhur. Dari Kitab Li Ji/Kitab Kesusilaan XXI.II:1 kita dapati Zai Wo berkata : “Saya sudah mendengar nama Gui (Nyawa) dan Shen (Roh), tetapi belum mengerti apa yang dimaksudkan dengan sebutan itu. “Nabi bersabda, “Qi (semangat) itulah wujud berkembangnya dari pada Shen, Po (badan jasad) itulah wujud berkembangnya dari pada Gui. Berpadu harmonisnya Gui dan Shen, itulah tujuan tertinggi ajaran Agama. “Semuanya yang dilahirkan pasti mengalami kematian; yang mengalami kematian pasti pulang kepada tanah; inilah yang berkaitan dengan Gui. Tulang dan daging melapuk di bawah, yang bersifat Yin (negatif) itu raib menjadi tanah di padang belantara. Tetapi Qi berkembang memancar di atas cerah gemilang; diiringi asap dan bau dupa yang semerbak mengharukan. Inilah sari daripada beratus zat; perwujudan dari pada Shen. “Dengan dasar sari daripada zat ini, ditegakkan hukum yang sempurna. Firman Gemilang tentang Gui dan Shen  (Mingming Gui dan Shen) bagi kaum berambut hitam ini’ menjadikan beratus masyarakat memuliakan, berlaksa rakyat tunduk”

Kesimpulan: Dari berbagai pertanyaan yg kami coba jawab di atas dan terhadap pertanyaan: apakah Sembahyang Leluhur itu Tradisi atau Agama? Maka jelas bahwa persembahyangan leluhur yang kita lakukan selama ini, itu adalah bagian dari ajaran dan keimanan Agama Khonghucu, karena semuanya tertulis di Kitab Suci Agama Khonghucu khususnya Kitab Suci Li Ji  (禮記, Catatan Kesusilaan), serta juga disinggung di dalam Kitab Sishu (四書). Jadi jelaslah bahwa Sembahyang Leluhur itu adalah suatu kegiatan yang sangat penting dalam agama Khonghucu.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:254 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:895 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:116 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:241 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:136 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:406 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:299 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:235 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:177 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:720 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 193 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com