spocjournal.com

Duan Wu (Peh Cun) Di Babel

Persiapan peribadatan Duan Wu diselenggarakan di kelenteng Shen Mu Miao, Tanjung Bunga Kota Pangkal Pinang bakal seru karena akan dihadiri oleh Gubernur, Ketua Matakin Pusat dan berbagai kalangan termasuk FKUB.

Malam ini Ketua Matakin pusat Bapak Drs.Uung Sendana L Linggaraja,SH beserta Kabit Agama Dr.Ws.Ongky, Ws. HT Saputra,SH ,Ws.Mulyadi Liang,M.Ag sudah berada di Pangkal Pinang.

Perjamuan malam di Cave PASGAR CAFE yang dihadiri juga oleh pejabat FKUB Belitung dan berencana besok pagi mengikuti sekaligus meninjau acara yang akan dihadiri ribuan umat Khonghucu.

Nampak Ketua FKUB Belitung Drs.H.Ramansyah ,M.Si (Islam) bapak Yongky(Khonghucu), Pauzi (Khonghucu) dan Badia (Kristen).

30 Mei 2017, pukul 11 para undangan sudah mulai memasuki acara. Nampak hadir Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung H. Erzaldi Rosman Djohan dengan di sambut langsung oleh team barongsai.

Selesai upacara sembahyang dilakukan pembagian air suci dan siraman air suci oleh para rohaniwan kepada umat.

Surat doa Duan Wu (Twan Yang)

Kehadiran Tian, Tuhan Yang Maha Besar ditempat Yang Maha Mulia dengan bimbingan Nabi Kong Fu zi, dipermuliakanlah Semoga beroleh kami kekuatan dan kemampuan menjunjung tinggi kebenaran dan menjalankan kebajikan.

Puji dan syukur kami naikkan bahwa Tian, Tuhan Yang Maha Esa berkenan kami berhimpun pada saat Twan Yang, hari suci yang melambangkan rakhmat yang berlimpah atas dunia dan penghidupan ini.

Semoga upacara suci ini meneguhkan Iman kami hidup di dalam kebajikan, suci didalam pikiran, ucapan maupun perbuatan, menghayati betapa Maha Besar, Maha Kasih Tian atas segenap makhluk.

Berkembanglah rasa syukur serta teguh menerima kenyataan hidup. Tumbuhlah kesadaran hormat kepada Tian dan siap menegakkan Firman didalam penghidupan, sehingga boleh menerima berkah sentosa dan bahagia.
Pada saat suci ini kami kenangkan pula Khut Gwan patriot suci yang telah mengabdikan diri sepanjang hidupnya bagi Jalan Suci dan kebajikan serta rela mengorbankan diri demi iman dan setianya kepada Firman Tian dan cinta kasihnya kepada sesama.
Semoga semangat suci itu tumbuh dan subur berkembang pula di dalam diri kami masing-masing.

Sembah dan sujud ke hadirat Tian, semoga jauhlah hati dari segala kelemahan, dari keluh gerutu kepada Tian, dari sesal penyalahan kepada sesama, dapat tekun belajar hidup benar, dari tempat yang rendah ini menuju tinggi menempuh Jalan Suci. Teguhlah Iman, yakin Tian senantiasa Penilik, Pembimbing dan Penyerta kehidupan ini.
Shanzai.

Dalam pidatonya Gubernur mengatakan pentingnya kebinekaan.Gubernur meminta para rohaniwan Matakin untuk selalu memberikan kesejukan kepada umatnya. Sehingga negeri ini tidak mudah diadu domba dan menjadi negeri yang berwarna warni nan indah yakni sesuai semboyannaya Negeri serumpun sebalai.

Makna Hari Twan Yang

Hari Raya Twan Yang ialah hari suci bersujud ke hadirat Tian Yang Maha Esa yang telah dilakukan umat Khonghucu atau Ru Jiao sejak jaman purbakala. Disini kita lebih mengenalnya dengan nama perayaan Go Gwee Chee Go atau Hari Raya tanggal 5 bulan V Khongcu Lik.

Twan artinya lurus, terkemuka, terang, yang menjadi pokok atau sumber, dan Yang artinya sifat positif atau matahari, jadi Twan Yang ialah saat matahari memancarkan Cahaya paling keras. Hari Raya ini dinamai pula Twan Ngo. Ngo artinya saat antara jam 11.00 s/d 13.00 siang, jadi perayaan ini tepatnya ialah pada saat tengah hari. Pada saat-saat demikian pada hari Twan Yang, matahari benar-benar melambangkan curahnya rakhmat Tuhan. Cahaya matahari ialah sumber kehidupan, lambang rakhmat dan kemurahan Tian atas manusia dan segenap makhluk dunia.

Maka saat Twan Yang ialah saat untuk kita bersuci, bermandi, bersujud menyampaikan sembah dan syukur kepada-Nya. Pada saat Twan Yang kita rasakan sebagai saat paling besar Tian melimpahkan rakhmat karunia-Nya, khususnya pada saat Ngo, saat tengah hari. Oleh karena itu timbul kepercayaan pada saat Twan Ngo segala makhluk dan benda mendapat curahan karunia kekuatan paling besar. Orang-orang percaya bahwa rumusan obat-obatan yang dipetik pada saat itu akan besar khasiatnya. Karena letak matahari tegak lurus, orang percaya telur ayam pun bila ditegakkan saat itu akan dapat berdiri tegak lurus. Hari raya ini disebut pula dengan nama pek Cun yang artinya merengkuh Dayung atau Beratus Perahu. Dinamai demikian karena pada hari itu sering diadakan perlombaan dengan banyak perahu. Tentang perlombaan dengan perahu di sungai-sungai itu dikaitkan dengan suatu peristiwa pada hari Twan Yang ada jaman Cian Kok (jaman setelah wafat Nabi Kong Zi) di negeri Cho yang kisahnya sebagai berikut :

Dinasti Ciu pada jaman Cian Kok atau jaman Peperangan (403 seb.M – 231 seb.M) sudah tidak berarti lagi sebagai negara pusat, pada jaman itu ada tujuh negara besar, ketujuh negeri itu ialah negeri Cee, Yan, Han, Thio, Gwi dan Chien. Negeri Chien ialah negeri yang paling kuat dan agresif, maka enam negeri yang lain itu sering bersekutu untuk bersama-sama menghadapi negeri Chien.

Khut Gwan ialah seorang menteri besar dan setia dari negeri Cho, beliau seorang tokoh yang paling berhasil menyatukan keenam negeri itu untuk menghadapi negeri chien. Karena itu orang-orang negeri Chien terus-menerus berusaha menjatuhkan nama baik Khut Gwan, terutama berhadapan raja negeri Cho, Cho Hwai Ong. Di negeri Cho ternyata banyak pula menteri-menteri yang tidak setia seperti Kongcu Lan, siangkwan Taihu, Khien Siang dan lain-lain. Dengan bantuan orang-orang itu, Tio Gi, seorang menteri negeri Chien yang cerdik dan licin berhasil meretakkan hubungan Khut Gwan dengan raja negeri Cho. Khut Gwan dipecat dan berantakanlah persatuan ke enam negei itu. Cho Hwai Ong bahkan terbujuk oleh janji-janji yang menyenangkan, mau datang ke negeri Chien. Di sana ia ditawan dan menyesali perbuatannya sampai mangkatnya. Raja negeri Cho yang baru, Cho Cing Siang Ong, kini kembali memberikan kepercayaan kepada Khut Gwan. Ke enam negeri dapa dipersatukan kembali sekalipun tidak sekokoh dahulu. Pada tahun 293 SM negeri Han dan Gwi yang melawan negeri Chien dihancurkan dan dibinasakan 240.000 orang, oleh peristiwa ini Khut Gwan kembali difitnah akan membawa negeri Cho mengalami nasib seperti negeri Han dan Gwi. Cho Cing Siang Ong ternyata lebih buruk kebijaksanaannya daripada raja yang marhum, ia tidak saja memecat Khut Gwan, bahkan kepadanya dijatuhi hukuman buang ke daerah danau Tong Ting, dekat sungai Bik Loo. Ditempat pembuangan ini Khut Gwan hampir-hampir tidak tahan hanya bekat kebijaksanaan kakak perempuannya yang Khut Su, beliau dapat ditenteramkan dan rela menerima keadaannya itu. Meski demikian beliau tidak selalu dapat serasi, maklum beliau seorang bangsawan negeri Cho sehingga tidak dapat melupakan tanggung jawab kepada negara dan leluhurnya, karena itu Khut Gwan sering merasa kesepian dan timbul kejemuan akan suasana kehidupannya.

Dalam saat demikian itu, beliau beroleh kenalan seorang nelayan, yang ternyata seorang pandai yang menyembunyikan diri. Orang itu menyembunyikan nama aslinya, hanya menyebut dirinya Gi Hu (Bapak Nelayan). Dengan Gi Hu ini Khut Gwan mendapatkan kawan bercakap meski pandangan hidupnya tak sejalan. Gi Hu berprinsip meninggalkan hidup bermasyarakat yang buruk keadaannya, sedang Khut Gwan biarpun tidak mau tercemar oleh keserakahan dan kekotoran dunia tetapi tetap berharap dapat mengembangkan kembali Jalan Suci Nabi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat. Demikianlah Khut Gwan sangat akrab dengan nelayan itu. Ketentraman Khut Gwan itu ternyata dihancurkan oleh berita hancur binasanya ibu kota negeri Cho, tempat bio leluhurnya itu, yang diserbu orang negeri Chien.

Hal ini menjadikan Khut Gwan yang telah lanjut usia itu merasa tiada arti bagi hidup pribadinya. Setelah dirundung kebimbangan dan kesedihan, beliau memutuskan menjadikan dirinya yang telah tua itu biarlah menjadi tugu peringatan bagi rakyatnya akan peristiwa yang sangat menyedihkan atas tanah air dan negerinya itu, semoga bangkit semangat rakyatnya menegakkan kebenaran dan mencuci bersih aib yang menimpa negerinya. Ketika itu kebetulan ialah saat hari suci Twan Yang, beliau mendayung perahunya ke tengah-tengah sungai Bik Loo, dinyanyikan sanjak-sanjak ciptaannya yang telah dikenal rakyat sekitarnya, yang mencurahkan rasa cinta tanah air dn rakyatnya. Rakyat banyak tertegun mendengar semuanya itu. Pada saat itu beliau sampai ke tempat yang jauh dari kerumunan orang, beliau menerjunkan diri ke dalam sungai yang deras aliran dan dalam itu. Beberapa orang yang mengetahuinya segera berusaha menolongnya, tetapi hasilnya nihil, jenazahnyapun tidak diketemukan. Seharian Gi Hu, nelayan kawan Khut Gwan itu, dengan perahu-perahu kecil mengerahkan kawan-kawannya mencari, hasilnya sia-sia belaka.

Pada tahun ke dua saat Twan Yang, ketika kembali orang merayakan hari suci Twan Yang, Gi Hu ialah membawa sebuah tempurung bambu berisi beras dituangkan ke dalam sungai untuk mengenang kembali dan menghormati Khut Gwan. Banyak orang lalu mengikuti jejak Gi Hu itu. Demikianlah kematian Khut Gwan tidak sia-sia, telah mampu menggerakkan hati rakyat kepada cita yang luhur, bahkan telah mengubah sikap Gi Hu yang telah mengingkari duniawi itu. Inilah kemenangan pengorbanan Khut Gwan.

Pada tahun-tahun berikutnya, kebiasaan mempersembahkan beras di dalam tempurung bambu iu diganti dengan kue dari beras ketan yang dibungkus daun bambu, yang disini kita kenal dengan nama bak cang dan kue cang. Diadakan perlombaan-perlombaan perahu yang dihiasi gambar-gambar naga (liong cun), semuanya mengingatkan usaha mencari jenazah Khut Gwan pecinta tanah air, setiawan dan pecinta rakyat it. Di dalam dirinya tercermin jiwa besar dan suci, yang satya kepada Firman Tian, menggemilangkan kebajikan dan mengasihi sesama manusia. Demikianlah tiap hari raya Twan Yang selalu diadakan pula peringatan untuk Khut Gwan, seorang yang berjiwa mulia dan luhur, berjiwa kuncu dari negeri Cho itu.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:203 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:292 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:351 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:293 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:163 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:131 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:148 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:167 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Bersama Setiadi Joyosentoso

04-03-2018 Hits:588 Berita Foto

Bersama Setiadi Joyosentoso

Setiadi Joyosetoso bos PT. Surya Putra Barutama yang beralamat di jalan Kedurus 23 adalah sosok seorang bisnisman yang merangkak dari...

Read more

Pasar Turi Tradisionil Singkawang

03-03-2018 Hits:305 Berita Foto

Pasar Turi Tradisionil Singkawang

Pagi ini rombongan menuju pasar tradisionil. Pasar tersebut tidak seperti pasar lainnya yang kelihatan jorok. Di dekat pasar ada bubur...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 8 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com